Berandasehat.id – Penderita narkolepsi sering mengalami rasa kantuk yang luar biasa di siang hari dan dalam beberapa kasus, kehilangan kekuatan otot secara tiba-tiba yang bersifat sementara saat dalam keadaan sadar, yang disebut katapleksi.

Bukan karena semata kurang tidur, narkolepsi adalah kondisi neurologis kronis yang ditandai dengan gangguan pada pengaturan siklus tidur-bangun.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa katapleksi sering terjadi ketika penderita narkolepsi mengalami emosi positif, seperti kegembiraan, rasa geli, atau sukacita. Namun, proses neurofisiologis yang memicu hilangnya kekuatan otot secara tiba-tiba selama interaksi sosial ini masih belum dipahami sepenuhnya.

Untuk menguak msteri ini, para peneliti di Harvard Medical School baru-baru ini melakukan studi yang bertujuan untuk lebih memahami mengapa penderita narkolepsi sering mengalami katapleksi saat menjalani interaksi sosial yang menyenangkan.

Temuan studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bahwa oksitosin—hormon yang dilepaskan oleh sel-sel saraf selama ikatan sosial dan interaksi yang menyenangkan—dapat berkontribusi pada munculnya katapleksi di saat-saat yang menyenangkan tersebut.

“Selama bertahun-tahun, penderita narkolepsi melaporkan bahwa katapleksi sering kali dipicu selama interaksi sosial, terutama saat tertawa atau menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga,” ujar Carrie E. Mahoney, penulis utama makalah tersebut, dikutip MedicalXpress.

“Meskipun ada laporan yang konsisten mengenai hal ini, kami tidak memahami mengapa situasi sosial menjadi pemicu yang begitu kuat. Karena oksitosin adalah neuropeptida yang terlibat dalam perilaku sosial dan pembentukan ikatan, kami bertanya-tanya apakah hormon ini mungkin berperan dalam episode-episode tersebut,” imbuhnya.

Alasan interaksi sosial picu katapleksi

Tujuan utama dari penelitian yang dilakukan oleh Mahoney dan rekanadalah untuk menentukan apakah oksitosin berperan dalam katapleksi yang dipicu oleh interaksi sosial serta mengidentifikasi sirkuit otak yang menjadi jalur kerjanya.

Untuk itu, mereka memulai dengan mempelajari model tikus narkolepsi yang sudah mapan—lebih tepatnya, tikus yang kekurangan oreksin, yaitu molekul pembawa pesan kimiawi kecil menyerupai protein (peptida) yang diproduksi oleh neuron di hipotalamus.

Tikus yang kekurangan peptida ini menunjukkan perilaku dan gejala yang menyerupai kondisi pada pasien manusia penderita narkolepsi.

Para peneliti mengamati tikus-tikus tersebut saat berinteraksi dengan sesamanya. Mereka juga memberikan senyawa yang mencegah oksitosin berikatan dengan reseptornya di otak tikus guna menentukan apakah hormon tersebut berperan dalam katapleksi yang dipicu oleh interaksi sosial.

“Kami memberikan agonis reseptor oksitosin kepada tikus dan mendapati bahwa katapleksi meningkat; namun, jika kami memblokir reseptor oksitosin sebelum pemberian agonis tersebut, peningkatan katapleksi itu pun dapat dicegah,” jelas Mahoney.

“Pendekatan menyeluruh ini setidaknya mendukung fakta bahwa oksitosin berperan dalam memicu katapleksi. Kami kemudian berupaya menentukan apakah terdapat sirkuit otak spesifik yang dapat menjelaskan di mana dan bagaimana oksitosin memengaruhi munculnya katapleksi.”

Selanjutnya, para peneliti juga memanipulasi aktivitas neuron penghasil oksitosin serta neuron yang merespons oksitosin di otak tikus.

Hal ini memungkinkan mereka untuk mengetahui kontribusi neuron-neuron tersebut terhadap sirkuit saraf yang sebelumnya telah dikaitkan dengan munculnya katapleksi.

Temuan studi menunjukkan bahwa oksitosin berkontribusi terhadap katapleksi yang dipicu oleh interaksi sosial, dan bahwa sirkuit saraf yang mendasari katapleksi akibat interaksi sosial tersebut tumpang tindih dengan sirkuit katapleksi yang dipicu oleh pengalaman yang memberikan imbalan pada model tikus narkolepsi.

Secara keseluruhan, hasil ini mengisyaratkan bahwa berbagai pengalaman emosional positif dapat bermuara pada jaringan saraf yang sama, yang pada akhirnya memicu katapleksi. (BS)