Berandasehat.id – Bagi orang dengan gaya hidup aktif atau atlet, salah satu jenis cedera lutut yang paling sering terjadi adalah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL), yaitu robekan pada salah satu ligamen utama penyangga sendi lutut.
Umumnya setiap orang yang aktif bergerak dengan intensitas tinggi memiliki risiko mengalami cedera ACL.
Menurut dr. Christian Silas, Sp.OT, (K) AIFO-K, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah – Puri Indah, bukan hanya atlet profesional, cedera ACL juga dapat terjadi pada siapa saja, tak terkecuali pegiat olahraga rekreasional.
“Cedera ini terjadi ketika seseorang melakukan perubahan arah yang mendadak atau mendarat dengan posisi yang tidak tepat. Cedera ACL dapat terjadi akibat gerakan atau beban yang tiba-tiba pada lutut,” ujar dr. Christian dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Beberapa kondisi yang dapat memicu cedera antara lain gerakan memutar lutut secara tiba-tiba, pendaratan yang salah setelah melompat, berhenti mendadak saat berlari cepat, tabrakan atau benturan langsung, kelelahan otot dan kurang pemanasan dan faktor anatomi tubuh.
“Mungkin belum banyak yang tahu bahwa wanita berisiko lebih tinggi mengalami cedera ACL dibandingkan pria karena faktor anatomi tubuh,” imbuhnya.
Menggunakan sepatu yang tidak sesuai dengan aktivitas juga bisa memicu cedera lutut.
Lutut berperan penting dalam mobilitas pergerakan tubuh. Karenanya, cedera pada area ini harus ditangani segera.
Penegakan diagnosis cedera ACL dilakukan melalui beberapa tahap, yakni wawancara medis, pemeriksaan fisik untuk menguji tingkat kestabilan lutut.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang untuk memastikan derajat keparahan atau kemungkinan adanya gangguan lain pada lutut, salah satunya dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Berdasarkan derajat keparahannya, cedera ACL dibagi menjadi:
Derajat 1 (ringan): Serat ligamen mengalami peregangan berlebih, tetapi struktur dasarnya masih cukup stabil dan utuh.
Derajat 2 (sedang): Robekan parsial atau sebagian pada ligamen. Lutut mulai terasa longgar atau goyah.
Derajat 3 (berat/total): Ligamen putus total atau terlepas dari tulang. Lutut kehilangan stabilitas secara total.
Lebih lanjut dr. Christian menyampaikan, penanganan cedera ACL dapat dilakukan melalui dua metode utama, yaitu tanpa bedah dan bedah. “Pilihan penanganan bergantung pada derajat keparahan cedera, usia, aktivitas, dan kondisi masing-masing pasien,” bebernya.
Penanganan bukan bedah dilakukan untuk pasien dengan cedera ringan (derajat 1 atau 2), pasien usia lanjut, atau individu dengan gaya hidup yang kurang aktif.
Pilihan penanganan tanpa bedah mencakup fisioterapi, alat penyangga (knee brace), dan terapi pengobatan. “Konsumsi obat pereda nyeri atau antiradang sesuai resep dokter,” cetusnya.
Adapun tindakan pembedahan atau rekonstruksi ACL dianjurkan untuk pasien dengan robekan total (derajat 3), atlet, orang yang aktif berolahraga, atau pasien dengan kondisi lutut yang tidak stabil.
“Rekonstruksi ACL dilakukan dengan prosedur artroskopi, yakni pembedahan minimal invasive menggunakan alat teropong kecil untuk mengganti ligamen yang rusak dengan jaringan cangkok (graft), guna mengembalikan stabilitas dan fungsi anatomis sendi lutut,” beber dr. Christian.
Sebelum menjalani operasi, pasien biasanya menjalani fisioterapi pra-operasi atau prehabilitasi untuk mempersiapkan kondisi otot dan gerak lutut.
Dalam proses rekontruksi, dokter akan mengambil jaringan yang digunakan sebagai cangkok (graft), yang dapat berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri (autograft), seperti quadriceps, hamstring, tendon patella, tendon ankle, maupun dari donor luar (allograft).
