Berandasehat.id – Kerap datang dalam senyap, osteoporosis (pengeroposan tulang) perlu menjadi perhatian bersama. Kondisi ini tak boleh dianggap remeh, pasalnya International Osteoporosis Foundation (IOF) menyebut satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.
Risiko ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan osteoporosis untuk mencegah patah tulang yang dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup.
“Osteoporosis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang. Pada tulang belakang, patah tulang akibat kerapuhan bahkan dapat luput dikenali karena keluhannya tidak selalu berupa nyeri berat,” terang dr. Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan, Siloam Hospitals Mampang, dalan temu media di Jakarta, Jumat (30/10).
Dia menambahkan, oteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang.
Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. “Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal,” cetusnya.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risikonya dan berkonsultasi mengenai pemeriksaan yang tepat sebelum terjadi patah tulang.
Menabung tulang cegah osteoporosis
Kesempatan sama, dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K) – Dokter Spesialis Bedah Tulang, Subspesialis Orthopaedic Sports Injury menyampaikan pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan ‘menabung tulang’ sejak dini.
“Puncak kepadatan tulang manusia dicapai pada usia awal 30-an, setelah itu akan mengalami penurunan secara alami. Jadi begitu puncak sudah lewat, nanti akan turun. Jadi kita berusaha supaya puncak kita tinggi,” ujarnya.
Lantas, bagaimana caranya? “Makanya harus olahraga, kalau nggak olahraga ya puncaknya nggak tinggilah. Olahraga mulai usai belasan tahun,” imbuhnya.
Tulang membutuhkan tekanan agar bisa menjadi padat dan kuat. Oleh karena itu, olahraga yang hanya berfokus pada kardio saja tidak cukup; latihan beban sangat penting untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis) dan penurunan massa otot (sarkopenia).
Menurut dr. Henry, olahraga yang ideal bagi semua kalangan harus mencakup latihan kardio/aerobik, seperti berenang atau bersepeda. Adapun bagi lansia sebaiknya menghindari tekanan berlebih pada lutut) serta latihan beban yang melatih seluruh bagian tubuh secara seimbang, tidak hanya fokus pada bagian depan atau satu area saja.

Lebih lanjut dr. Henry menyampaikan, osteoporosis primer sering kali disebut sebagai silent disease (penyakit diam-diam) karena penderita sering kali tidak menyadarinya sampai terjadi patah tulang akibat jatuh.
Osteoporosis primer pada wanita umumnya dibagi menjadi tipe post-menopausal (terjadi akibat menopause) dan senilis pada orang tua (yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan lanjut usia).
Untuk itu, wanita disarankan untuk memeriksakan kesehatan tulangnya sejak 5 tahun sebelum masa menopause.
“Pencegahan itu lebih baik daripada pengobatan. Kalau sudah osteoporosis, saat jatuh tulang bisa patah, biayanya gede. Tapi kalau pencegahan, diperiksa, mungkin obat-obatannya nggak seberapa,” tandasnya.
Menerapkan gaya hidup sehat dengan metode DESS penting untuk pencegahan osteoporosis. D (Diet), hindari makanan olahan atau makanan cepat saji serta mencukupi kebutuhan protein sebagai bahan dasar pembentukan tulang.
Berikutnya Exercise (E), lakukan kombinasi olahraga kardio dan latihan beban secara konsisten dan konstan, bukan sesekali.
Sleep (S), tidur yang cukup dan berkualitas selama 7–8 jam setiap malam, serta Stress (S), kurangi stres untuk mencegah kenaikan hormon stres, tekanan darah, dan gula darah yang dapat memperparah pengeroposan tulang.
Fracture Liaison Service (FLS) cegah patah tulang berulang
Siloam Hospitals Mampang memperkuat layanan orthopaedi terpadu melalui pengembangan Fracture Liaison Service (FLS) untuk mencegah patah tulang berulang, tujuh program skrining kesehatan tulang dan sendi, serta edukasi publik dan pemeriksaan kepadatan tulang gratis.
Sebagai bagian dari pengembangan FLS, rumah sakit kini tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture® yang dikelola International Osteoporosis Foundation (IOF), dengan status New FLS (Blue Star).
Komitmen tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan ‘Timeless Music, Timeless Movement’ di Grand Indonesia Jakarta, menandai Hari Osteoporosis Sedunia.
“Ketiga inisiatif ini mencerminkan arah pengembangan Siloam Hospitals Mampang yang tidak hanya berfokus pada penanganan cedera dan operasi, tetapi juga deteksi dini, pencegahan patah tulang berikutnya, serta pemeliharaan fungsi gerak dan kualitas hidup pasien,” ujar Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Hospital Director Siloam Hospitals Mampang.
Dia menekankan bahwa penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang.
“Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan lanjutan,” imbuh dr. Wahyuni.
Tujuannya tak lain agar pasien tidak hanya pulih dari patah tulang pertama, tetapi juga mendapatkan perhatian yang tepat untuk mengurangi risiko patah tulang berikutnya. (BS)