Berandasehat.id – Memantau tekanan darah di rumah dapat membantu mencegah cedera yang mengubah hidup bagi sebagian lansia. Karena itu kondisi ini perlu mendapat perhatian.

Menurut hasil penelitian yang dipaparkan pada pertemuan tahunan American Heart Association mengenai hipertensi, lansia berusia di atas 78 tahun dengan tekanan darah tinggi terselubung (masked high blood pressure) memiliki risiko jatuh 70% lebih tinggi dibandingkan mereka yang telah didiagnosis dengan tepat.

Para peneliti menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi terselubung terjadi ketika hasil pengukuran tekanan darah lansia tampak normal saat diperiksa di klinik/rumah sakit, namun secara konsisten menunjukkan angka tinggi saat diukur di rumah.

“Temuan ini menegaskan bahwa, selain pengukuran tekanan darah di klinik, pemantauan tekanan darah di rumah dapat menjadi cara penting untuk mendeteksi tekanan darah tinggi yang tersembunyi serta risiko jatuh pada kelompok lansia,” ujar peneliti utama Frances Wang, peneliti di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston.

Menurut American Heart Association (AHA), perubahan tekanan darah dapat meningkatkan risiko jatuh dengan menyebabkan pusing atau pingsan.

Temuan ini didasarkan pada data dari lebih dari 750 lansia yang berpartisipasi dalam studi jangka panjang mengenai risiko penyakit jantung. Para peserta berusia antara 78 hingga 98 tahun.

Para peneliti juga membandingkan kejadian jatuh pada kelompok dengan tekanan darah tinggi terselubung dengan kelompok yang mengalami tekanan darah tinggi ‘jas putih’ alias white coat hypertension.

Tekanan darah tinggi ‘jas putih’ adalah kondisi di mana hasil pengukuran menunjukkan angka tinggi saat di klinik, namun rendah saat diukur di rumah.

Dari seluruh peserta, 17% mengalami tekanan darah tinggi ‘jas putih’ sedangkan 15% mengalami tekanan darah tinggi terselubung, dan 33% memiliki hasil pengukuran tekanan darah normal.

Untuk setiap individu, dilakukan beberapa kali pengukuran tekanan darah, baik di rumah maupun di kantor dokter.

Setelah sekitar satu tahun, hampir satu dari empat orang (23%) dilaporkan pernah jatuh setidaknya satu kali, ungkap para peneliti.

Individu dengan tekanan darah tinggi terselubung punya tingkat risiko jatuh 70% lebih tinggi, sementara mereka yang mengalami tekanan darah tinggi ‘jas putih’ justru memiliki risiko jatuh 39% lebih rendah.

“Pengukuran tekanan darah di rumah dapat memberikan informasi kesehatan yang bermanfaat bagi lansia dan—sebagaimana ditunjukkan dalam studi-studi sebelumnya—juga bagi masyarakat umum,” kata Wang.

Peneliti berharap para lansia, anggota keluarga, serta pendamping mampu untuk mengukur tekanan darah secara rutin di rumah dan membagikan data tersebut kepada tim layanan kesehatan, guna membantu menentukan rencana penanganan tekanan darah serta perawatan kesehatan secara menyeluruh.

Pakar relawan AHA, Dr. Karol Watson, sependapat bahwa temuan studi ini menegaskan bahwa tekanan darah yang ‘normal’ saat diperiksa di klinik tidak selalu menjadi gambaran akhir dari kondisi kesehatan seseorang.

“Hal ini perlu dicermati lebih lanjut karena kejadian jatuh sering kali dapat mempercepat penurunan fungsi fisik maupun mental pada pasien, terutama ketika kemandirian fisik mereka hilang,” ujar Watson, ketua bidang kedokteran di David Geffen School of Medicine, UCLA, dalam sebuah siaran pers.

Dia menekankan, studi ini memang tidak menjelaskan mengapa risiko jatuh menjadi lebih tinggi, namun temuan ini mungkin mengisyaratkan sesuatu mengenai variabilitas tekanan darah dan sejauh mana lansia mampu (atau tidak mampu) mengatur tekanan darah mereka sepanjang hari.

“Upaya mengurangi risiko jatuh harus menjadi pertimbangan rutin, khususnya bagi lansia yang memiliki tekanan darah tinggi.”

Para peneliti memaparkan temuan itu pada pertemuan AHA yang berlangsung di Arlington, Virginia, 9 Oktober. Hasil yang disampaikan dalam pertemuan medis harus dianggap sebagai temuan awal sampai diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui proses penelaahan sejawat, demikian laporan Healthday. (BS)