Berandasehat.id – Gunung berapi memukau kita dengan letusan spektakuler dan aliran lava yang membara, namun sering kali bahaya paling mematikan justru berasal dari material yang jatuh secara diam-diam dari langit, abu vulkanik.

Letusan Gunung Anak Krakatau baru-baru ini memuntahkan abu dalam jumlah yang sangat besar. Abu halus dapat masuk ke paru-paru manusia dan hewan yang menghirupnya, meracuni tanaman, serta mengganggu kehidupan air.

Bahkan, tumpukan abu yang tebal dapat meruntuhkan atap bangunan, melumpuhkan layanan utilitas, dan mengganggu jaringan transportasi.

Abu mungkin tidak memiliki dampak visual yang mencolok seperti aliran lava, namun sebagai ahli geologi menyampaikan abu dapat menyebar lebih jauh, bertahan lebih lama, dan meninggalkan dampak yang jauh lebih luas.

Abu vulkanik terbentuk ketika magma yang kental, batuan cair dari kedalaman di bawah permukaan Bumi, meletus dan hancur menjadi pecahan batuan, mineral, serta kaca yang terbawa oleh aliran gas panas berkecepatan mendekati supersonik.

Awan abu yang menjulang tinggi membubung hingga beberapa mil ke atmosfer; di sana, abu terbawa oleh angin ketinggian yang mampu membawanya hingga jarak ratusan atau bahkan ribuan mil.

Saat abu vulkanik kembali turun ke Bumi, abu tersebut menumpuk dalam lapisan-lapisan yang ketebalannya biasanya berkurang seiring bertambahnya jarak dari sumber letusan.

Di dekat lubang letusan, ketebalan abu bisa mencapai beberapa kaki, sementara masyarakat yang berada lebih jauh mungkin hanya mendapati lapisan tipis seperti debu.

Risiko kesehatan abu vulkanik

Menghirup abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan dan paru-paru, memicu serangan asma, serta memperparah kondisi pernapasan kronis seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).

Partikel yang paling halus menimbulkan risiko terbesar karena dapat menembus jauh ke dalam paru dan, dalam kasus terburuk, menyebabkan kematian akibat sesak napas (asfiksia). Gejala ringan dan jangka pendek sering kali dapat mereda dengan istirahat. Namun, dampak jangka panjang dari paparan abu dapat mencakup silikosis, yakni penyakit paru-paru yang juga berpotensi menyebabkan kanker.

Bahaya ini meningkat di wilayah kering, di mana abu yang telah jatuh dapat kembali beterbangan ke udara akibat tiupan angin atau aktivitas manusia.

Risiko bagi hewan peliharaan dan ternak

Manusia bukan satu-satunya pihak yang berisiko. Hewan juga mengalami gejala pernapasan yang serupa dengan manusia.

Hewan peliharaan dapat mengalami gangguan pernapasan, peradangan mata, dan iritasi pada telapak kaki akibat paparan abu.

Hewan ternak menghadapi bahaya yang lebih besar. Jika hewan ternak memakan abu vulkanik, hal itu dapat merusak gigi, menyumbat usus, dan meracuni mereka.

Saat letusan Eyjafjallajökull di Islandia pada tahun 2010, para peternak diimbau untuk mengandangkan domba dan sapi mereka karena abu tersebut mengandung konsentrasi fluorida yang melampaui ambang batas keamanan yang ditetapkan, yaitu 400 bagian per juta (ppm).

Hewan yang terus terpapar abu jatuh sakit dan beberapa di antaranya mati.

Dampak terhadap tanaman, tanah, dan air

Tanah dan tanaman juga dapat mengalami kerusakan. Abu vulkanik mengubah tingkat keasaman tanah serta melepaskan unsur-unsur berbahaya, seperti arsenik dan belerang, ke lingkungan.

Meskipun abu dapat menambah nutrisi seperti kalium dan fosfor yang meningkatkan kesuburan tanah, dampak langsungnya sebagian besar bersifat merugikan.

Abu dapat menutupi tanaman, menghalangi sinar matahari, dan menyumbat stomata/ pori kecil pada daun yang berfungsi untuk pertukaran gas antara tanaman dan atmosfer.

