Berandasehat.id – Makin menua usia laki-laki, beragam masalah kesehatan turut membayangi. Salah satunya terkait prostat.

Prostat adalah kelenjar yang berukuran kurang lebih sebesar kacang kenari dan merupakan bagian penting dari sistem reproduksi pria.

Organ ini terletak tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urin keluar dari tubuh.

Salah satu fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan semen yang membantu memberi nutrisi dan membawa sperma.

Seiring bertambahnya usia dan adanya pengaruh hormon testosteron, ukuran prostat secara alami dapat terus membesar.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp.U, Sub.Sp.Onk(K), menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kesehatan prostat.

“Risiko pembesaran prostat dan kanker prostat meningkat signifikan setelah pria melewati usia 50 tahun,” tuturnya dalam edukasi media tentang kesehatan prostat yang dihelat RS Pondok Indah Group di Jakarta, baru-baru ini.

Pembesaran ini dapat menekan uretra dan menyebabkan berbagai gangguan saat buang air kecil.

Beberapa keluhan yang sering kali muncul antara lain pancaran urine lemah, sering buang air kecil, atau merasa buang air kecil tidak tuntas.

Namun demikian Andar mengingatkantidak semua gangguan tersebut disebabkan oleh kondisi yang sama.

Salah satu kondisi yang sering dialami pria lansia adalah benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.

Meskipun bukan keganasan, BPH dapat mengganggu aliran urine disertai gejala seperti sering kencing di malam hari, pancaran melemah, hingga harus mengejan daat berkemih.

dr. Andar R. Siregar, Sp.U, Sub.Sp.Onk(K) – dok. Berandasehat.id

Menurut Andar, kerap mengejan saat kencing bukanlah hal yang normal, termasuk pada lansia, serta pantang diabaikan.  

“Kalau ada keluhan ini baiknya segera konsultasi ke dokter untuk memastikan apakah kondisi tersebut sekadar pembesaran jinak atau indikasi keganasan,” saran dia.

Gangguan prostat di usia senja yang perlu diwaspadai adalah kanker. Selain faktor usia, riwayat keluarga memegang peranan penting.

“Laki-laki yang memiliki ayah atau saudara kandung dengan riwayat kanker prostat memiliki risiko lebih tinggi. Jadi kalau bapaknya, pernah kena kanker prostat, anak laki-lakinya harus lebih waspada,” urai Andar.

Laki-laki yang berisiko tinggi sebaiknya melakukan deteksi dini dengan tes Prostate Specific Antigen (PSA). Pemeriksaan ini sangat disarankan bagi pria berusia 50 tahun ke atas.

“Bagi yang memiliki riwayat keluarga, pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan lebih awal, bisa di usia 45,” ujarnya.

Apabila hasil PSA menunjukkan peningkatan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti MRI sebelum memutuskan tindakan biopsi (pengambilan sampel jaringan).

Andar lebih lanjut menyampaikan, penanganan kanker prostat sangat bergantung pada karakteristik penyakit, termasuk apakah kanker masih terlokalisasi atau sudah berkembang dan menyebar.

Beberapa pilihan penanganan kanker prostat antara lain operasi robotik (radical prostatectomy), terapi fokal (HIFU cryotherapy), atau terapi hormonal.

Andar menyampaikan pemilihan terapi disesuaikan dengan tingkat keganasan kanker dan kondisi fisik pasien.

Operasi robotik bertujuan mengangkat seluruh kelenjar prostat menggunakan teknologi robotik dengan tingkat ketelitian yang tinggi. “Tujuannya mengangkat seluruh jaringan kanker, terutama pada kanker yang masih terbatas di prostat. Jadi kankernya belum menyebar,” ujar Andar.

Adapun terapi fokal merupakan pendekatan yang lebih terarah, yaitu menghancurkan bagian prostat yang terdapat sel kanker menggunakan energi tertentu, seperti gelombang ultrasonik atau suhu sangat rendah, dengan tetap mempertahankan jaringan prostat yang sehat di sekitarnya.

Sedangkan terapi hormonal (terapi deprivasi androgen) bertujuan mengurangi atau menghambat hormon testosteron yang dapat membantu pertumbuhan sel kanker prostat.

“Terapi ini utamanya dilakukan pada kanker prostat yang sudah menyebar atau berada pada stadium lanjut,” ulas Andar.

Strategi jaga kesehatan prostat

Menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan secara berkala dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan prostat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menerapkan pola makan sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Studi menunjukkan konsumsi makanan yang mengandung likopen, misalnya tomat rebus, dapat mengurangi risiko kanker prostat.

Langkah berikutnya adalah aktif bergerak dan lakukan aktivitas fisik secara rutin, cukupi asupan cairan, terutama dengan menyesuaikan jumlah dan waktu minum agar tidak mengganggu aktivitas maupun waktu tidur.

Selain menerapkan pola hidup sehat, penting juga untuk mengenali perubahan atau keluhan saat buang air kecil.

Tak kalah penting, lakukan pemeriksaan secara berkala, misalnya tes PSA terutama jika sudah memasuki usia yang berisiko (di atas 50) atau memiliki faktor risiko tertentu.

Pemeriksaan lebih dini dapat membantu mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai, sehingga kesehatan prostat dan kualitas hidup dapat tetap terjaga. (BS)