Berandasehat.id – Penyakit jantung rematik (PRM) menjadi perhatian Yayasan Jantung Indonesia (YJI) karena masih banyak masyarakat yang belum paham terkait penyakit yang banyak mengintai anak dan remaja.

Ketua Umum YJI Annisa Pohan Yudhoyono mengungkap PJR masih menjadi masalah kesehatan pada anak dan remaja karena gejalanya kerap tidak terlihat sejak awal. “PJR dapat berkembang sejak masa kanak-kanak dan baru diketahui ketika kondisi jantung sudah mengalami gangguan,” ujarnya dalam temu media di Kantor YJI Jakarta, baru-baru ini.

Penyakit jantung rematik merupakan kerusakan permanen pada katup jantung yang terjadi akibat komplikasi dari demam rematik. Kondisi ini berawal dari infeksi tenggorokan oleh bakteri Streptococcus yang tidak diobati secara tuntas.

Kerap menyerang anak-anak dan remaja usia 5–15 tahun, gejala demam rematik mencakup demam, lemas, nyeri sendi, serta muncul ruam atau benjolan di bawah kulit. Apabila demam rematik itu menyebabkan kerusakan katup jantung, maka akan muncul gejala seperti sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar cepat, mudah lelah saat beraktivitas, hingga pembengkakan pada kaki atau perut.

“Infeksi radang tenggorok yang tidak ditangani dengan baik, termasuk pengobatan antibiotik yang tidak tuntas, dapat memicu reaksi autoimun yang menyerang organ tubuh, termasuk jantung,” ujar Annisa.

Guna meningkatkan deteksi dini PJR, YJI menjalankan program skrining dengan target 8.000 anak dan remaja. Dikatakan Annisa, program itu sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Jantung Sedunia 2026 dan akan berlangsung selama dua tahun.

“Hingga saat ini telah terkumpul data dari 2.590 anak di sejumlah daerah, termasuk Malang, Jawa Timur dan Tulang Bawang, Lampung. Skrining selanjutnya akan dilakukan di Minahasa Utara, Sulawesi Utara,” bebernya.

Program skrining itu diharapkan dapat membantu menyediakan data mengenai PJR pada anak di Indonesia.

Tidak hanya mengumpulkan data dari kegiatan skrining, YJI juga akan membantu anak yang terdeteksi mengalami PJR maupun penyakit jantung bawaan untuk mendapatkan rujukan ke rumah sakit di daerah yang memiliki dokter spesialis jantung dan fasilitas pemeriksaan lanjutan.

Kesempatan sama, Ketua Pengurus Pusat PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D, menyampaikan infeksi Streptococcus yang tidak diobati dengan tuntas berpeluang memicu PJR. “Orang kita itu suka menggampangkan infeksi bakteri, seperti batuk, nggak diobati,” ujarnya.

Infeksi yang terjadi terus menerus membuat sel imunitas ‘bingung’. “Kalau infeksi terus-terusan, apa yang terjadi? Ternyata imunitas kita itu menyerang katup (jantung) karena katup kita itu selnya sama dengan selnya si kuman (bakteri). Bagus dia bunuh kumanya tapi ternyata ini merusak katupnya juga. Jadi meninggalkan fibrosis jaringan parut, terus katupnya rusak,” urai dr. Ade.

Kerusakan katup jantung, mitral stenosis, merupakan penyempitan pada katup mitral jantung yang menghambat aliran darah dari serambi kiri (atrium kiri) menuju ke bilik kiri (ventrikel kiri). Salah satu pemicu kondisi ini akibat demam rematik, komplikasi dari radang tenggorokan akibat infeksi bakteri yang merusak katup.

Poin yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit jantung rematik adalah menjaga kebersihan, misalnya selalu mencuci tangan. “Menjaga kebersihan itu hal paling mudah sebetulnya supaya nggak infeksi berulang selama bertahun-tahun,” imbuh dr. Ade.

Dia mengingatkan, gangguan jantung bukan lagi didominasi kalangan lansia, namun juga usia produktif 20-45 tahun. Menurutnya, ada perubahan pada faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dalam lima hingga 10 tahun terakhir. Dalam hal ini, hipertensi yang sebelumnya bukan menjadi faktor risiko nomor satu kini telah bergeser menjadi faktor risiko utama, menggantikan kebiasaan merokok.

Tingginya angka hipertensi dikaitkan dengan pola konsumsi masyarakat, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan asin. “Masyarakat Indonesia itu doyan banget mengonsumsi makanan asin. Kalau di luar negeri, rasa asinnya itu tak seasin di sini, lebih hambar,” ujarnya seraya menyarankan agar orang-orang mulai membatasi asupan garam sekitar satu sendok teh per hari.

Ade mendorong masyarakat yang memiliki riwayat serangan jantung pada keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak usia muda. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah usia 20 tahun bagi mereka yang memiliki orang tua dengan riwayat serangan jantung sebelum usia 55 tahun pada laki-laki atau sebelum 65 tahun pada perempuan. “Jika hasil pemeriksaan normal, pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan lima tahun kemudian,” ujarnya.

Adapun orang di atas usia 40 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun. (BS)