Berandasehat.id – Berbeda dengan banyak antibiotik lain yang mulai kehilangan efektivitasnya akibat resistensi antimikroba, cefepime relatif stabil terhadap enzim AmpC beta-laktamase, sehingga memiliki keunggulan dalam melawan bakteri penghasil enzim tersebut.
Cefepime adalah obat antibiotik golongan sefalosporin generasi keempat untuk mengatasi berbagai penyakit akibat infeksi bakteri berat.
Antibiotik generasi keempat ini banyak digunakan untuk mengobati infeksi bakteri serius dan neutropenia febril, kondisi demam pada pasien dengan jumlah sel darah putih yang sangat rendah.
Namun, para ilmuwan khawatir bahwa antibiotik yang sangat efektif ini dapat meningkatkan risiko kematian; kekhawatiran ini pertama kali mengemuka melalui sebuah meta-analisis pada tahun 2007.
Dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan di JAMA Network Open, para peneliti meninjau kembali data dari serangkaian uji klinis dan studi untuk menyelidiki apakah pasien yang diobati dengan cefepime memiliki kemungkinan kematian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang diobati dengan antibiotik beta-laktam lainnya.
Setelah menganalisis lebih dari 100 uji coba acak yang melibatkan 22.608 pasien, peneliti menemukan adanya probabilitas sebesar 94,4% bahwa penggunaan cefepime dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan antibiotik beta-laktam lainnya.

Dari seluruh uji coba yang ditinjau, kematian terjadi pada 6,6% pasien yang diobati dengan cefepime dan 6,2% pasien pada kelompok pembanding.
Kekhawatiran keamanan dalam satu dekade
Cefepime disetujui untuk penggunaan medis pada tahun 1994, namun sebuah studi memunculkan kekhawatiran mengenai keamanannya setelah obat tersebut digunakan dalam praktik klinis selama satu dekade.
Pada tahun 2007, sebuah meta-analisis oleh Yahav dkk. menemukan bahwa pasien yang diobati dengan cefepime memiliki risiko relatif kematian 26% lebih tinggi dibandingkan mereka yang diobati dengan antibiotik beta-laktam lainnya.
Studi lanjutan mengindikasikan dua kemungkinan mekanisme, yang keduanya berkaitan dengan paparan obat dan bukan pada sifat cefepime itu sendiri.
Mekanisme pertama adalah paparan yang kurang memadai, di mana dosis yang diresepkan lebih rendah dari yang seharusnya, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.
Mekanisme lainnya adalah paparan berlebih, yang dapat menyebabkan neurotoksisitas, terutama jika fungsi ginjal terganggu atau dosis tidak disesuaikan.
Kemudian, FDA (Otoritas Obat dan Makanan AS) merilis data yang menunjukkan tidak adanya peningkatan risiko yang signifikan, namun keraguan mengenai keamanan obat tersebut masih tetap ada karena meta-analisis sebelumnya mencakup beberapa data yang tidak dipublikasikan dan disponsori oleh industri farmasi.
Cefepime tetap menjadi lini pertahanan utama untuk mengatasi kondisi yang mengancam jiwa seperti neutropenia febris dan infeksi bakteri berat, terutama yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten terhadap berbagai obat, karena obat ini memiliki aktivitas yang terarah terhadap patogen gram-positif maupun gram-negatif yang agresif.
Oleh karena itu, memastikan keamanannya sangat penting untuk menentukan panduan penggunaannya dalam praktik klinis.
Apa kata data?
Untuk menilai apakah cefepime membawa risiko kematian pasien yang lebih tinggi dibandingkan antibiotik beta-laktam lainnya, para peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 110 uji klinis acak yang memiliki data mortalitas, dengan membandingkan cefepime terhadap antibiotik beta-laktam alternatif pada pasien dewasa maupun anak-anak.
Dengan menggunakan metode statistik yang disebut meta-analisis efek acak Bayesian, tim peneliti menggabungkan data luaran pasien dari berbagai studi dan menghitung probabilitas statistik peningkatan mortalitas yang terkait dengan penggunaan cefepime.
Data menunjukkan adanya peningkatan risiko kematian terkait cefepime yang terjadi secara eksklusif pada pasien dewasa, sementara pada pasien anak-anak tidak ditemukan peningkatan risiko kematian.
Secara keseluruhan, para peneliti memperkirakan nilai ‘number needed to harm’ (jumlah pasien yang perlu diobati untuk menyebabkan satu kejadian merugikan tambahan) sebesar 227; artinya, untuk setiap 227 pasien yang diobati dengan cefepime, diperkirakan akan terjadi satu kematian tambahan.
Namun, ketika analisis difokuskan hanya pada 15.411 pasien dari uji klinis yang telah dipublikasikan dan melalui penelaahan sejawat, probabilitas bahwa cefepime meningkatkan mortalitas naik menjadi 98,6%, dan nilai ‘number needed to harm’ turun menjadi 111.
Probabilitas risiko bahaya tertinggi ditemukan pada pasien yang diobati untuk neutropenia febris, yaitu sebesar 96,1%.
Studi juga menemukan bahwa penggunaan dosis standar maupun dosis tinggi, yakni 2 gram setiap 12 jam atau lebih, punya probabilitas risiko bahaya lebih dari 93%, sedangkan dosis yang lebih rendah tetap memiliki probabilitas risiko bahaya sebesar 80,5%.
Para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini tidak boleh ditafsirkan sebagai anjuran untuk menghentikan penggunaan cefepime.
Sebaliknya, potensi hubungan antara cefepime dan peningkatan mortalitas yang terungkap dalam studi ini perlu dipertimbangkan saat merumuskan peran obat tersebut dalam panduan praktik klinis.
Studi di masa mendatang dapat mengeksplorasi apakah penyesuaian dosis cefepime serta pemantauan ketat terhadap faktor-faktor seperti fungsi ginjal dan kerentanan bakteri dapat meningkatkan aspek keamanannya, demikian ulasan Science x Network. (BS)