Abu juga dapat membawa racun yang membuat hasil panen tidak layak jual. Tanaman sayuran, pohon buah-buahan, dan tanaman merambat sangat rentan terhadap dampaknya; namun, tanaman serealia dan rerumputan yang tangguh sekalipun bisa mati jika abu tetap menempel pada daun atau meracuni tunas yang baru tumbuh.

Setelah letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991, lahan pertanian yang sangat luas di wilayah Luzon Tengah, Filipina, menjadi tidak produktif selama bertahun-tahun akibat abu yang bersifat asam dan lapisan tanah atas yang tertimbun.

Jika hujan abu terjadi berulang kali dalam satu musim tanam, kegagalan panen hampir pasti terjadi. Hal inilah yang menjadi penyebab bencana kelaparan hebat yang terjadi setelah letusan Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1815.

Abu juga dapat mencemari air permukaan dengan memasukkan zat beracun dan meningkatkan tingkat keasaman air. Zat beracun tersebut dapat meresap ke dalam air tanah dan mencemari sumur.

Partikel abu halus juga dapat mengendap di saluran air serta menutupi dan mematikan tanaman serta hewan air. Saat letusan Gunung Chaitén di Chili pada tahun 2008, pencemaran akibat abu menyebabkan kematian massal ikan di Sungai Río Blanco.

Abu lumpuhkan penerbangan, ganggu infrastruktur

Awan abu sangat berbahaya bagi pesawat terbang. Partikel abu yang menyerupai kaca akan meleleh saat terisap ke dalam turbin jet, menyumbat sistem bahan bakar, dan dapat menyebabkan mesin mati di udara.

Pada tahun 1982, keempat mesin pesawat British Airways Penerbangan 9 mati setelah terbang menembus awan abu. Insiden serupa terjadi pada tahun 1989 yang menimpa KLM Penerbangan 867 di wilayah udara Alaska.

Pada tahun 2010, letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia menyebabkan pembatalan lebih dari 100.000 penerbangan di seluruh Eropa, mengganggu perjalanan lebih dari 10 juta penumpang, dan menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi ekonomi global.

Abu vulkanik juga dapat merusak infrastruktur cukup parah dengan menyumbat saluran air, menyebabkan korsleting pada sistem kelistrikan, dan meruntuhkan atap akibat berat tumpukan abu.

Abu dapat mengganggu jaringan transportasi, komunikasi, penyelamatan, dan kelistrikan, sebagaimana terlihat jelas pada peristiwa letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991.

Tindakan yang perlu dilakukan saat terjadi hujan abu

Saat terjadi hujan abu, strategi paling efektif untuk menjaga keselamatan adalah dengan tetap berada di dalam ruangan sebisa mungkin dan menghindari menghirup partikel abu.

Siapa pun yang harus keluar ruangan wajib mengenakan masker N95 atau P2 yang terpasang dengan rapat. Adapun masker kain hanya memberikan perlindungan minim terhadap abu halus.

Tangki penampungan air hujan, bak minum ternak, dan sumur terbuka harus ditutup serta dipantau dari kemungkinan pencemaran. Hewan ternak sebaiknya dipindahkan ke padang rumput yang bersih atau diberi pakan yang tidak tercemar.

Untuk mengurangi kerusakan struktur bangunan, abu harus segera dibersihkan dari atap dan saluran pembuangan air hujan (talang), terutama sebelum turun hujan.

Lansia, anak-anak, dan orang yang sedang sakit memiliki risiko tertinggi, terutama mereka yang tinggal di rumah dengan ventilasi yang buruk.

Masyarakat pedesaan yang bergantung pada pertanian dan peternakan sangat terdampak oleh hujan abu, begitu pula masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap air bersih, masker pelindung, atau tempat berlindung yang aman.

Masyarakat dapat terus memantau informasi mengenai risiko abu melalui peringatan resmi, yang memantau penyebaran abu dan mengeluarkan peringatan tepat waktu.

Dampak jangka panjang abu vulkanik

Abu vulkanik mungkin turun tanpa suara, namun dampaknya luas, bertahan lama, dan berpotensi mematikan. Abu ini menimbulkan ancaman kronis bagi kesehatan, pertanian, infrastruktur, dan ekosistem perairan.

Menyadari risiko merupakan langkah awal yang krusial untuk melindungi keselamatan jiwa. Perencanaan yang efektif dan kesadaran masyarakat dapat lebih jauh membantu mengurangi dampak kerusakan, demikian ulasan The Conversation. (BS)