Berandasehat.id – Topik bahaya abu vulkanik mengemuka dalam dua pekan terakhir menyusul erupsi Anak Gunung Krakatau yang abunya meluas sampai wilayah Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi dan sekitarnya.
Anak-anak perlu mendapat perlindungan ekstra terhadap potensi bahaya abu vulkanik, khususnya anak yang telah memiliki gangguan saluran napas, mengi hingga autoimun. “Langkah pertama adalah memakaikan masker untuk anak saat harus beraktivitas di luar rumah,” ujar dr. Andre Inigo, Sp.A yang berpraktik di RS Mayapada Tangerang dalam webinar yang dihelat Jumat (11/9).
Gunakan masker yang dapat menyaring abu vulkanik dengan baik. “Untuk paparan abu vulkanik, gunakan masker N95 untuk perlindungan terhadap partikulat abu. Jangan gunakan masker kain karena efektivitasnya hanya 10 persen. Adapun masker bedah masih kurang efektif, hanya 50-60 persen. Namun jika tak ada masker N95, bisa dipakai masker bedah dirangkap alias dobel,” saran dr. Andre.
Terkait informasi yang beredar agar masker dibasahi dulu untuk meningkatkan efektivitasnya, dr. Andre menyebut itu tidak tepat.
“Masker dibasahi dulu dengan air itu berbahaya, karena filtrasi bakal terganggu, masker jadi rusak. Kalau memang tidak ada masker medis, kalau kondisi di luar mengkhawatirkan lebih baik berdiam diri di rumah,” saran dia.
Saat terjadi hujan abu vulkanik, usahakan kondisi rumah kondusif. “Kondisi dalam rumah juga harus aman, misalnya pintu dan jendela ditutup untuk mengurangi masuknya udara luar saat abu pekat. Rutin bersihkan abu dengan cara yang benar, tidak membuat debu itu beterbangan, misalnya dibasahi air dulu, baru dibersihkan,” imbuhnya.

Dia menekankan agar saat membersihkan abu tidak membuatnya menyebar lebih jauh. “Hindari aktivitas mengaduk abu, dan rutin bersihkan filter AC,” ujar dr. Andre.
Bagi keluarga yang memiliki anak dengan penyakit asma, sakit kronis, sakit jantung, bonkitis atau riwayat alergi lain, saat abu vulkanik datang dan memicu kekambuhan, segera cari pertolongan ke rumah sakit/klinik terdekat. “Apabila muncul gejala napas berat, sesak, bibir dan kuku kebiruan, terjadi retraksi dada hingga penurunan kesadaran, segera larikan ke IGD,” saran dr. Andre.
Saat turun abu vulkanik, sebisa mungkin lakukan langkah berikut: pergi ke dalam rumah, pertahanan udara keluar masuk seminimal mungkin, proteksi pernapasan, proteksi mata dan bersihkan tubuh setelah paparan.
Lebih lanjut dr. Andre mengingatkan paparan abu vulkanik tak bisa dianggap remeh. “Bila terhirup abu vulkanik awal mula gejalanya cuma rinitis, hidung tersumbat, batuk. Kalau berlanjut terus tanpa penanganan yang benar bisa menjadi bronkitis, partikel abu makin masuk ke bagian dalam paru,” urainya.
Terpapar silika abu vulkanik juga menyimpan bahaya serius dalam jangka panjang. “Paparan partikel silika abu vulkanik terus menerus alias kronis bisa menyebabkan silikosis, bahkan kanker paru,” imbuhnya.
Kandungan silika yang tajam dan keras pada abu vulkanik berbahaya karena dapat menggores dan melukai saluran pernapasan serta jaringan mata.
Silika adalah mineral alami yang berbentuk seperti serpihan kaca atau jarum mikroskopis yang sangat kecil. Ketika gunung berapi meletus, abu yang dikeluarkan membawa partikel silika ini.
Adapun silikosis merupakan penyakit paru kronis dan progresif yang terjadi akibat terlalu lama menghirup debu silika kristalin. Partikel debu yang masuk merusak paru dan membentuk jaringan parut sehingga organ menjadi kaku.
Nah, paparan debu silika dalam waktu lama dan berulang dapat merusak jaringan paru dan menyebabkan penyakit silikosis atau penurunan fungsi napas.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian saat turun abu vulkanik adalah gas yang terkandung di dalamnya. “Mungkin debunya sudah turun, tapi gas yang bersirkulasi masih ada misalnya gas sulfur (bisa terdium) dan gas karbon-monoksida yang tidak tercium. Kalau saat ada abu vulkanik tiba-tiba anak mengeluh pusing, mual, muntah hingga penurunan kesadaran bisa jadi itu keracunan karbon-monoksida,” tandas dr. Andre.
Tak kalah penting adalah mengajari anak yang sudah bisa berkomunikasi untuk menceritakan gejala yang dirasakan kepada orang dewasa. “Ajari anak-anak menjadi dokter kecil kalau ada gejala yang tidak biasa. Jadi anak bisa minta bantuan ke orang yang lebih tua saat gejala itu muncul,” pungkasnya. (BS)