Berandasehat.id – Sebuah studi terhadap orang dewasa penderita diabetes tipe 2 yang sedang dalam masa pemulihan dari cedera ginjal akut yang memerlukan dialisis menemukan bahwa pasien yang mulai mengonsumsi penghambat SGLT-2 dalam waktu 30 hari setelah keluar dari rumah sakit mengalami lebih sedikit kejadian ginjal serius dibandingkan mereka yang mulai mengonsumsi obat tersebut 31 hingga 90 hari setelah keluar.
Penelitian yang dipimpin oleh National Taiwan University Hospital dan diterbitkan di JAMA Network Open mengkaji pertanyaan penting mengenai pengobatan selama masa pemulihan fungsi ginjal.
Penghambat SGLT-2 awalnya diperkenalkan untuk mengontrol kadar gula darah dan kini banyak digunakan untuk melindungi ginjal serta jantung setelah melalui beberapa uji klinis penting.
Namun, pasien yang sedang memulihkan diri dari cedera ginjal akut berat jarang diikutsertakan dalam uji klinis berskala besar. Oleh karena itu, dokter mungkin ragu untuk meresepkan obat-obatan ini setelah pasien keluar dari rumah sakit, saat fungsi ginjal, tekanan darah, dan keseimbangan cairan tubuh mungkin masih fluktuatif.
Dengan menggunakan rekam medis elektronik yang telah disamarkan identitasnya dari TriNetX Global Collaborative Network, para peneliti mengidentifikasi 4.406 orang dewasa penderita diabetes tipe 2 yang sempat menjalani dialisis saat dirawat di rumah sakit akibat cedera ginjal akut, telah menghentikan dialisis setelah keluar dari rumah sakit, dan kemudian menerima resep penghambat SGLT-2 pertama mereka dalam kurun waktu 90 hari.

Metode pencocokan statistik digunakan agar kelompok-kelompok tersebut lebih sebanding, sehingga tersisa 1.912 pasien yang memulai pengobatan dalam waktu 30 hari dan 1.912 pasien yang memulainya antara hari ke-31 hingga ke-90 untuk dianalisis lebih lanjut.
Dr. Yu-Ting Chou, penulis utama studi mengatakan kejadian ginjal yang merugikan tercatat pada 74 pasien (3,9%) di kelompok yang memulai pengobatan lebih awal dan 119 pasien (6,2%) di kelompok yang memulai pengobatan lebih lambat.
Hasil pemantauan keamanan selama enam bulan—termasuk infeksi saluran kemih, ketoasidosis diabetik, gagal jantung, kadar gula darah rendah, deplesi volume cairan, retinopati diabetik, serta infeksi jamur pada saluran kemih atau saluran genital—menunjukkan hasil yang serupa di antara kedua kelompok tersebut. Indikasi pemulihan fungsi ginjal
“Meskipun desain studi observasional berarti penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan tersebut mengisyaratkan bahwa waktu pemberian terapi merupakan faktor penting yang dapat dimodifikasi dalam proses pemulihan ginjal,” ujar penulis korespondensi Vin-Cent Wu, M.D., profesor penyakit dalam di Divisi Nefrologi National Taiwan University sekaligus ketua Taiwan Primary Aldosteronism Investigation.
Memulai pemberian penghambat SGLT-2 secara tepat waktu setelah cedera ginjal akut berat dapat membantu mendukung pemulihan ginjal tanpa mengorbankan aspek keamanan jangka pendek.
Hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam penanganan penyakit ginjal akut dan menjadi landasan bagi uji klinis di masa mendatang untuk menentukan waktu yang optimal dalam memulai pemberian obat-obatan pelindung ginjal, demikian laporan MedicalXpress. (BS)