Berandasehat.id – Kafein memiliki tempat istimewa di kalangan masyarakat dunia. Kafein adalah zat kimia yang merangsang sistem saraf pusat serta otot, jantung, dan bagian tubuh lainnya yang berperan dalam mengontrol tekanan darah.

Zat yang memiliki rasa pahit ini secara alami terkandung dalam daun dan biji lebih dari 60 jenis tanaman. Kafein juga dapat diproduksi di laboratorium dan ditambahkan ke dalam makanan, obat-obatan, serta minuman.

Karena dapat membuat kita merasa lebih waspada, kafein bisa dianggap sebagai zat yang memengaruhi pikiran. Namun, dalam jumlah sedang, FDA (Otoritas Obat dan Pangan AS) mengategorikannya sebagai produk pangan yang secara umum diakui aman (GRAS).

Berikut sumber kafein yang telah akrab di masyarakat, antara lain:

1. Kopi

Tidak mengherankan jika kopi masuk dalam daftar ini. Minuman yang terbuat dari biji kopi sangrai dan air panas mendidih ini merupakan salah satu sumber kafein alami yang paling populer.

2. Teh

Dibuat dengan menyeduh daun teh dalam air panas, teh memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan kopi.

Ilustrasi dua cangkir kopi

Namun, teh mengandung senyawa tanaman alami yang memperlambat pelepasan kafein, sehingga efeknya mungkin terasa lebih lama dibandingkan saat minum kopi.

3. Minuman bersoda

Minuman bersoda yang populer pada awalnya menggunakan perisa ekstrak kacang kola dari tanaman kola Afrika Barat. Saat ini, kafein ditambahkan ke dalam sebagian besar minuman bersoda, dengan kadar berkisar antara 19 hingga 68 miligram per 12 ons (sekitar 355 ml).

4. Cokelat

Makanan penutup favorit ini berasal dari tanaman kakao. Kandungan kafein dalam produk cokelat bervariasi, namun cokelat hitam biasanya memiliki kadar kafein lebih tinggi dibandingkan cokelat susu.

5. Snack bar dan minuman berenergi

Guarana adalah tanaman yang namanya diambil dari suku Guarani, yang biasa mengolah bijinya menjadi minuman. Penduduk asli Amerika Selatan telah menggunakan guarana sebagai obat selama bertahun-tahun.

Kini, guarana sering ditemukan dalam produk berkafein seperti snack bar dan minuman berenergi.

Namun, karena biasanya telah melalui proses pengolahan yang intensif, kita kemungkinan besar hanya mendapatkan kafein tanpa manfaat kesehatan lainnya.

Mitos vs Fakta Kafein

Di balik manfaat yang sudah terbukti, masihada mitos yang melingkupi kafein, tak terbukti kebenarannya, namun banyak yang percaya.

Mitos kafein nomor wahid menurutlaman WebMD adalah tudingan dapat menyebabkan kecanduan. Berbagai studi menyebut kafein tidak membahayakan kesehatan seperti halnya obat-obatan yang menyebabkan kecanduan.

Namun, jika kita tiba-tiba berhenti mengonsumsi kafein sepenuhnya, mungkin akan merasakan dampaknya selama satu hari atau lebih, terutama jika terbiasa minum dua cangkir kopi atau lebih setiap harinya. Gejala putus zat (withdrawal) akibat kafein dapat meliputi sakit kepala, rasa lelah, cemas, mudah marah atau tersinggung, suasana hati murung (depresi), hingga sulit berkonsentrasi.

Berbeda dengan beberapa jenis obat-obatan dan alkohol, kafein tidak menyebabkan gejala putus zat yang parah. Jika kita mengurangi jumlah konsumsinya secara bertahap selama beberapa minggu, mungkin tidak akan mengalami gejala putus zat sama sekali

Oleh karena itu, para ahli tidak mengategorikan penggunaan kafein secara rutin sebagai kecanduan.

Mitos  berikut yang tak kalah populer adalah kafein bikin sulit tidur di malam hari. faktanya, tubuh menyerap kafein dengan cepat dan juga mengeluarkannya dengan cepat. Meskipun sebagian besar diproses di hati, ada sebagian kafein yang tetap berada di dalam tubuh selama beberapa jam.

Namun, bagi kebanyakan orang, minum secangkir (atau dua cangkir) kopi di pagi hari tidak akan menyulitkan untuk tidur di malam hari.

Situasinya berbeda jika kita baru minum cappuccino atau minuman berenergi menjelang akhir hari.

Aturan umum, cobalah untuk mengonsumsi kafein setidaknya 6 jam sebelum waktu tidur. Kita mungkin perlu berhenti mengonsumsinya lebih awal jika sangat sensitif terhadap kafein.

Mitos lain terkait kafein adalah meningkatkan risiko osteoporosis, penyakit jantung, dan kanker.

Osteoporosis dan kafein. Konsumsi kafein dalam jumlah tinggi (lebih dari 744 miligram/hari) dapat meningkatkan hilangnya kalsium dan magnesium melalui urine. Kedua mineral ini sangat penting bagi kesehatan tulang.

Kabar baiknya, kita dapat mengganti kalsium yang hilang tersebut hanya dengan menambahkan 2 sendok makan susu ke dalam secangkir kopi.

Penelitian memang menunjukkan adanya kaitan antara kafein dan risiko patah tulang pinggul; jadi bagi lansia, konsultasikan dengan dokter mengenai apakah perlu untuk membatasi asupan kafein harian

Penyakit jantung dan kafein. Peningkatan ringan dan sementara pada detak jantung serta tekanan darah adalah hal yang wajar nagi orang yang  sensitif terhadap kafein. Namun, beberapa penelitian berskala besar tidak menemukan kaitan antara kafein dengan kadar kolesterol tinggi, detak jantung tidak teratur, ataupun peningkatan risiko penyakit jantung.

Bagi orang  yang memiliki tekanan darah tinggi atau masalah jantung, konsultasikan dengan dokter mengenai asupan kafein.

Selain itu, kafein dapat meningkatkan risiko stroke, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Kanker dan kafein. Tinjauan terhadap 13 penelitian yang melibatkan 20.000 orang tidak menemukan adanya hubungan antara kanker dan kafein. Bahkan, kafein justru dapat melindungi penyuka kafein dari jenis kanker tertentu.

Mitos yang juga banyak beredar adalah kafein berbahaya bagi wanita yang berusaha hamil.

Banyak penelitian tidak menemukan adanya hubungan antara konsumsi kafein dalam jumlah kecil (200 miligram kafein, atau sekitar dua cangkir kopi per hari) dengan hal-hal berikut termasuk kesulitan untuk hamil, keguguran, cacat lahir, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah.

Namun, ibu hamil tetap perlu membatasi asupan kafein. Mengonsumsi 200 miligram kafein atau lebih per hari terbukti meningkatkan risiko keguguran atau berat badan lahir rendah.

Mitos kafein yang juga mengemuka adalah dapat memicu dehidrasi. Memang kafein membantu mengeluarkan kelebihan cairan dari tubuh, yang menyebabkan kita lebih sering buang air kecil. Namun, asupan cairan dari minuman berkafein cenderung dapat menggantikan jumlah cairan yang hilang dari tubuh.

Kesimpulannya? Mengonsumsi minuman berkafein dalam jumlah wajar tidak akan menyebabkan dehidrasi. (BS)