Berandasehat.id – Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung dan stroke.
“Tanpa gejala kalau diukur (tekanan darah) ternyata tinggi sekali. Ini bahaya,” kata dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi di sela diskusi sekaligus kampanye kesehatan ‘Keep On, Life On’ yang dihelat Omron Healthcare Indonesia di Jakarta, Jumat (11/9).
Hipertensi bukan hanya persoalan tekanan darah yang tinggi, tetapi juga merupakan salah satu faktor risiko penting dalam berbagai kondisi kardiovaskular, di antaranya atrial fibrillation (AFib), gangguan irama jantung.
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” ujarnya.
Detak jantung yang tidak teratur dapat menyebabkan aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. “Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, dapat terjadi stroke,” cetus dr. Decsa.

Hubungan antara hipertensi, AFib, dan risiko stroke juga terlihat dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Studi terhadap 5.070 peserta menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat.
Temuan ini menegaskan pentingnya mengenali dan memantau faktor risiko kardiovaskular.
“Pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular dan mengurangi risiko komplikasi,” dr. Decsa menekankan.
Jangan menormalisasi tekanan darah tinggi
Tekanan darah dikatakan normal di angka 120/80 mmHG. “Dikatakan hipertensi stage 1 di antara 140 sampai 159 (angka atas, sistolik) dan bawahnya 90 sampai 99 (angka bawah, diastolik), hati-hati itu,” cetus dr. Decsa.
Adapun hipertensi stage 2 jika pembacaan 160 sampai 179 untuk sistolik, dan diastoliknya 100 sampai 109. “Ini level waspada, dan yang berbahaya hipertensi stage 3, dulu kita namakan hipertensi krisis, sekarang namanya hipertensi stres 3 jika pembacaan di atas 180/110 mmHg,” dia mengingatkan agar masyarakat jangan menormalisasi darah tinggi.
Nah, tahu dari mana kalau hipertensi? “Karena nyaris tak bergejala, untuk mengetahui hipertensi apa tidak harus diukur pakai tensimeter secara berkala. Alat tekanan darah harus ada di rumah sebagai investasi,” saran dr. Decsa.
Tekanan darah yang terlampau tinggi berdampak pada tiga organ vital yang menjadi target organ damage yaitu otak, jantung dan ginjal. “Kalau hipertensi dibiarkan bersifat kronis biasanya ginjalnya bermasalah. Kalau itu dibiarkan terus menerus jantung bermasalah,” terangnya.
Jika kondisi hipertensi berlanjut, pembuluh darah di otak pecah (stroke pendarahan/hemoragik), dan pembuluh darah bisa tersumbat jadi stroke iskemik/stroke sumbatan.
Pencegahan hipertensi
Pencegahan hipertensi dapat dilakukan mulai dari pola makan, kurangi makan asin dan manis. “Meminimalkan makanan manis atau asin dapat menjaga cardiac output dan heart rate tetap bagus,” tutur dr. Decsa.
Gaya hidup aktif dengan terus berolahraga dapat melatih kelenturan pembuluh darah. “Pembuluh darah saat bayi itu lentur kayak selang karet yang kita pakai siram kembang. Dan itu berlangsung sampai usia tertentu. Tambah lama tambah usia, pembuluh darah menjadi kaku seperti pipa,” bebernya.
Pembuluh darah yang kaku seperti pipa bisa diberi tekanan tinggi, semburannya tidak kencang seperti halnya pipa karet. “Makanya olahraga perlu dilakukan rutin untuk menjaga pembuluh darah kita lentur dan jantung kerjanya jadi efisien,” tandas dr. Decsa.
Dia mengatakan, individu dengan heart rate di kisaran 40-50 berarti jantung masih bekerja dengan efisien dalam memompa darah ke seluruh tubuh. “Begitu kita olahraga kita bisa preserve pembuluh darah dan jantung kita,” bebernya.
Hal yang tak boleh dilupakan adalah istirahat/tidur cukup. “Tidur itu adalah obat alami dari Tuhan yang diciptakan ke kita, tapi kita kerap tidak gunakan dengan baik. Tidur itu kayak bengkel reparasi yang kita punya sendiri. Jadi itulah alasan kenapa tidur itu menjadi penting, jangan diabaikan,” tandas dr. Decsa.
Pantau irama jantung mandiri
Sebagai bagian dari kampanye ‘Keep On, Life On’ Omron merilis teknologi ECG (elektrokardiogram/EKG) yang dapat membantu masyarakat memantau irama jantung dan mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk AFib.
Berbeda dengan pemeriksaan irama jantung yang umumnya dilakukan di fasilitas kesehatan, solusi ECG portabel ini memungkinkan pemantauan ECG di rumah, sehingga masyarakat dapat merekam irama jantung saat gejala muncul.
“Hal ini dapat membantu dalam mengenali AFib paroksismal yang dapat muncul dan menghilang secara berkala, sehingga kesadaran dan pengelolaan risiko stroke dapat dilakukan lebih dini,” terang Fanny Himawan, Marketing Manager Omron Healthcare Indonesia.
Hasil rekaman ECG yang diperoleh melalui perangkat ECG portabel Omron juga dapat memberikan informasi yang berharga bagi tenaga kesehatan, sehingga dokter dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi jantung pasien di luar pemeriksaan yang dilakukan di fasilitas kesehatan.
Dua perangkat yang diperkenalkan adalah Omron Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B, yang menawarkan perekaman ECG Satu Lead secara cepat dan praktis, serta Omron Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T, EKG Enam Lead yang merekam sadapan untuk memberikan gambaran aktivitas listrik jantung yang lebih luas.

Keduanya dirancang untuk mendukung pemantauan jantung secara lebih praktis dalam keseharian.
Fanny menekankan, hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukan merupakan diagnosis dan tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
“Pemantauan di rumah dapat menjadi informasi tambahan yang membantu seseorang memahami kondisi yang perlu diperhatikan dan menentukan kapan perlu berkonsultasi lebih lanjut,” tuturnya.
Untuk mendukung pemantauan tekanan darah di rumah, masyarakat juga disarankan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang akurat dan telah tervalidasi secara klinis, serta melakukan pengukuran secara rutin sesuai petunjuk penggunaan.
Dengan membangun kebiasaan pemantauan, perubahan pada tekanan darah maupun irama jantung dapat lebih mudah diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan bila diperlukan. (BS)