Berandasehat.id – Kemampuan antibiotik dalam membasmi bakteri dapat mengganggu mikrobioma usus yang sehat, bahkan saat obat tersebut sedang mengobati penyakit. Kini, penelitian terhadap pasien kanker menunjukkan bahwa mengurangi asupan gula saat mengonsumsi antibiotik dapat membantu menjaga kesehatan mikrobioma.

“Bagaimanapun cara kami menganalisis data tersebut, sinyal kuat yang sama terus muncul,” ujar salah satu penulis senior studi, Dr. Marcel van den Brink. “Pasien yang lebih banyak mengonsumsi makanan manis saat menjalani pengobatan antibiotik cenderung mengalami penurunan keragaman mikrobioma, karena mikroba agresif mendesak keluar jenis bakteri lainnya.”

Van den Brink menjabat sebagai kepala eksekutif medis di rumah sakit City of Hope, Los Angeles. Temuan studi telah dipublikasikan di jurnal Nature, 30 September.

“Antibiotik mengganggu keragaman bakteri usus, atau mikrobioma, yang berperan penting dalam mendukung sistem kekebalan tubuh dan kesehatan secara keseluruhan,” jelas van den Brink.

Penelitian baru ini fokus pada pasien kanker, karena menjaga keragaman mikrobioma sebelumnya telah dikaitkan dengan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien penyakit tersebut.

Studi melibatkan 173 pasien yang dirawat di rumah sakit akibat kanker darah. Sebagian besar menjalani kemoterapi, sering kali disertai terapi radiasi, untuk menekan sistem kekebalan tubuh menjelang transplantasi sel punca.

Seluruh pasien juga menerima setidaknya satu jenis antibiotik (sering kali jenis yang sangat kuat) untuk membantu melindungi mereka dari infeksi.

Selama lima tahun, tim City of Hope menggunakan sampel tinja dari 158 pasien untuk memetakan keragaman bakteri dalam mikrobioma usus masing-masing.

Mereka juga bekerja sama dengan pihak dapur rumah sakit untuk mendapatkan analisis rinci mengenai 40.000 jenis makanan yang terkandung dalam lebih dari 9.400 porsi makanan yang dikonsumsi pasien selama menjalani perawatan.

“Berbeda dengan studi nutrisi sebelumnya yang mengandalkan ingatan pasien tentang apa yang mereka makan atau survei lain yang kurang akurat, kami memiliki catatan pola makan yang sangat teliti dan dikumpulkan secara real-time,” catat van den Brink. “Hal itu memungkinkan kami menemukan pola-pola yang mungkin mustahil terdeteksi dengan cara lain.”

Tim peneliti menemukan satu pola yang jelas: Pasien yang mengurangi konsumsi makanan manis cenderung memiliki mikrobioma usus yang lebih beragam dan lebih terjaga kondisinya, meskipun mereka menjalani terapi antibiotik.

Kondisi pasien yang gemar mengonsumsi makanan manis justru lebih buruk, terutama terkait dengan semakin dominannya bakteri Enterococcus dalam mikrobioma mereka.

Tim peneliti menemukan bahwa setiap peningkatan 100 gram asupan gula harian (setara dengan kandungan gula dalam satu milkshake ukuran besar), keragaman mikrobioma pada pasien yang mengonsumsi antibiotik menurun sebesar 24%.

Perubahan-perubahan ini dapat berdampak besar pada kesehatan pasien. Para peneliti menyatakan bahwa jika bakteri seperti Enterococcus dibiarkan berkembang di usus, risiko infeksi aliran darah, penyakit graft-versus-host (reaksi penolakan jaringan donor), dan komplikasi lain yang mengancam jiwa bagi pasien kanker akan meningkat.

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh tim City of Hope pada tikus.

Para peneliti mencatat bahwa tikus yang diberi antibiotik sekaligus menjalani diet tinggi sukrosa mengalami pertumbuhan pesat bakteri Enterococcus di usus mereka. Sebaliknya, tikus yang menjalani diet tinggi gula tanpa diberi antibiotik tetap memiliki mikrobioma yang sehat.

“Fakta bahwa penelitian pada hewan mendukung kaitan yang kami temukan dalam data pasien memberikan dasar yang kuat untuk uji klinis di masa depan guna mengevaluasi apakah pengurangan asupan gula selama penggunaan antibiotik dapat melindungi mikrobioma,” ujar van den Brink.

Ia berpendapat bahwa temuan ini dapat memengaruhi penyusunan menu rumah sakit di masa mendatang.

“Banyak makanan dan minuman yang kami anjurkan untuk dikonsumsi pasien rawat inap, seperti minuman bernutrisi tinggi, smoothie, dan minuman olahraga—memiliki kandungan gula yang tinggi,” catat van den Brink. “Hal ini perlu kita pertimbangkan saat meresepkan antibiotik.”

Apakah orang yang tidak menderita kanker perlu mengurangi konsumsi gula saat menjalani pengobatan antibiotik? “Masih terlalu dini untuk menyarankan semua orang yang mengonsumsi antibiotik agar menghindari gula,” kata van den Brink.

“Di sisi lain, kita tidak memiliki bukti kuat bahwa probiotik dapat membantu menjaga atau memulihkan keragaman mikrobioma, namun banyak orang tetap memilih untuk mengonsumsinya.”

Kesimpulan utamanya adalah tidak ada salahnya membatasi asupan gula dalam pola makan kita, dan ini adalah langkah mudah yang bisa dicoba, demikian laporan Healthday. (BS)