Selanjutnya, dokter kemudian membuat saluran kecil (terowongan) pada tulang paha dan tulang kering untuk memasukkan graft baru pada posisi anatomis ACL yang mengalami cedera.
Graft kemudian difiksasi atau dikunci pada tulang menggunakan sekrup khusus agar tetap stabil.
Ligamen buatan: nyeri minimal pulih lebih cepat
Lebih lanjut dr. Christian mengungkap, selain menggunakan graft dari jaringan tubuh sendiri atau donor, terdapat pula pilihan menggunakan artificial ligament, yaitu ligamen buatan berbahan sintetis dari polietilen khusus yang dipakai untuk menggantikan ligamen asli yang mengalami cedera.
“Artificial ligament dirancang menyerupai kekuatan mekanik ligamen asli manusia untuk menstabilkan sendi dan mengembalikan mobilitas lutut,” terangnya.
Ligamen buatan bisa menjadi salah satu pilihan pada kondisi tertentu, terutama ketika pasien membutuhkan pemulihan yang lebih cepat, kondisi jaringan tubuh kurang memadai, atau pada operasi revisi.
Ada sejumlah keunggulan dari penggunaan ligamen buatan dibandingkan dengan jaringan tubuh pasien antara lain tidak butuh sayatan tambahan untuk pengambilan jaringan, sehingga meminimalkan nyeri dan kelemahan sementara di area jaringan.
Selain itu, waktu tindakan lebih cepat sekitar 30-60 menit karena tidak ada proses pengambilan jaringan dari tubuh pasien. “Artificial ligament punya kekuatan yang lebih tinggi dan konsisten, serta waktu pemulihan lebih cepat,” tandas dr. Christian.
Dia menekankan, pemulihan pasca rekonstruksi ACL dengan artificial ligament berlangsung lebih cepat dan hanya terdiri dari 4 tahap.
“Meskipun tahapan pada 12 minggu pertama serupa dengan rekonstruksi jaringan sendiri, pasien sudah dapat langsung melakukan latihan kelincahan sekaligus persiapan kembali berolahraga jauh lebih awal, yaitu mulai bulan ke-3 hingga ke-6 dan seterusnya,” ujarnya.
Artificial ligament tidak perlu diganti secara berkala alias bersifat permanen. Penggantian diperlukan hanya jika terjadi kerusakan atau robekan kembali akibat trauma atau kecelakaan baru.
Baik pada rekonstruksi dengan jaringan sendiri maupun ligamen buatan, waktu kembali berolahraga atau beraktivitas normal kembali ditentukan berdasarkan evaluasi kekuatan dan fungsi lutut oleh dokter spesialis ortopedi dan fisioterapis.
“Konsultasikan kondisi pasien dengan dokter spesialis ortopedi konsultan sports injury agar penanganan dan program pemulihan yang dijalani sesuai dengan kebutuhan serta target aktivitas harian,” pungkasnya.

Tips cegah cedera ACL
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera ACL, antara lain dengan memperkuat otot kaki, paha, dan otot inti (core).
Otot paha depan (quadriceps) membantu meredam benturan, otot paha belakang (hamstrings) dapat menyeimbangkan kestabilan sendi lutut.
Sementara otot core dapat menjaga postur dan keseimbangan tubuh.
Selain itu, untuk mencegah cedera ACL lakukan langkah berikut:
1. Latihan rutin dengan melakukan squat, lunge, dan glute bridge sebanyak 2–3 kali seminggu
2. Perbaiki teknik mendarat atau mengubah arah saat bergerak.
3. Latih koordinasi gerak dan keseimbangan kaki secara berkala.
4. Kurangi risiko saat pivot, yaitu memutar lutut secara tiba-tiba saat kaki menjadi tumpuan utama.
5. Sebelum berolahraga, rutin lakukan pemanasan dinamis dan menggunakan perlengkapan yang sesuai, seperti menggunakan sepatu olahraga yang sesuai dengan jenis lapangan. (BS)