Berandasehat.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak orang tua untuk tetap mewaspadai risiko kesehatan yang ditimbulkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, khususnya bagi anak-anak.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso mengungkap abu vulkanik merupakan ancaman nyata dan memerlukan perlindungan dan tindakan pencegahan segera. “Kita harus melindungi mereka dari ancaman abu vulkanik melalui tindakan cepat dan tegas. Jangan menunggu gejalanya muncul,” ujarnya di Jakarta, Senin (7/9).

Abu vulkanik bukanlah debu biasa, terdiri dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terfragmentasi halus dengan permukaan yang tajam dan abrasif. Jika terhirup, partikel tersebut dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan.

Abu vulkanik juga mungkin mengandung gas yang mengiritasi seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO), yang dapat memperparah iritasi dan memicu peradangan pada saluran pernapasan anak.

Kepala Unit Koordinasi Respirologi (UKK) IDAI, dr. Wahyuni ​​Indawati mengatakan, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut. Gejala yang paling sering terjadi adalah iritasi saluran pernapasan hingga bersin, batuk, pilek, dan sesak napas. “Pada anak penderita asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi,” tuturnya.

Dia menakankan, bayi dengan displasia bronkopulmoner dan anak dengan penyakit jantung bawaan termasuk dalam kategori risiko tinggi. Karenanya, orang tua agar tidak menganggap remeh gejala apa pun.

“Jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan–seperti napas cepat, retraksi dinding dada, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen–segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar dr. Wahyuni.

IDAI merekomendasikan untuk mengevakuasi anak-anak dari wilayah terdampak untuk melindungi mereka dari paparan abu vulkanik. Jika evakuasi tidak memungkinkan, anak-anak harus tetap berada di dalam rumah yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya abu.

Orang tua harus memastikan sistem sirkulasi udara di rumah tidak menarik partikel dari luar. Caranya, matikan AC yang menyerap udara luar dan alihkan ke mode resirkulasi. Hindari penggunaan kipas angin listrik, karena dapat mengaduk partikel abu yang menempel dan menyebabkan anak-anak menghirupnya.

Abu vulkanik harus dibersihkan dengan cara aman. “Gunakan kain basah atau basahi lantai untuk mencegah debu beterbangan di udara. Sapu kering dapat menyebarkan kembali partikel abu yang berbahaya,” ujar dr. Wahyuni.

Tak kalah penting, jauhkan anak-anak dari area yang sedang dibersihkan.

Pastikan anak mengenakan masker yang dirancang khusus untuk mereka saat berada di luar ruangan untuk menyaring partikel abu.

Selain itu, area mata perlu dilindungi untuk mencegah iritasi yang ditimbulkan oleh abu vulkanik.

Setelah beraktivitas di luar ruangan, pastikan anak membersihkan diri dan berganti pakaian. Untuk anak-anak yang menderita asma atau alergi saluran napas, sediakan obat-obatan rutin dan darurat.

Batasi aktivitas di luar rumah

Sehari sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga (Level III) dan terus berlangsung tanpa henti sejak Jumat, 4 September 2026.

Abu vulkanik terdeteksi menyebar ke Banten, Jakarta, dan Jawa Barat akibat pola angin. Menteri Budi menjelaskan, tingginya intensitas abu vulkanik berisiko memicu gangguan kesehatan akut seperti gangguan saluran napas, iritasi mata dan kulit.

Anak-anak, orang lanjut usia, dan orang-orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis diidentifikasi sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu.

Menkes mengimbau bila tidak ada kegiatan yang mendesak, usahakan tetap berada di dalam rumah. “Namun jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” katanya di temu media Situasi dan Kondisi Pasca Letusan Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9).

Selain arahan preventif, Menteri Budi juga memberikan arahan penanganan awal bagi warga yang terpapar abu vulkanik, khususnya pada area sensitif seperti mata dan kulit.

Warga disarankan segera mencuci badan dan pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan, karena partikel abu vulkanik bersifat tajam.

Sebagai langkah kesiapsiagaan darurat, Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan Pusat Operasi Darurat Kesehatan di tingkat pusat hingga ke kabupaten dan kota terdampak. Dinas Kesehatan di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat telah diinstruksikan untuk menjaga puskesmas dan rumah sakit tetap siaga, beroperasi sepanjang waktu untuk merespons potensi lonjakan pasien.

Kementerian juga memastikan kelancaran distribusi pasokan medis ke daerah-daerah yang terkena dampak. Perbekalan yang dikirimkan antara lain masker medis dan N95, tangki oksigen dengan konsentrator, nebulizer pernapasan, berbagai obat untuk pengobatan ISPA, serta obat tetes mata dan kulit serta salep.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi lebih lanjut, Kementerian terus berkoordinasi lintas sektor dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk memperbarui data penyebaran abu dan kesiapan layanan kesehatan. (BS)