Berandasehat.id – Telah menjadi kesepakatan umum obesitas/kegemukan terutama diklasifikasikan menggunakan BMI (Indeks Massa Tubuh), yaitu ukuran berat badan terhadap tinggi badan yang memberikan informasi terbatas mengenai apakah kelebihan lemak benar-benar memengaruhi kesehatan seseorang.

Selama ini, tingkat BMI memainkan peran sentral dalam menentukan kelayakan dan prioritas untuk bedah metabolik-bariatrik, operasi pada lambung yang membantu penurunan berat badan dan menangani kondisi kesehatan seperti diabetes tipe 2.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam JAMA Network Open menemukan adanya variasi yang mencolok dalam beban penyakit, mencakup jumlah dan tingkat keparahan penyakit, serta risiko terkait operasi pada orang-orang yang dipertimbangkan untuk menjalani bedah metabolik-bariatrik, meskipun mereka memiliki BMI serupa.

Namun, dengan meninjau data klinis dari ribuan kandidat bedah bariatrik dan menerapkan definisi obesitas yang baru, para peneliti dapat lebih memahami kondisi kesehatan dasar mereka. Hal ini memiliki implikasi penting bagi perawatan pasien dan penentuan prioritas operasi di masa depan.

Definisi baru ungkap perbedaan yang sebelumnya tidak terlihat

Dipimpin oleh Profesor Francesco Rubino, ketua bidang bedah metabolik dan bariatrik di King’s College London, para peneliti meninjau data klinis retrospektif dari 2.316 kandidat bedah di empat pusat spesialis, King’s College Hospital di Inggris serta pusat-pusat layanan di Prancis, Spanyol, dan Brasil.

Mereka menerapkan definisi obesitas yang baru: obesitas klinis, di mana terdapat bukti jelas bahwa kelebihan lemak (adipositas) menyebabkan kerusakan organ; dan obesitas praklinis, di mana fungsi organ tetap terjaga meskipun terdapat kelebihan adipositas.

Dari seluruh kandidat bedah tersebut, 73,8% mengalami obesitas klinis dan 26,2% mengalami obesitas praklinis. Meskipun memiliki BMI yang serupa, pasien dengan obesitas klinis memiliki risiko terkait operasi dan risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi. Mereka juga memiliki risiko kematian secara keseluruhan yang lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa pembedaan antara obesitas klinis dan praklinis mengungkap informasi penting mengenai status kesehatan dan risiko kandidat bedah yang tidak dapat ditangkap oleh BMI semata.

“Studi ini menunjukkan bahwa pembedaan antara obesitas klinis dan praklinis memiliki makna klinis, bahkan pada kandidat bedah dengan tingkat BMI yang sangat tinggi, karena BMI saja tidak dapat memberi tahu kita siapa yang memiliki penyakit aktif,” ujar Rubino, penulis senior sekaligus ketua bidang bedah metabolik dan bariatrik di King’s College London.

Kini sangat penting bagi studi bedah dan registri data di masa depan untuk melaporkan secara sistematis status obesitas klinis atau praklinis pasien, sehingga aspek keamanan, efektivitas, dan efektivitas biaya dari tindakan bedah dapat ditafsirkan dalam konteks klinis yang tepat.

Kerangka kerja di luar BMI

Pada tahun 2025, Komisi The Lancet Diabetes & Endocrinology mengenai Obesitas Klinis mengusulkan kerangka kerja diagnostik baru.

Kerangka ini membedakan antara obesitas klinis—kondisi dengan bukti nyata bahwa kelebihan lemak (atau adipositas) menyebabkan disfungsi organ—dan obesitas praklinis, yaitu kondisi saat fungsi organ masih terjaga namun risiko kesehatan di masa depan meningkat.

Dalam studi terbaru, para peneliti menemukan bahwa perbedaan status penyakit ini tidak tercermin pada nilai BMI. Sebagai contoh, di pusat layanan kesehatan Inggris, angka BMI tercatat sekitar 47,5 pada pasien dengan obesitas klinis dan 48,5 pada pasien dengan obesitas praklinis.

Namun, pasien dengan obesitas klinis berusia sekitar 10 tahun lebih tua dan memiliki risiko kematian, penyakit kardiovaskular, serta komplikasi pasca-operasi yang jauh lebih tinggi.

Para peneliti berpendapat bahwa bagi pasien dengan obesitas klinis, operasi pada dasarnya merupakan penanganan terhadap penyakit yang sudah nyata terjadi. Di sisi lain, bagi pasien dengan obesitas praklinis, tujuan utamanya mungkin lebih pada upaya mengurangi risiko kesehatan di masa depan.

Memahami perbedaan ini dapat membantu klinisi dalam merencanakan operasi, serta dalam menyeleksi dan menentukan prioritas kandidat pasien bedah. (BS)