Berandasehat.id – Sebuah studi baru mengungkap lansia yang menerima vaksin herpes zoster setelah masuk ke fasilitas perawatan punya kemungkinan lebih kecil untuk didiagnosis menderita demensia dalam kurun waktu empat tahun berikutnya.
Para peneliti menemukan bahwa lansia yang telah divaksinasi memiliki risiko demensia 24% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima vaksin tersebut.
Analisis ini menggunakan data Medicare dan catatan kesehatan lebih dari 500.000 lansia berusia 66 tahun ke atas yang dirawat di fasilitas perawatan, baik untuk perawatan jangka pendek maupun jangka panjang.
Peneliti membandingkan pasien yang menerima setidaknya satu dosis vaksin herpes zoster rekombinan dikenal sebagai RZV atau Shingrix) dengan pasien yang tidak divaksinasi.
Shingrix diperkenalkan pada tahun 2017 dan saat ini merupakan satu-satunya vaksin herpes zoster yang tersedia di pasaran.
Penulis studi Kaley Hayes, seorang asisten profesor di School of Public Health (Sekolah Kesehatan Masyarakat) Universitas Brown menyampaikan studi ini meneliti vaksin terbaru hanya pada populasi lansia yang rentan, yang belum mendapatkan vaksinasi herpes zoster terkini dan berada pada titik klinis perawatan yang sangat jelas: saat memasuki fasilitas perawatan keperawatan khusus.

Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang melibatkan vaksin herpes zoster terdahulu, yang juga menemukan adanya hubungan antara vaksinasi herpes zoster dan penurunan risiko demensia.
“Hal ini melengkapi kepingan teka-teki besar yang mulai tersusun, yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif mencegah herpes zoster dan tampaknya juga memiliki manfaat neuroprotektif,” ujar Hayes, yang juga menjabat sebagai direktur asosiasi bidang farmakoepidemiologi di Center for Gerontology and Healthcare Research (Pusat Penelitian Gerontologi dan Layanan Kesehatan) Universitas Brown.
Hayes memimpin studi yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine ini, bersama para peneliti dari Universitas Brown, Universitas Delaware, Providence Veterans Affairs Medical Center, dan institusi lainnya.
Analisis terhadap lebih dari 500.000 lansia menggunakan teknik yang disebut target trial emulation (emulasi uji coba target) untuk menganalisis data.
Pendekatan ini berupaya mereplikasi beberapa kondisi uji klinis acak dalam situasi di mana pelaksanaan uji coba semacam itu tidak praktis untuk dilakukan.
Peserta harus memenuhi syarat untuk menerima vaksinasi herpes zoster dan belum pernah didiagnosis menderita demensia.
Setelah masa pemantauan selama empat tahun, lansia yang telah menerima setidaknya satu dari dua dosis vaksin Shingrix memiliki kemungkinan yang jauh lebih rendah untuk menerima diagnosis demensia.
Demensia berkembang pada 18,8% peserta yang divaksinasi, dibandingkan dengan 24,6% pada mereka yang tidak divaksinasi.
“Ini berarti sekitar satu dari 17 kasus demensia berpotensi dapat dicegah,” kata Hayes.
Tak buktikan hubungan sebab akibat
Salah satu keterbatasan penting adalah para peneliti tidak dapat memastikan apakah vaksin Shingrix itu sendiri yang menjadi penyebab rendahnya tingkat diagnosis demensia.
Orang yang menerima vaksin cenderung sedikit lebih muda dan lebih sehat dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi; perbedaan-perbedaan ini juga dapat berkontribusi pada risiko demensia yang lebih rendah.
Para peneliti menyesuaikan analisis mereka untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut dan menemukan bahwa faktor-faktor itu tidak sepenuhnya menjelaskan hubungan yang ditemukan.
Penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis, diperlukan untuk memastikan apakah vaksinasi herpes zoster secara langsung mengurangi risiko terkena demensia.
Para peneliti menyatakan temuan ini mengindikasikan bahwa suatu langkah pencegahan yang sudah tersedia secara luas berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun kognitif.
“Kognisi kita sangat berkaitan erat dengan kesehatan kita secara keseluruhan dan kondisi fisik kita,” ujar Hayes.
“Sungguh luar biasa melihat bahwa sesuatu yang ditujukan untuk mencegah gangguan fisik ternyata juga dapat membantu menjaga kesehatan otak kita.”
Para penulis melaporkan adanya pendanaan dari GlaxoSmithKline, produsen Shingrix. Mereka menegaskan bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki kendali atas desain studi, analisis, maupun keputusan untuk memublikasikan temuan ini, demikian Science Daily. (BS)