Berandasehat.id – Salah satu alasan mengapa protein begitu populer dan menjadi andalan dalam berbagai diet yang sedang ramai dibicarakan adalah potensi kaitannya dengan penurunan berat badan.

Namun, hubungan sebenarnya antara protein dan penurunan berat badan mungkin akan mengejutkan individu yang sedang berupaya menurunkan bobot tubuh. Faktanya, asupan protein memang dapat membantu menurunkan berat badan, tetapi tidak semua sumber protein memiliki efek yang sama dalam hal ini.

Kebutuhan protein tiap orang berbeda

Kita semua membutuhkan protein, namun jumlah yang diperlukan berbeda-beda bagi setiap orang. Kebutuhan ini bergantung pada usia, berat badan, dan faktor lainnya. Contoh, kebutuhan protein meningkat pada masa kehamilan atau menyusui, dan laki-laki umumnya membutuhkan lebih banyak protein dibandingkan perempuan.

Orang yang sedang sakit, mengalami cedera, atau dalam masa pemulihan pascaoperasi mungkin juga memerlukan asupan tambahan. Beberapa organisasi kesehatan bahkan merekomendasikan asupan protein ekstra bagi para atlet.

National Academy of Medicine, lembaga yang menetapkan Angka Kecukupan Gizi (RDA) AS, mengungkap pada rentang usia 19 hingga 59 tahun, banyak dari mereka yang mengonsumsi protein melebihi anjuran, sering kali karena pola makan yang banyak mengandung daging merah, daging unggas, dan telur.

Menurut sebuah studi terdahulu yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine yang menganalisis pola makan lebih dari 120.000 pria dan wanita selama periode 20 tahun, sumber protein yang sehat terbukti membantu menjaga berat badan tetap ideal, sedangkan sumber protein yang tidak sehat tidak memberikan manfaat tersebut.

Sumber protein sehat mencakup kacang-kacangan, sementara sumber yang tidak sehat meliputi daging olahan dan daging merah.

Di antara para peserta studi tersebut, mereka yang memilih sumber protein rendah lemak dan nabati, seperti keju rendah lemak, daging ayam tanpa kulit, serta kacang walnut, cenderung tidak mengalami kenaikan berat badan dibandingkan mereka yang mengonsumsi daging ayam dengan kulit dan keju berlemak penuh. Temuan tersebut dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

Ilustrasi pangan tinggi protein

Intinya: Protein bukanlah solusi ajaib untuk menurunkan berat badan. Namun, memilih sumber makronutrien ini yang lebih sehat—yakni yang berupa bahan pangan utuh, rendah lemak, dan terutama yang berasal dari tanaman (nabati), tampaknya dapat mendukung upaya tersebut.

Dampak negatif konsumsi protein berlebih

Meskipun protein umumnya menyehatkan, konsumsi yang berlebihan bisa menimbulkan masalah. Banyak orang hanya berfokus pada manfaat protein dan menganggap tidak ada salahnya mengonsumsinya dalam jumlah besar.

Masalahnya, tubuh tidak dapat memproses kelebihan protein tersebut, sehingga justru berisiko membahayakan kesehatan tulang, ginjal, dan hati, menurut sebuah tinjauan terdahulu.

Para ahli menyatakan bahwa bagi kebanyakan orang, makanan tinggi protein dengan kandungan sekitar 40 gram protein tidak memberikan manfaat lebih besar bagi tubuh dibandingkan makanan dengan kandungan 15 hingga 25 gram protein; jadi, tidak ada keuntungan khusus jika mengonsumsinya secara berlebihan.

Di sisi lain, ada beberapa potensi dampak negatif yang mungkin timbul. Tinjauan yang disebutkan di atas mencatat bahwa asupan protein yang berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal, hilangnya massa tulang, kadar kalsium yang terlalu tinggi dalam aliran darah dan komplikasi hati.

Pakar kesehatan di Everyday Health mengingatkan pola makan yang banyak mengonsumsi daging (yang tinggi protein), seperti diet karnivora, juga dapat berbahaya dan meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung koroner serta kanker, khususnya kanker payudara, usus, dan prostat.

Para ahli WebMD sepakat bahwa orang-orang yang menjalani diet sangat tinggi protein atau sering mengonsumsi suplemen protein dalam jumlah besar dapat mengalami masalah kesehatan. Beberapa dampak yang mungkin timbul antara lain:

Kerusakan ginjal

Asupan protein yang berlebihan memaksa ginjal bekerja lebih keras. Bagi orang yang sudah memiliki masalah ginjal, risikonya menjadi jauh lebih tinggi. Urine yang berbusa merupakan tanda adanya kadar protein yang terlalu tinggi. Jika mengenali ini, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Dehidrasi

Saat ginjal bekerja terlalu keras untuk memproses kelebihan protein, tubuh bisa kekurangan cairan, yang menimbulkan gejala seperti mulut kering, kulit kering, dan rasa haus.

Masalah pencernaan

Asupan protein yang berlebihan, terutama dari daging merah, dapat membebani sistem pencernaan dan menimbulkan gejala seperti sembelit, diare, serta perut kembung.

Masalah berat badan

Bagi orang yang sedang berusaha menjaga atau menurunkan berat badan, tambahan kalori dari protein dapat menghambat upaya tersebut kecuali jika mengurangi asupan kalori dari sumber lain.

Bau mulut

Diet tinggi protein dan rendah karbohidrat dapat memicu ketosis, yaitu kondisi saat tubuh membakar lemak untuk menghasilkan energi. Bau mulut merupakan salah satu efek samping ketosis. Namun, sebagian besar diet ketogenik—yang digunakan untuk menangani masalah kesehatan tertentu maupun menurunkan berat badan—justru memiliki kandungan lemak yang jauh lebih tinggi dibandingkan protein.

Jika diet tinggi protein didominasi oleh daging merah, daging olahan, dan lemak jenuh, kadar kolesterol tidak sehat serta risiko penyakit jantung juga berpotensi naik. (BS)