Berandasehat.id – Bayi yang lahir sangat prematur memiliki risiko lebih tinggi terkena necrotizing enterocolitis (NEC), yaitu penyakit usus serius yang dapat mengancam jiwa.
Sejak 2020, Swedish Neonatal Society telah merekomendasikan agar bayi yang lahir pada usia kehamilan antara 28 hingga 31 minggu diberikan suplemen probiotik setiap hari, yakni bakteri hidup yang dapat memengaruhi mikrobiota usus.
Rekomendasi ini sejalan dengan anjuran di Eropa yang didasarkan pada penelitian internasional.
Pemberian suplemen probiotik pada bayi yang lahir sangat prematur dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit usus parah maupun kematian.
Hal ini ditunjukkan oleh sebuah studi baru dari Karolinska Institutet yang diterbitkan dalam JAMA Network Open.
Temuan tersebut didasarkan pada data dari hampir 4.700 bayi yang lahir prematur di Swedia.
Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data dari register kualitas perawatan neonatal Swedia yang mencakup 4.695 bayi yang lahir antara tahun 2017 hingga 2024.
Dari jumlah tersebut, 1.571 bayi menerima suplemen probiotik yang mengandung tiga galur bakteri pilihan, sementara 3.124 bayi lainnya tidak menerimanya.
Para peneliti mengkaji apakah pemberian suplemen probiotik berkaitan dengan risiko kematian atau kejadian NEC selama bayi dirawat di bangsal neonatal.
“Kami menemukan bahwa bayi yang menerima probiotik memiliki risiko NEC dan kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak menerima suplemen tersebut. Pada saat yang sama, tingkat kematian di kedua kelompok tergolong rendah,” ujar Ayoub Mitha, dokter dan peneliti di Departemen Kedokteran (Solna) Karolinska Institutet, merupakan penulis korespondensi studi ini.
Di antara bayi yang menerima probiotik, sebanyak 0,8% meninggal atau menderita NEC, dibandingkan dengan 3,4% pada kelompok yang tidak menerima suplemen.
Risiko kematian tercatat sebesar 0,3% pada kelompok probiotik, dibandingkan dengan 1,4% pada kelompok tanpa probiotik. Sementara itu, risiko NEC masing-masing adalah 0,6% dan 2,5%.
Para peneliti menggunakan beberapa metode statistik untuk memperhitungkan perbedaan antar-kelompok. Hasilnya serupa terlepas dari metode analisis yang digunakan.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian besar penurunan tingkat kematian tersebut berkaitan dengan lebih sedikitnya bayi yang menderita NEC.
Namun, para peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas antara pemberian suplemen probiotik dan risiko sepsis, yaitu infeksi serius yang dapat menyebar ke seluruh tubuh.
Proporsi anak yang mengalami sepsis kurang lebih sama pada kedua kelompok tersebut.
Mitha menyampaikan temuan ini berkontribusi pada khazanah pengetahuan internasional dan dapat membantu tenaga kesehatan serta keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat terkait penggunaan suplemen probiotik bagi bayi yang lahir sangat prematur.
Di saat yang sama, penting untuk tidak menggeneralisasi hasil ini pada bayi yang lahir sangat-sangat prematur (mereka yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu) karena kelompok ini tidak disertakan dalam penelitian tersebut.
Para peneliti juga menegaskan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, penelitian ini dapat menunjukkan adanya hubungan, namun tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara definitif. (BS)