Berandasehat.id – Meningkatnya angka penyakit mata menular berpotensi meningkatkan risiko kehilangan penglihatan yang sebenarnya dapat dicegah. Situasi ini mendorong para peneliti untuk menyerukan kesadaran yang lebih besar akan tanda-tanda peringatan dan pentingnya pengobatan dini.
Dua tinjauan baru yang dipimpin oleh Flinders University meneliti sifilis mata dan toksoplasmosis mata, kondisi yang dapat merusak retina dan menyebabkan kehilangan penglihatan permanen jika tidak didiagnosis dan diobati segera.
Kedua penyakit ini dapat menyerupai kondisi mata lainnya, sehingga menimbulkan tantangan diagnosis yang mungkin menunda pengobatan.
Gejala umumnya meliputi penglihatan kabur, floaters, radang mata, dan perubahan penglihatan mendadak.
Tinjauan pertama, yang diterbitkan dalam Journal of Ophthalmic Inflammation and Infection, menunjukkan bahwa sifilis kembali meningkat secara global, peningkatan kasus dari sekitar 8 juta pada tahun 1990 menjadi 14 juta pada 2019.
Bersamaan dengan peningkatan ini, spesialis mata melaporkan lebih banyak kasus sifilis okular, yaitu infeksi yang berpotensi menyebabkan kebutaan yang terjadi ketika bakteri yang menyebabkan sifilis menyerang mata.
Tinjauan kedua, yang diterbitkan dalam Progress in Retinal and Eye Research, menemukan bahwa toksoplasmosis okular masih menjadi penyebab utama peradangan menular di bagian belakang mata di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang menginfeksi hingga 30% populasi global.

Meskipun banyak orang tidak pernah menunjukkan gejala, parasit ini dapat tetap tidak aktif selama bertahun-tahun sebelum aktif kembali dan merusak penglihatan.
Penulis senior Justine Smith, dokter mata yang diakui secara internasional dan profesor di FHMRI Eye & Vision di Flinders University, mengatakan bahwa memahami bagaimana infeksi ini mempengaruhi mata sangat penting untuk mengurangi kebutaan yang dapat dicegah.
“Pesan yang menggembirakan adalah banyak orang dapat mempertahankan penglihatannya dengan baik jika infeksi ini dikenali dan diobati sejak dini,” kata Smith.
Ulasan tersebut menyoroti konsekuensi dari keterlambatan diagnosis. Penelitian mengenai sifilis mata menunjukkan hasil penglihatan memburuk ketika pengobatan ditunda, sementara lebih dari separuh kasus toksoplasmosis mata yang dilaporkan pada pasien dengan gangguan sistem imun pada awalnya salah didiagnosis, sehingga meningkatkan risiko komplikasi serius.
Profesor João Furtado, dari Universitas São Paulo, mengatakan kesadaran yang lebih besar di kalangan masyarakat dan profesional kesehatan dapat membantu mencegah kehilangan penglihatan yang dapat dihindari.
“Orang sering berasumsi penglihatan kabur, floaters, atau perubahan penglihatan mendadak lainnya akan hilang dengan sendirinya, namun gejala ini terkadang bisa menandakan infeksi mata yang serius,” terang Furtado.
“Penilaian segera sangat penting karena penundaan dapat meningkatkan risiko kehilangan penglihatan permanen secara signifikan.”
Orang dengan sistem kekebalan yang lemah, termasuk oramg dengan HIV, menerima pengobatan kanker, memakai obat penekan kekebalan atau baru pulih dari transplantasi organ, harus sangat waspada karena beberapa infeksi mata dapat berkembang lebih agresif dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.
Smith mengatakan pemeriksaan mata secara teratur dan pelaporan perubahan penglihatan secara tepat waktu dapat memainkan peran penting dalam melindungi penglihatan.
Dia berpesan agar orang-orang jangan abaikan perubahan mendadak pada penglihatan. “Meskipun penyebabnya bisa banyak, penyakit mata menular sering kali dapat diobati, dan hasil terbaik biasanya muncul jika didiagnosis sejak dini,” tandas Furtado. (BS)