Berandasehat.id – Paparan asap kebakaran hutan (karhutla) selama kehamilan mungkin meningkatkan risiko autisme pada anak. Studi terkini mengungkap anak-anak lebih mungkin didiagnosis mengidap autisme jika ibu mereka menghirup asap kebakaran hutan saat hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga.

Dalam publikasi di jurnal JAMA Pediatrics, para peneliti mengungkap setiap peningkatan 0,75 mikrogram per meter kubik polusi partikel di udara yang berasal dari kebakaran hutan, berkaitan dengan risiko 30% lebih tinggi untuk didiagnosis autisme di kemudian hari.

Asap kebakaran hutan dapat terbawa jauh melampaui komunitas tempat kebakaran terjadi, dan paparan bisa saja terjadi meskipun asap tidak terlihat, menurut peneliti utama Dr. Stefania Papatheodorou, ahli epidemiologi di Rutgers School of Public Health, New Jersey.

Temuan teranyar itu menyoroti pentingnya kesadaran akan peristiwa kebakaran hutan dan potensi dampaknya terhadap kualitas udara selama masa kehamilan.

Dalam studi baru ini, para peneliti melacak diagnosis autisme dan ADHD pada lebih dari 893.000 anak yang terdaftar dalam program Medicaid antara tahun 2007 hingga 2014.

Tim peneliti kemudian menggunakan data kualitas udara untuk memperkirakan tingkat paparan asap kebakaran hutan yang dialami ibu saat anak masih dalam kandungan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara asap kebakaran hutan dengan autisme, namun tidak dengan ADHD.

Menurut para peneliti, hubungan dengan autisme paling kuat terlihat pada paparan yang terjadi setelah minggu ke-15 kehamilan.

“Kehamilan merupakan periode perkembangan otak yang pesat, di mana paparan lingkungan dapat mengganggu proses perkembangan yang penting,” kata Papatheodorou.

Temuan studi menunjukkan bahwa tahap pertengahan dan akhir kehamilan mungkin sangat relevan untuk memahami potensi dampak asap kebakaran hutan terhadap perkembangan otak dan risiko autisme.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (U.S. Environmental Protection Agency), polusi partikel halus terdiri dari partikel dengan diameter 2,5 mikron atau lebih kecil. Sebagai perbandingan, sehelai rambut manusia memiliki lebar 50 hingga 70 mikron.

Para peneliti menduga bahwa partikel-partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan di seluruh tubuh, yang berpotensi memengaruhi perkembangan janin.

Para peneliti menyatakan bahwa studi ini melengkapi penelitian lain yang menunjukkan bahwa partikel asap dari kebakaran hutan mungkin lebih berbahaya dibandingkan jenis polusi udara lainnya.

Temuan ini menambah bukti mengenai dampak paparan polusi udara selama masa kehamilan terhadap perkembangan saraf anak. Diperlukan studi lebih lanjut untuk mengonfirmasi hubungan tersebut serta memahami lebih dalam potensi dampak dari asap kebakaran hutan.

Papatheodorou menyarankan agar ibu hamil memantau laporan kualitas udara setempat dan mengikuti panduan kesehatan masyarakat yang ditujukan bagi kelompok rentan saat tingkat polusi meningkat.

Langkah perlindungan yang dapat dilakukan antara lain tetap berada di dalam ruangan saat tingkat polusi tinggi, menggunakan alat penyaring udara, serta mengenakan respirator penyaring partikel saat berada di luar ruangan.

Dokter sebaiknya menyarankan langkah-langkah perlindungan tersebut selama pemeriksaan kehamilan. Konseling mengenai lingkungan selama masa kehamilan oleh tenaga medis sejauh ini masih belum memadai. Terkadang, tenaga medis bahkan tidak menyadari adanya risiko-risiko ini, menurut ulasan Healthday. (BS)