Berandasehat.id – Bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup, obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia. Jika tak ditangani dengan tepat, obesitas punya dampak kesehatan sangat serius dalam jangka panjang.

“Dulu jaringan lemak itu dianggap sebagai jaringan penunjang tapi ternyata jaringan inj menghasilkan substrat-substrat atau zat-zat yang menyebabkan peradangan, karena melepaskan adipokin,” ujar Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) di acara ‘Berani Bicara Berat Awali dengan Langkah yang Tepat’ yang dihelat di PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) di Jakarta, baru-baru ini.

Adipokin adalah jenis protein atau hormon khusus yang dibuat dan dilepaskan oleh jaringan lemak tubuh. Zat ini membantu mengatur rasa lapar, peradangan, kekebalan tubuh, dan cara tubuh mengolah energi atau metabolisme.

Obesitas membuat jaringan lemak meradang dan menghasilkan lebih banyak adipokin jahat yang memicu diabetes serta penyakit jantung. “Penyandang diabetes tipe 2 punya adipokin jelek,” terangnya.

Obesitas bukan cuma bicara soal berat badan, namun juga komposisi lemak. Obesitas masif umumnya semua tubuh gemuk, sedangkan obesitas sentral umumnya ditandai dengan perut buncit meskipun mungkin badan kurus.

“Laki-laki perlu waspada jika lingkar perutnya di atas 90 cm dan wanita di atas 80 cm, itu artinya obesitas sentral, yang meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke,” terang Prof. Dante.

Obesitas merupakan risiko kardiometabolik yang harus ditangani karena dapat menyebabkan penyakit vaskular/penyakit pembuluh darah. “Kalau dihitung dari sindrom metabolik, orang yang obesitas punya sindrom metabolik lebih banyak,” terangnya.

Sindrom metabolik adalah sekumpulan kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan—seperti perut buncit, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, serta lemak darah yang tidak normal. Kondisi ini sangat berbahaya karena meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Obesitas telah menjadi masalah global, termasuk Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan obesitas dialami oleh 23,4% orang dewasa di Indonesia, atau hampir 1 dari 4 orang dewasa.

Prevalensi obesitas pada perempuan mencapai 31,2%, hampir dua kali lipat dibandingkan 15,7% pada laki-laki. Kondisi ini menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan sekaligus menimbulkan beban sosial dan ekonomi.

Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis dan genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis yang mendasari, hingga faktor lingkungan. Obesitas juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Di Indonesia, obesitas masih kerap dipandang sebagai persoalan tanggung jawab pribadi dan dikaitkan dengan kurangnya disiplin diri atau pilihan gaya hidup yang kurang baik.

Persepsi tersebut dapat memperkuat stigma sosial dan membuat individu enggan mencari dukungan klinis maupun penanganan medis yang tepat.

Stigma terkait berat badan juga dapat memberikan dampak yangsignifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan perilaku kesehatan seseorang.

Obesitas bukan kelebihan berat badan biasa

Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), menyampaikan tubuh punya mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan. Karenanya, pencapaian penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan.

“Penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,” ujar Prof. Yunir.

Menurutnya, obesitas tidak bisa disamakan dengan kelebihan berat badan biasa, khususnya timbunan lemak sentral atau lemak di rongga perut (lemak visceral).

“Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di area lain karena dapat menghasilkan zat yang dapat memicu peradangan. Itu yang harus kita atasi bagaimana mengurangi komponen lemak di rongga perut itu supaya mediator yang jahat itu bisa kita turunkan,” ujarnya.

Obesitas, sebut Prof. Yunir, merupakan pemicu utama resistensi insulin. Pasalnya, lemak berlebih, khususnya lemak visceral di sekitar perut, melepaskan zat kimia peradangan dan asam lemak bebas ke dalam darah.

Zat ini mengganggu kerja hormon insulin sehingga sel-sel tubuh gagal menyerap glukosa dengan baik, berujung pada lonjakan risiko diabetes tipe 2.

Pendekatan dipersonalisasi tangani obesitas

Harus diakui, melawan obesitas tak semudah membalik telapak tangan. Kompleksitas obesitas menunjukkan bahwa tidak terdapat pendekatan yang bersifat one-size-fits-all dalam penanganannya.

Kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, perilaku, dan tujuan kesehatan setiap individu dapat berbeda, sehingga diperlukan pendekatan yang dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, menurut dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).

“Asesmen gizi klinis membantu menentukan strategi nutrisi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu,” tuturnya.

Strategi tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis, sehingga membentuk pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Menurutnya, penanganan obesitas setiap orang berbeda. “Tak bisa disamaratakan, itu tergantung dari kebiasaan makan, juga gaya hidup. Dari persepsi medis, obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan mengurangi nasi, jangan makan malam atau membatasi makan hanya sekali sehari,” ujar dr. Erwin.

Mengapa tak bisa? “Otak kita itu menuntut sesuatu untuk dimakan bukan hanya karena lapar. Tadi pagi sudah sarapan, tapi begitu lihat ada snack manis langsung otak kasih sinyal, ini enak kayaknya. Sama seperti dulu saat kita kecil dikasih permen sebagai reward, saat dewasa kita akan terbiasa mencari makanan manis saat stres karena itu membawa memori yang menyenangkan,” terangnya.

Karena alasan itulah, penanganan obesitas menjadi hal kompleks. Namun satu hal yang perlu diingat, jangan menunggu sakit untuk konsultasi ke dokter. “Hal penting adalah jangan menunggu sakit dulu, jangan menunggu berat badan naik terus, baru terpikir untuk konsultasi ke dokter,” ujar dr. Erwin.

Dia menyarankan langkah sederhana. “Kalau ukuran celana lebih dari 36 (pria) dan 34 (wanita), pakaian terasa sesak, mulai sulit dikancing, dan berat badan tidak turun hanya dengan mengurangi makan, harus konsultasi dengan dokter untuk menemukan solusinya,” saran dr. Erwin.

Kesempatan sama, Ay Lie Widjaja, Chief Operating Officer, Commercialization, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) mengatakan sudah saatnya kita membangun kembali percakapan mengenai berat badan dan mengubah secara mendasar cara kita memandang obesitas.

“Tidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri. Melalui kampanye Berani Bicara Berat, kami berupaya memberdayakan masyarakat melalui edukasi berbasis sains, sekaligus mendorong mereka untuk mengambil langkah selanjutnya dengan mencari dukungan dan penanganan yang dibutuhkan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan,” tuturnya.

Pilihan penanganan obesitas terus berkembang, termasuk terapi berbasis incretin yang bekerja pada reseptor tunggal maupun reseptor ganda. Penggunaannya perlu ditentukan melalui konsultasi dengan dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. (BS)