Berandasehat.id – Katarak merupakan salah satu masalah mata yang kerap ditemui di Indonesia, yang bisa memicu kehilangan penglihatan jika tak ditangani dengan benar.
Katarak terjadi ketika lensa alami di dalam mata yang semula jernih menjadi keruh, membuat cahaya yang masuk ke mata berkurang atau menyebar sehingga penglihatan menjadi buram seperti berkabut, lebih mudah silau, atau warna terlihat lebih kekuningan.
Proses degeneratif seiring bertambahnya usia memang menjadi penyebab katarak paling umum. Namun, usia bukan satu-satunya faktor.
“Katarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Kondisi seperti diabetes, riwayat trauma atau operasi pada mata, penggunaan obat tertentu, hingga faktor genetik juga perlu diperhatikan,” terang dr. Milzan Murtadha, SpM dalam temu media yang dihelat JEC Eye Hospitals and Clinics di Jakarta, baru-baru ini.
Meskipun banyak dialami orang lanjut usia di atas usia 50 tahun, katarak juga dapat terjadi pada anak, bahkan bayi, yakni katarak kongenital.
Katarak kongenital merupakan kekeruhan pada lensa mata bayi yang terjadi sejak lahir akibat gangguan perkembangan janin, salah satunya dipicu oleh infeksi yang dialami ibu selama masa kehamilan.

“Penyebab katarak kongenital bisa karena genetik atau infeksi selama kehamilan,” ujar dr. Milzan.
Infeksi paling umum yang menyebabkan katarak kongenital adalah rubella (campak Jerman), toksoplasmosis, cytomegalovirus (CMV), herpes simpleks, hingga cacar air bisa menjadi pemicu utama.
Berbagai literatur menyebut risiko terbesar terjadinya katarak kongenital jika ibu terinfeksi pada trimester pertama kehamilan, saat organ penglihatan dan lensa mata janin sedang dalam tahap pembentukan aktif. Dalam hal ini virus atau parasit dari infeksi menembus plasenta dan mengganggu metabolisme serta pembentukan protein normal pada lensa mata janin, sehingga lensa menjadi keruh.
Selain itu, mutasi genetik menyumbang sekitar separuh kasus katarak kongenital akibat kelainan pembentukan protein lensa. Ada anggota keluarga yang pernah mengalami katarak sejak usia dini juga menyumbang risiko katarak kongenital pada keturunan.
“Persentase genetik sporadik, dikatakan sih dari orang tua ke anak itu 10 persen itu ada risiko menurunkan katarak ke anak. Tapi itu bukan angka pasti,” tutur dr. Milzan.
Gejala yang perlu diwaspadai adanya katarak kongenital antara lain pupil mata bayi tampak keputihan, keabu-abuan, atau seperti mata kucing saat terkena pantulan cahaya. Selain itu, bayi kerap mengalami gerakan bola mata berputar atau bolak-balik secara cepat dan tidak terkendali.
Gejala lain adalah bayi kesulitan mengikuti atau merespons sumber cahaya dan benda bergerak di sekitarnya.
Lebih lanjut dr. Milzan menyampaikan, penanganan utama katarak pada bayi dengan operasi pengangkatan lensa mata yang keruh. Tindakan bisa dilakukan di usia dini apabila kekeruhannya mengganggu penglihatan secara signifikan.
Penanganan sesuai kebutuhan pasien
Perkembangan teknologi dewasa ini memberi dokter banyak pilihan untuk menyesuaikan penanganan dengan kebutuhan setiap pasien.
Menurut dr. Milzan, tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari.
“Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pendekatan operasi serta pilihan lensa yang paling sesuai,” terangnya.
Operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa alami yang keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular (IOL).
Perkembangan teknologi membuat proses operasi dan pilihan lensa semakin presisi serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi telah memperluas ukuran keberhasilan operasi katarak, dari sekadar mengangkat lensa yang keruh menjadi upaya menghadirkan kualitas penglihatan yang mendukung mobilitas dan kemandirian pasien.
Salah satu teknologi yang tersedia di JEC adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS), yang memanfaatkan laser femtosecond untuk membantu tahapan penting dalam operasi katarak.
Teknologi ini membantu dokter membuat insisi dan bukaan kapsul lensa secara lebih presisi dan konsisten, sekaligus memecah lensa yang keruh sebelum diangkat sehingga penggunaan energi ultrasonik dapat dikurangi.
Ada berbagai pilihan lensa tanam di pasaran. Namun demikian dr. Milzan mengingatkan tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien.
“Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi. Dari situ, pasien dapat memahami pilihan yang paling sesuai dengan kondisinya,” tandasnya. (BS)