Berandasehat.id – Diabetes tipe 2 diprediksi akan menjadi penyakit epidemi yang paling umum terjadi di dunia, dengan perkiraan jumlah penderita mencapai 1,3 miliar orang pada tahun 2050.
Penyakit ini sering kali muncul bersamaan dengan kondisi lain, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, gagal ginjal, penyakit ginjal kronis (PGK), dan depresi, sehingga berkontribusi besar terhadap beban global multimorbiditas.
Kondisi ini menimbulkan penderitaan yang cukup besar bagi para penyandang diabetes tipe 2 serta tekanan ekonomi bagi banyak negara, khususnya negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Risiko mengalami penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, maupun risiko kematian, setelah diagnosis diabetes tipe 2 meningkat secara signifikan seiring berjalannya waktu.
Hal ini terungkap dalam penelitian baru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) di Milan, Italia, berlangsung 28 September hingga 2 Oktober.

Penelitian yang menganalisis data dari lebih dari 1,6 juta pasien di seluruh Amerika Serikat ini menemukan bahwa risiko gabungan untuk mengalami PGK, gagal jantung, atau kematian mencapai rata-rata 33% dalam lima tahun pertama setelah diagnosis diabetes tipe 2, dan meningkat menjadi 55% dalam kurun waktu 10 tahun.
Para peneliti menyatakan bahwa temuan mereka menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih dini, proaktif, dan holistik dalam menangani diabetes tipe 2 guna membantu mengurangi risiko komplikasi serius.
Seberapa cepat dan dalam urutan seperti apa pasien yang baru didiagnosis diabetes tipe 2 akan mengalami komplikasi serius, seperti PGK dan gagal jantung masih belum sepenuhnya dipahami.
Untuk menjawab kesenjangan informasi tersebut, para peneliti menganalisis data dunia nyata dari program studi observasional CALOR.
Tujuan studi adalah untuk memperkirakan risiko terjadinya PGK atau gagal jantung setelah diagnosis baru diabetes tipe 2, risiko munculnya komplikasi lainnya dalam waktu lima tahun setelah komplikasi pertama, serta risiko gabungan untuk mengalami PGK, gagal jantung, atau kematian dalam kurun waktu lima dan 10 tahun setelah diagnosis.
Studi ini mencakup 1.617.508 pasien yang baru didiagnosis menderita diabetes tipe 2 antara 1 Januari 2010 hingga 31 Maret 2024 dari seluruh wilayah Amerika Serikat.
Usia rata-rata peserta saat pendaftaran adalah 59 tahun, dan 51% di antaranya adalah perempuan. Di antara 13% pasien yang memiliki data indeks massa tubuh (BMI) tercatat, nilai rata-rata adalah 30,9 kg/m².
Hampir tiga perempat (72%) peserta juga mengidap dislipidemia (kadar kolesterol dan lemak lain yang tinggi dalam darah), dan lebih dari dua pertiga (68%) memiliki tekanan darah tinggi.
Dalam kurun waktu lima tahun setelah diagnosis awal diabetes tipe 2, risiko mengalami penyakit ginjal kronis terlebih dahulu adalah lebih dari dua kali lipat dibandingkan risiko mengalami gagal jantung terlebih dahulu (19,0% berbanding 8,3%).
Namun, di antara orang yang mengalami gagal jantung terlebih dahulu, terdapat risiko sebesar 42% untuk mengalami penyakit ginjal kronis dalam lima tahun berikutnya.
Sebaliknya, di antara mereka yang mengalami penyakit ginjal kronis terlebih dahulu, terdapat risiko sebesar 23% untuk mengalami gagal jantung dalam lima tahun berikutnya.
Temuan studi terbaru itu dengan jelas menunjukkan bagaimana komplikasi serius yang terkait dengan diabetes tipe 2 meningkat tajam seiring berjalannya waktu, karena kombinasi umum antara obesitas, kadar lemak darah yang tidak normal, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah serta organ-organ vital, menurut Profesor Naveed Sattar dari University of Glasgow di Skotlandia, Inggris, yang turut memimpin studi.
“Hasil studi kami menekankan betapa pentingnya mendeteksi dan menangani diabetes tipe 2 secara menyeluruh sedini mungkin guna membantu mengurangi risiko komplikasi serius,” terangnya.
Studi ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk desain observasionalnya yang tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat.
Penelitian ini juga tidak dapat menepis kemungkinan adanya bias seleksi, suatu keterbatasan umum dalam bukti dunia nyata. Misalnya, perbedaan risiko terkena penyakit ginjal kronis atau gagal jantung berdasarkan ras dan etnis mungkin telah memengaruhi hasil penelitian tersebut. (BS)