Berandasehat.id – Di negara maju seperti Amerika Serikat, kanker usus besar biasanya didiagnosis pada stadium 2 atau 3, sebelum kanker menyebar. Namun, bahkan setelah operasi yang berhasil, hingga sepertiga dari pasien ini akan mengalami kekambuhan, kanker menyebar ke organ lain alias metastasis.

Meskipun para ilmuwan telah mengidentifikasi banyak mutasi genetik yang mendorong perkembangan kanker usus besar, belum diketahui secara pasti apa yang mendorong sel kanker untuk menyebar di luar usus besar.

Sebagian besar kematian akibat kanker usus besar disebabkan oleh penyebaran sel tumor di luar usus besar, biasanya ke hati. Dalam sebuah studi baru, ahli biologi MIT mengidentifikasi jalur seluler yang diperlukan untuk metastasis kanker kolorektal.

Jalur tersebut, yang dikendalikan oleh protein yang dikenal sebagai YAP1, biasanya terlibat dalam perbaikan jaringan. Ketika diaktifkan dalam sel kanker, jalur ini mendorong proliferasi dan migrasi sel.

Para peneliti juga menemukan bahwa diet tinggi lemak lebih mungkin mengaktifkan jalur ini melalui produksi molekul lemak yang disebut ceramida.

Obat-obatan yang memblokir produksi ceramida dapat menawarkan cara baru untuk membantu mencegah metastasis pada pasien yang didiagnosis menderita kanker usus besar, kata para peneliti.

“Kami telah menemukan jalur yang menurut kami dapat diobati dengan obat. Jika kita mematikan enzim yang membuat ceramida, sel tumor tidak dapat mengaktifkan program regeneratif ini, dan sebagian besar gagal untuk menyebarkan metastasis di hati,” kata Omer Yilmaz, direktur Inisiatif Sel Punca MIT, profesor biologi di MIT dan anggota Institut Koch MIT untuk Penelitian Kanker Integratif dikutip MedicalXpress.

Yilmaz, Nilay Sethi, seorang profesor kedokteran di Harvard Medical School dan Dana-Farber Cancer Institute, dan Alpaslan Tasdogan, kepala Institut Metabolisme Tumor dan profesor di Departemen Dermatologi di Rumah Sakit Universitas Essen dan Konsorsium Kanker Jerman (DKTK), adalah penulis senior studi yang diterbitkan di Scienc

Adapun para peneliti pascadoktoral MIT, Swagata Goswami, Qiming Zhang, dan Abdullah Burak Yildiz adalah penulis utama makalah ini.

Banyak penelitian telah mencari pendorong genetik metastasis dan tidak menemukan apa pun.

Tidak ada tanda mutasi jelas yang memisahkan sel metastatik dari tumor primer, yang menunjukkan bahwa metastasis sebagian besar didorong oleh perubahan gen mana yang diaktifkan dan dinonaktifkan, daripada oleh mutasi baru.

Dalam penelitian ini, para peneliti berupaya mengidentifikasi program epigenetik yang memungkinkan sel kanker usus besar untuk bermetastasis. Menggunakan organoid tumor dari model tikus beberapa jenis kanker usus besar dan dari pasien dengan kanker kolorektal, mereka menemukan bahwa sel metastatik memiliki satu fitur kunci yang sama: aktivasi program YAP1.

YAP1 adalah protein yang bekerja dengan faktor mitra untuk mengaktifkan gen yang terkait dengan perkembangan, pemeliharaan sel induk, dan regenerasi. Pada jaringan normal, ia aktif selama perkembangan janin dan setelah cedera untuk mendorong penyembuhan.

Di usus, respons perbaikan itu berjalan melalui jenis sel langka seperti janin, yang biasanya hanya muncul sebentar untuk membangun kembali lapisan usus setelah kerusakan.

YAP1 telah dikaitkan dengan kanker selama bertahun-tahun, tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa lipid yang berasal dari makanan mendorong sel tumor ke dalam keadaan regeneratif spesifik ini, dan bahwa keadaan itu sendiri yang memungkinkan penyebaran kanker.

Dalam studi pada tikus, para peneliti juga menemukan bahwa sel kanker pada hewan yang diberi diet tinggi lemak mengaktifkan YAP1 lebih banyak daripada sel pada tikus yang diberi diet sehat.

Diet tinggi lemak, menurut para peneliti, memicu aktivasi enzim yang menghasilkan ceramida, sejenis lipid. Ceramida kemudian melepaskan rem molekuler yang biasanya membuat YAP1 tidak aktif, memungkinkannya untuk bergerak ke dalam nukleus dan mengaktifkan gen targetnya.

Para peneliti menunjukkan bahwa penargetan genetik YAP1 atau gen yang terlibat dalam produksi ceramida secara signifikan mengurangi penyebaran kanker usus besar ke hati pada tikus.

Tim penelitu tidak berpikir bahwa program YAP1 spesifik untuk obesitas. Hanya saja program ini menjadi lebih menonjol pada obesitas, dan itu mungkin menjelaskan mengapa obesitas diketahui mendorong perkembangan kanker kolorektal.

Saat ini, mereka berencana mengembangkan obat yang menghambat dua enzim yang berperan dalam produksi ceramide,yaitu DEGS1 dan DEGS2, dengan harapan obat tersebut dapat membantu mencegah metastasis kanker usus besar.

Para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini belum dapat diterjemahkan menjadi anjuran pola makan bagi pasien yang telah terdiagnosis.

Selain itu, setiap obat yang menargetkan sintesis ceramide harus memenuhi standar selektivitas yang sangat ketat, mengingat lipid ini juga penting bagi jaringan tubuh yang sehat. (BS)