Berandasehat.id – Kabar baik mungkin akan segera tiba bagi jutaan orang yang hidup dengan rasa nyeri dan ketidaknyamanan akibat sindrom iritasi usus besar (IBS), berkat serat yang diformulasikan secara khusus oleh para peneliti di Edith Cowan University (ECU).
Para ilmuwan dari Nutrition and Health Innovation Research Institute NHIRI) di ECU menemukan bahwa campuran serat yang mereka kembangkan, disebut ‘ur gut’—membantu meningkatkan kesehatan usus pada penderita IBS tanpa memperburuk nyeri perut, kembung, diare, atau sembelit yang dialami.
IBS merupakan masalah pencernaan yang umum terjadi di seluruh dunia dan dialami oleh hampir 11% penduduk Australia. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, beberapa pemicu yang mungkin berperan antara lain stres, infeksi, dan penggunaan obat-obatan.
Gejala-gejala IBS sering kali diperparah oleh jenis makanan tertentu, kurang tidur, tekanan psikologis, fluktuasi hormon, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup.
Temuan ini menawarkan pendekatan baru bagi penderita IBS, yang selama ini sering disarankan untuk mengelola gejala dengan membatasi asupan makanan yang mudah difermentasi melalui diet rendah FODMAP.
“Selama bertahun-tahun kita telah mengetahui bahwa diet rendah FODMAP (fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, and polyols) dapat meredakan gejala. Namun, pola makan ini juga dapat mengurangi jumlah bakteri usus yang bermanfaat dan berdampak negatif terhadap asupan serat dalam jangka panjang,” ujar penulis utama studi, Dr. Tina Yan.
Tim peneliti ingin mencari cara untuk meningkatkan kesehatan usus yang lebih baik, sembari tetap menjalani diet rendah FODMAP.
Para peneliti meyakini bahwa kunci keberhasilan ‘ur gut’ terletak pada perpaduan unik antara pati resisten dan sekam psyllium.
Psyllium tampak memperlambat proses fermentasi pati resisten, sehingga pati tersebut dapat mencapai bagian usus besar yang lebih dalam sebelum difermentasi oleh bakteri, yang pada gilirannya meningkatkan produksi metabolit yang bermanfaat.
“Biasanya, serat yang mudah difermentasi bisa menjadi masalah bagi penderita IBS karena dapat meningkatkan produksi gas dan menimbulkan ketidaknyamanan,” jelas Yan.

“Hal yang menarik dari studi ini adalah para peserta tetap memiliki gejala yang stabil, namun di saat yang sama menunjukkan perbaikan yang berarti pada mikrobiota usus mereka, serta penurunan kecemasan yang berkaitan dengan kondisi usus.”
Para peneliti menemukan perubahan signifikan dalam komposisi bakteri usus pada diri para peserta studi. “Perubahan sebesar ini jarang terlihat dalam intervensi yang begitu singkat,” ujar profesor Amanda Devine, salah satu pencipta program kesehatan usus tersebut.
“Studi ini menunjukkan bahwa campuran serat pangan yang kami rancang secara khusus mampu membentuk kembali mikrobioma usus secara positif pada penderita IBS yang sedang menjalani diet rendah FODMAP, dengan mendukung bakteri baik yang berkaitan dengan kesehatan usus maupun kesehatan mental. Hasil ini sangat menggembirakan.”
Tim peneliti meyakini temuan ini dapat membuka jalan bagi pendekatan diet baru yang membantu pasien IBS melampaui sekadar pengelolaan gejala.
Temuan yang dipublikasikan di European Journal of Nutrition, mengisyaratkan bahwa kita mungkin juga dapat secara aktif memulihkan kesehatan usus dan mikrobioma tanpa memperburuk gejala IBS. Ini merupakan langkah maju yang penting. (BS)