Berandasehat.id – Jutaan orang di seluruh dunia mungkin tidak pernah mencicipi roti lapis selai kacang dan jeli (PB&J) atau crème brûlée karena alergi parah terhadap kacang tanah dan telur.

Selama ini, menghindari makanan pemicu alergi sejak dini dianggap sebagai cara terbaik untuk mencegah kondisi tersebut, namun kini pandangan itu telah berubah drastis.

Para ilmuwan meyakini bahwa paparan makanan tersebut, bahkan sejak masa menyusui, dapat membantu anak membangun toleransi terhadap makanan-makanan itu.

Sebuah tim peneliti mengkaji apakah konsumsi telur dan kacang tanah dalam jumlah besar oleh ibu selama kehamilan dan masa awal menyusui dapat menurunkan risiko bayi mengalami alergi terhadap makanan tersebut saat berusia satu tahun.

Uji coba acak yang disebut PrEggNut melibatkan lebih dari 2.000 ibu hamil yang bayinya memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit alergi akibat riwayat keluarga.

Separuh dari para ibu tersebut diminta untuk menjalani pola makan kaya telur dan kacang tanah, dimulai sebelum usia kehamilan 23 minggu dan berlanjut hingga empat bulan setelah melahirkan selama masa menyusui.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal New England Journal of Medicine mengungkap konsumsi banyak telur dan kacang tanah selama kehamilan dan menyusui ternyata tidak secara signifikan mengurangi risiko bayi mengalami alergi tersebut.

Pada usia satu tahun, risiko bayi mengalami alergi telur atau kacang tanah tetap sama, baik ketika ibu mereka mengonsumsi lebih banyak makanan tersebut maupun saat menjalani pola makan biasa.

Kapan waktu yang tepat?

Beberapa uji coba acak mengenai pemberian makanan pada bayi sejak dini telah menantang praktik penghindaran makanan yang selama ini berlaku.

Hasilnya menunjukkan bahwa memperkenalkan makanan pemicu alergi sejak dini justru dapat membangun toleransi, bukan malah memicu alergi.

Namun, penelitian tersebut belum memberikan panduan waktu yang jelas mengenai seberapa dini hal itu harus dimulai.

Apakah sebaiknya dimulai sejak dalam kandungan dan selama masa menyusui, saat sistem kekebalan tubuh pertama kali berinteraksi dengan antigen ibu dan protein makanan?

Beberapa bayi yang rentan alergi sudah menunjukkan respons kekebalan tubuh terhadap telur pada usia empat bulan. Oleh karena itu, pedoman saat ini—yang menyarankan pengenalan makanan pemicu alergi pada usia 4 hingga 6 bulan—mungkin sudah terlambat bagi bayi-bayi tersebut.

Selama kehamilan, janin menelan alergen makanan yang terdapat dalam cairan ketuban, dan setelah lahir, bayi kembali terpapar protein yang sama melalui ASI.

Pola paparan alami ini mendorong para peneliti untuk mengajukan hipotesis bahwa masa kehamilan dan awal menyusui mungkin merupakan periode krusial saat sistem kekebalan tubuh bayi pertama kali belajar menoleransi makanan.

Untuk meneliti hal ini lebih lanjut, para peneliti merancang uji coba acak dengan metode single-blind (di mana partisipan tidak mengetahui kelompok mana mereka berada) yang dilakukan di Adelaide, Melbourne, Perth, dan Sydney, Australia.

Sebanyak 2.137 wanita hamil berpartisipasi dalam uji coba PrEggNut; janin mereka dinilai memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami alergi.

Tim peneliti membagi para ibu secara acak ke dalam dua kelompok yang sama besar dan meminta mereka mengikuti pola makan yang berbeda.

Kelompok yang mengonsumsi telur dan kacang tanah dalam jumlah tinggi menyantap setidaknya enam butir telur dan 60 butir kacang tanah setiap minggu, sementara ibu dalam kelompok diet standar mengonsumsi tidak lebih dari tiga butir telur dan 30 butir kacang tanah per minggu.

Saat bayi berusia satu tahun, peneliti melakukan tes alergi telur dan kacang tanah di rumah sakit anak terkemuka.

Setiap bayi pertama-tama menjalani tes tusuk kulit (skin-prick test). Jika hasilnya positif, mereka melanjutkan ke tahap uji tantang makanan (food challenge), di mana dokter mengamati dengan cermat saat bayi menyantap sedikit telur orak-arik atau selai kacang untuk memastikan apakah alergi yang sebenarnya memang ada.

Pola makan ibu yang tinggi kandungan alergen selama kehamilan dan masa menyusui tidak menghasilkan penurunan risiko yang signifikan terhadap kemungkinan bayi mengalami alergi telur atau kacang tanah.

Saat peneliti mengamati hasil terkait alergi, 7,8% bayi dari ibu yang mengonsumsi lebih banyak telur dan kacang tanah mengalami alergi telur atau kacang tanah, dibandingkan dengan 8,4% pada kelompok pembanding.

Alergi telur terjadi pada 6,2% bayi di kelompok asupan tinggi dibandingkan 7,2% di kelompok standar, sementara tingkat alergi kacang tanah sama persis, yaitu 2,6% pada kedua kelompok.

Tingkat kejadian eksim juga serupa di antara kedua kelompok tersebut.

Hasil penelitian ini memperjelas bahwa menambahkan lebih banyak telur dan kacang tanah ke dalam pola makan selama kehamilan tidak melindungi bayi dari risiko alergi terhadap makanan tersebut.

Tim peneliti menyarankan fokus sebaiknya diarahkan pada panduan pemberian makan bayi yang berbasis bukti, alih-alih meminta para ibu untuk memikul beban tambahan terkait pola makan. (BS)