Berandasehat.id – Salah satu jenis gangguan irama jantung, fibrilasi atrium (AFib), paling sering terjadi pada orang lanjut usia dan orang dengan masalah jantung lainnya. Namun, kondisi ini juga dapat menyerang anak muda.
Sekitar 800.000 orang Amerika berusia di bawah 40 tahun menderita fibrilasi atrium. Kondisi ini bahkan bisa menyerang remaja dan anak-anak, meskipun lebih jarang terjadi.
Salah satu jenis aritmia ini dapat ditangani dengan pengobatan, namun juga bisa kambuh kembali.
Penyebab AFib pada anak muda
AFib sering kali muncul bersamaan dengan kondisi jantung lainnya, seperti kelainan genetik, gagal jantung, kardiomiopati (pelemahan otot jantung), dan penyakit arteri koroner.
Sering kali, ketika individu lebih muda didiagnosis menderita kondisi ini, hal itu disebut sebagai AFib lone (atau AFib soliter), yang berarti tidak terkait dengan kondisi medis lain yang diketahui.
Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa AFib pada orang muda bisa menjadi tanda adanya kondisi jantung yang lebih serius namun belum terdiagnosis.
Jika ada anggota keluarga lain yang menderita AFib, risiko saudara sekandung untuk mengalaminya pun lebih tinggi.

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium dikutip dari laman WebMD mencakup:
1. Olahraga intensif dalam jangka waktu lama.
Contohnya lari maraton, aktivitas yang lebih sering dilakukan oleh orang-orang yang lebih muda.
2. Kondisi medis lainnya
Ini termasuk tekanan darah tinggi, hipertiroidisme, diabetes, penyakit ginjal, gangguan endokrin, sleep apnea, obesitas, dan infeksi jantung seperti perikarditis.
3. Faktor gaya hidup
AFib telah dikaitkan dengan kebiasaan merokok, penggunaan stimulan seperti minuman berkafein, konsumsi alkohol berlebihan secara sekaligus, serta tingkat stres yang tinggi.
Ubah gaya hidup untuk atasi AFib
Anak muda yang menderita AFib, penting mempelajari kondisi ini, pilihan pengobatan yang tersedia, serta tantangan yang mungkin dihadapi di masa mendatang.
Memilih gaya hidup sehat mungkin lebih penting bagi orang muda penderita AFib dibandingkan mereka yang baru didiagnosis saat usia lanjut, karena yang bersangkutan kemungkinan besar akan hidup dengan kondisi ini untuk waktu yang lama di masa depan.
Hal yang perlu dilakukan antara lain:
* Mengukur dan memantau denyut nadi.
* Berhenti merokok.
* Menerapkan pola makan yang lebih sehat.
* Mengelola stres dan amarah.
* Berolahraga secara teratur.
American Heart Association menyatakan bahwa perubahan gaya hidup masih kurang diperhatikan, kurang dimanfaatkan, dan kurang diteliti dalam penanganan medis AFib.
Jenis-jenis AFib
AFib yang terjadi secara tiba-tiba dan hilang dengan cepat, misalnya dalam waktu satu minggu, disebut AFib paroksismal (istilah yang merujuk pada kejadian mendadak dan tak terduga).
Jenis AFib ini mungkin tidak akan pernah kambuh lagi, atau setidaknya tidak muncul kembali selama bertahun-tahun. Namun, begitu pernah mengalami AFib, terdapat risiko lebih tinggi bahwa kondisi ini akan kambuh dan mungkin berkembang menjadi AFib persisten atau permanen.
Adapun AFib persisten didefinisikan sebagai kondisi yang berlangsung lebih dari satu minggu. Jika berlangsung selama satu tahun atau lebih, kondisi ini disebut AFib persisten jangka panjang.
Berikutnya, AFib permanen terjadi ketika irama jantung normal tidak dapat dipulihkan atau dipertahankan, bahkan dengan pengobatan medis.
Pada titik tertentu, pasien dan dokter mungkin memutuskan bersama untuk menghentikan upaya pengobatan tersebut karena terbukti tidak efektif, atau karena pengobatan dapat menimbulkan efek samping maupun risiko yang berbahaya.
Meskipun AFib biasanya bukan kondisi yang mematikan, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi medis lainnya. Komplikasi yang paling serius adalah stroke. Diagnosis AFib berarti adanya peningkatan risiko stroke hingga lima kali lipat.
Risiko stroke akibat AFib meningkat seiring bertambahnya usia, namun seorang peneliti mengemukakan bahwa stroke yang terkait dengan AFib bisa lebih berbahaya dibandingkan stroke yang tidak terkait dengan kondisi tersebut.
Dampaknya pun bisa sangat mengubah hidup, terutama pada pasien yang lebih muda. Oleh karena itu, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasa berisiko mengalami AFib.
Cara mengobati AFib
* Pencegahan stroke
Dokter mungkin meresepkan obat pengencer darah seperti beta-blocker, coumadin, atau rivaroxaban, dengan tujuan mencegah terbentuknya gumpalan darah yang dapat masuk ke aliran darah.
* Pengendalian denyut jantung
Hal ini berarti mencegah detak jantung yang terlalu cepat dengan menggunakan obat-obatan seperti penghambat beta (beta-blocker), penghambat ACE (ACE inhibitor), antagonis kalsium, atau obat penurun tekanan darah. Pasien mungkin akan menjalani prosedur pemasangan alat pacu jantung permanen di dada.
* Pengendalian irama jantung
Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan obat antiaritmia, yang mencakup penghambat saluran natrium, penghambat beta, penghambat saluran kalium, dan penghambat saluran kalsium.
* Intervensi medis
Jika obat-obatan tidak berhasil, langkah selanjutnya untuk memulihkan irama jantung normal mungkin berupa intervensi medis seperti pembedahan.
Adapun ablasi kateter adalah prosedur medis minimal invasif untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia dengan cara memasukkan selang kecil fleksibel (kateter) melalui pembuluh darah menuju jantung guna menghancurkan jaringan abnormal yang memicu sinyal listrik salah.
Tujuannya mengembalikan detak dan irama jantung agar kembali normal.
Ablasi kateter digunakan untuk mengatasi berbagai jenis aritmia seperti fibrilasi atrium, supraventrikular takikardia, atau flutter. Hal ini menjadi solusi ketika obat-obatan penurun detak jantung tidak efektif atau pasien tidak ingin bergantung pada obat seumur hidup.
Pada orang yang lebih muda dengan AFib yang tidak menunjukkan gejala apa pun, dokter mungkin menyarankan untuk tidak melakukan pengobatan terlebih dahulu guna memantau perkembangannya.
Pendekatan ini disebut sebagai watchful waiting (pemantauan cermat). (BS)