Berandasehat.id – Jangan pernah sepelekan perundungan pada remaja, termasuk penindasan daring. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami perundungan daring (online bullying) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah emosional dan perilaku di kemudian hari.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa kaum muda yang mengalami perundungan siber (cyberbullying) lebih mungkin mengalami masalah emosional dan perilaku dalam enam bulan berikutnya jika pengalaman tersebut memicu rasa kesepian dan kesulitan dalam mengelola emosi.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders menyoroti pentingnya mendukung kesehatan mental kaum muda setelah mengalami perundungan siber, yaitu dengan membantu mereka agar tidak merasa terisolasi serta mendukung kesejahteraan emosional mereka.

Studi dari University of Edinburgh ini merupakan salah satu penelitian pertama yang secara sistematis mengkaji mekanisme yang menghubungkan perundungan daring dengan kesehatan mental remaja.

Sekitar dua pertiga anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan perundungan siber, satu dari dua anak menyatakan bahwa mereka tidak tahu cara mendapatkan dukungan yang tepat.

Para peneliti menyurvei 501 remaja untuk menguji apakah perundungan siber yang lebih parah berkaitan dengan masalah emosional dan perilaku yang lebih berat di kemudian hari, serta mencari tahu penyebabnya.

Mereka menganalisis hasil survei untuk mengetahui respons emosional mana yang paling berpengaruh dalam menghubungkan perundungan daring dengan dampak emosional di kemudian hari.

Tim peneliti menganalisis data dari dua sekolah menengah atas di Tiongkok. Menurut para peneliti, Tiongkok menjadi contoh yang sangat penting karena tingginya prevalensi perundungan siber di negara tersebut.

Para peneliti menganalisis kuesioner yang ditujukan kepada remaja berusia 15 hingga 18 tahun mengenai pengalaman daring mereka. Penelitian ini menggunakan European Cyberbullying Intervention Project Questionnaire.

Survei yang diulang setelah enam bulan ini juga mengukur tingkat kesepian, kesulitan pengaturan emosi, harga diri, serta masalah emosional dan perilaku.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa kesepian dan kesulitan mengelola emosi tampaknya lebih berpengaruh dibandingkan masalah harga diri dalam menjelaskan mengapa remaja yang mengalami perundungan daring lebih cenderung melaporkan masalah emosional dan perilaku di kemudian hari.

Masalah dalam mengatur emosi merupakan jalur signifikan menuju masalah emosional lainnya seperti kecemasan, sementara ketidakmampuan mengendalikan impuls berdampak signifikan terhadap risiko masalah perilaku.

Hal ini tetap berlaku bahkan ketika faktor-faktor lain, seperti usia dan jenis kelamin, turut diperhitungkan.

Yixuan Li, kandidat doktor di School of Health in Social Science Universitas Edinburgh yang memimpin penelitian ini, mengatakan menjadi korban perundungan siber dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental kaum muda, “namun temuan kami menunjukkan bahwa apa yang terjadi setelahnya juga penting.”

Remaja yang mengalami perundungan siber mungkin merasa semakin kesepian dan kesulitan mengelola emosi yang berat; hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian dari mereka kemudian mengalami masalah emosional dan perilaku. “Pesan utamanya adalah bahwa memberikan dukungan kepada kaum muda setelah terjadinya perundungan siber merupakan hal yang penting,” ujar Li.

Penelitian ini dikembangkan berdasarkan riset tim sebelumnya yang mengumpulkan bukti dari 125 studi yang melibatkan lebih dari 260.000 partisipan dari 33 negara.

Temuan tersebut mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dampak jangka panjang perundungan siber terhadap kesehatan mental remaja.

Penelitian saat ini mengidentifikasi jalur mana yang tampaknya berperan paling penting dalam menghubungkan perundungan siber dengan masalah emosional dan perilaku di kemudian hari.

Menurut para peneliti, temuan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek di mana upaya pencegahan dan intervensi dapat menjadi paling efektif. (BS)