Berandasehat.id – Anak dengan mata juling (strabismus) rentan mengalami perundungan dan rendah diri karena merasa berbeda dengan anak lain.

Strabismus pada anak bukan hanya masalah penampilan, tetapi dapat menyebabkan mata malas (ambliopia), hilangnya penglihatan tiga dimensi (stereoskopis), penglihatan ganda, hingga masalah kesehatan mental akibat perundungan di lingkungan.

“Selain memengaruhi fungsi penglihatan, strabismus juga dapat berdampak secara psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan, sedangkan pada orang dewasa dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, serta peluang dalam lingkungan profesional,” terang Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng dalam temu media sekaligus peluncuran Pusat Operasi Mata Juling di Jakarta, Senin (10/8).

Strabismus merupakan kondisi ketika satu mata melihat satu objek, namun mata lain menyimpang dengan pergeseran (deviasi) yang dapat mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.

Mata juling tak bisa diabaikan karena dapat mengganggu kerja kedua mata, persepsi kedalaman, dan perkembangan fungsi penglihatan pada anak.

Mata juling memerlukan pemeriksaan dokter mata segera karena tidak bisa membaik sendiri. Dengan kata lain, tidak ada penyembuhan alami untuk strabismus, kondisi mata yang benar-benar tidak sejajar memerlukan intervensi medis aktif.

Ilustrasi bayi dengan mata juling

Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics menyampaikan, penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia atau mata malas, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai.

Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim ahli, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi sesuai indikasi medis.

“Dalam penanganan strabismus, setiap pasien dapat memiliki penyebab, kondisi penglihatan, dan kebutuhan terapi yang berbeda,” tutur Prof. Tjahjono.

“Karena itu, pasien dan keluarga bukan hanya membutuhkan pemeriksaan atau tindakan, tetapi juga rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan medis yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.”

Dia menambahkan, keberhasilan penanganan strabismus tak hanya dilihat dari perbaikan posisi mata, tetapi juga dari meningkatnya fungsi penglihatan dan koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.

Kesempatan sama, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus menekankan pentingnya deteksi dini strabismus pada anak.

“Deteksi dan pemeriksaan strabismus (mata juling) sejak dini penting untuk menentukan penyebab serta penanganan yang tepat, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak,” ujarnya.

Deteksi dini dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea di kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video.

Namun, temuan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk menilai posisi mata, ketajaman penglihatan, fungsi penglihatan binokular, dan risiko ambliopia.

Terkait tindakan terhadap mata juling, keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh, sedapat mungkin dicapai penglihatan binokular tunggal.

“Sebelum melakukan tindakan, kami perlu menilai pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, serta kondisi kesehatan pasien,” terang Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics.

Apabila operasi dibutuhkan, perencanaannya disusun secara individual (sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien) dan disertai pemantauan sesudah tindakan secara berkesinambungan.

“Penanganan ini relevan bagi anak untuk memfasilitasi perkembangan penglihatan, serta bagi pasien dewasa yang mengalami penglihatan ganda akibat perubahan posisi mata sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari,” tandasnya.

Tak semua strabismus mudah dikenali

Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi). Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung, sedangkan exotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah luar.

Pergeseran mata ke atas disebut hypertropia, sementara pergeseran ke bawah disebut hypotropia.

Sebagian pasien juga dapat mengalami pola kombinasi atau perubahan arah yang lebih kompleks.

Selain berdasarkan arah deviasi, strabismus dapat dikenali berdasarkan pola kemunculannya, antara lain:

1. Strabismus manifest atau nyata, yaitu ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan dapat muncul terus-menerus.

2. Strabismus latent atau tersembunyi, yaitu kecenderungan mata bergeser (berdeviasi) yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.

3. Strabismus intermittent atau hilang-timbul, yaitu mata juling yang hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya ketika anak lelah, mengantuk, melamun, sakit, atau kehilangan fokus.

4. Strabismus alternating atau bergantian, yaitu ketidaksejajaran yang dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.

DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society) memgungkap strabismus tersembunyi/ strabismus latent tidak selalu mudah dikenali.

Diskusi penanganan mata juling sekaligus peresmian sekaligus peluncuran Pusat Operasi Mata Juling RS JEC @ Menteng (dok. Berandasehat)

“Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak fokus, lalu tampak bergeser saat lelah atau melalui foto dan rekaman video,” terangnya.

Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang.

“Bila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia,” terangnya.

Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan, terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.

“Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa,” tandas Dr. Lely. (BS)