Berandasehat.id – Glukosa plasma puasa (FPG) dan hemoglobin A1c (HbA1c) merupakan standar emas klinis untuk pemeriksaan kadar gula darah, namun keduanya hanya memberikan gambaran statis yang tidak mencerminkan sifat gangguan metabolik yang sangat dinamis dan heterogen.
Akan tetapi, pemantauan glukosa berkelanjutan (CGM) kini mengubah pemahaman kita mengenai kadar-kadar tersebut.
Meskipun komunitas medis telah mulai memanfaatkan CGM untuk pengelolaan diabetes, sebuah studi baru berpotensi mengubah praktik klinis saat ini terkait stratifikasi risiko penyakit kardiovaskular pada individu tanpa diabetes.
Para peneliti di Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine menemukan bahwa pola glukosa yang terekam oleh perangkat CGM pada orang dewasa tanpa diabetes berkaitan dengan penanda risiko kardiometabolik.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada akhirnya dapat menjadi acuan bagi pendekatan masa depan dalam mengidentifikasi individu yang berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan kardiometabolik.

“Memahami pola glukosa dari waktu ke waktu dapat menjadi kunci dalam mengungkap disglikemia dini atau intermiten serta risiko kardiometabolik lanjutannya,” terang penulis korespondensi Nicole Spartano, Ph.D., seorang asisten profesor bidang kedokteran.
Pemantauan glukosa berkelanjutan dapat membantu mengkarakterisasi heterogenitas yang mendasari disglikemia dengan memungkinkan fenotipisasi individu di sepanjang spektrum kadar gula darah.
Para peneliti menganalisis data pemantauan glukosa berkelanjutan dari sekitar 1.300 partisipan studi Framingham Heart Study yang tidak menderita diabetes maupun penyakit kardiovaskular.
Mereka meneliti beberapa karakteristik pola glukosa, termasuk rata-rata glukosa, variabilitas glukosa, dan periode kadar glukosa tinggi, serta mempelajari bagaimana ukuran-ukuran tersebut berhubungan dengan penanda kesehatan kardiometabolik.
Tim peneliti menemukan bahwa rata-rata glukosa yang lebih tinggi dan persentase waktu kadar gula darah melebihi 140 mg/dL yang lebih besar berkaitan dengan risiko hipertensi atau kolesterol tinggi yang lebih tinggi.
Temuan ini mengindikasikan, bahkan pada orang tanpa diabetes, pola glukosa dapat memberikan wawasan penting mengenai kesehatan kardiometabolik, termasuk tekanan darah dan kadar kolesterol.
Pada akhirnya, penelitian ini dapat menjadi landasan bagi studi masa depan yang bertujuan mencegah diabetes dan penyakit kardiovaskular, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
“Temuan kami sejalan dengan sejumlah literatur – meskipun masih terbatas namun terus berkembang – mengenai karakteristik hubungan lintas-seksional antara pengukuran CGM dan luaran kesehatan,” terang penulis utama Bahar Bakhshi, MS, seorang kandidat PhD di Program Kedokteran Molekuler & Translasional di fakultas tersebut.
Studi-studi terbaru juga melaporkan bahwa persentase waktu yang lebih tinggi dengan kadar glukosa >140 mg/dL memiliki hubungan longitudinal dengan perkembangan luaran kardiometabolik, termasuk diabetes tipe 2, pada individu yang tidak menderita diabetes tipe 2, demikian laporan MedicalXpress. (BS)