Berandasehat.id – Atrial fibrilasi (AF) adalah gangguan irama jantung (aritmia) yang sangat perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan stroke tromboemboli, penggumpalan darah di otak yang bisa berakibat fatal.

AF, salah satu jenis aritmia, ditandai dengan denyut jantung yang tidak beraturan dan sering kali terlalu cepat. Kondisi ini terjadi ketika sinyal listrik di ruang atas jantung (atrium) mengalami kekacauan sehingga atrium hanya bergetar dengan cepat, tidak berkontraksi secara sinkron dengan ruang bawah jantung (ventrikel).

Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Interventional Cardiologist & Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital mengungkap risiko stroke akibat AF tercatat 5 kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa kondisi tersebut. “Atrial fibrilasi itu sesuatu yang harus kita waspadai. Karena risikonya dengan adanya kejadian atrial fibrilasi pasien berpotensi mengalami stroke tromboemboli, penggumpalan darah di otak. Dan risiko itu 5 kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak ada gejala itu,” terangnya di acara Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update (CARES) 2026 bertema ‘The Clinical Crossroads: Decoding Challenges in Modern Cardiovascular Care’ yang dihelat Heartology di Jakarta, Sabtu (31/10).

Risiko stroke yang melonjak hingga 5 kali lipat lebih tinggi karena AF, sebut dr. Faris, karena biasanya mencakup area lebih luas. “Karena berasal dari tromboemboli, dari pembekuan darah yang lepas dari jantung, berukuran lebih besar, hal ini menyebabkan strokenya lebih luas sehingga menjadi lebih parah,” ulasnya.

Karena alasan itu, orang yang memiliki gejala AF sebaiknya tidak boleh anggap enteng. “Stroke karena tromboemboli ini menyebabkan kualitas hidup pasien lebih jelek,” tuturnya.

AF umumnya diderita oleh orang usia lanjut, di atas 55 tahun. Data menyebut 1 dari 3 di kelompok ini berpeluang mengalami AF. Kondisi hipertensi, usia, dan kegemaran konsumsi alkohol merupakan faktor yang memicu timbulnya AF.

Meskipun anak muda umumnya jarang terkena AF, namun dr. Faris mengingatkan atlet atau olahragawan, sport enthusiast bisa mengalami gangguan irama jantung tidak teratur. “Pelari maraton, ultramaraton, triathlon, olahraga dengan intensitas yang tinggi berisiko atrial fibrilasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, olahraga memiliki grafik berbentuk U. “Olahraga itu baik untuk kesehatan, menurunkan kardiovaskular. Sampai titik tertentu, kalau intensitasnya ditingkatkan lagi, naik lagi malah risiko kardiovaskular. Dan di antaranya termasuk adalah atrial fibrilasi, karena di situ ada kerja otot jantung atau jantung yang berlebih, tekanan yang meningkat di atrium. Hal itu yang kemudian akhirnya memicu timbulnya atrial fibrilasi,” urai dr. Faris.

Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K) – dok. Berandasehat

Untuk itu, penting bagi sport enthusiast atau atlet profesional untuk melakukan skrining. “Jadi kalau ada gejala gangguan irama jantung tidak teratur, bisa secepatnya ditangani,” ujarnya.

Dia mengingatkan kalangan masyarakat yang punya riwayat hipertensi, termasuk anak muda, untuk mengobati kondisi ini. Pasalnya, hipertensi merupakan salah satu faktor penting pemicu AF. “Makanya penting untuk mengobati hipertensi, termasuk anak-anak muda dengan kondisi itu. Karena kalau tidak diobati tentu saja akan menjadi rentetan berikutnya adalah komplikasi, termasuk stroke,” urai dr. Faris.

CARES 2026: Transfer pengetahuan untuk pengambilan keputusan klinis

Memasuki tahun ketiga, Heartology berkomitmen untuk terus membagikan pembaruan ilmu pengetahuan medis dan teknologi kardiovaskular kepada masyarakat serta membuktikan bahwa fasilitas kesehatan di Indonesia mampu menangani kasus jantung kompleks tanpa harus merujuk pasien ke luar negeri.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Heartology Cardiovascular Hospital kembali menyelenggarakan CARES 2026, forum bagi dokter umum, kardiolog, dokter bedah, dan perawat untuk membahas berbagai titik persimpangan dalam praktik kardiovaskular modern ketika tenaga medis harus menentukan apa yang perlu dilakukan, kapan dilakukan, dan berdasarkan bukti apa keputusan tersebut diambil.

Tak dimungkiri, perkembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan kemampuan tenaga medis dalam menerjemahkannya menjadi keputusan klinis. “Saat ini kita memiliki semakin banyak pilihan dalam mendiagnosis dan menangani penyakit kardiovaskular. Namun, tantangannya adalah menentukan kapan dan bagaimana pilihan tersebut digunakan secara tepat,” terang dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), Ketua CARES 2026, yang juga Consultant Cardiologist, Cardiovascular Interventionist Heartology Cardiovascular Hospital.

Kesempatan sama, dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital, menegaskan bahwa pengembangan layanan kardiovaskular tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi dan pengetahuan terbaru, tetapi juga membutuhkan kolaborasi serta kemampuan tenaga medis untuk menentukan langkah terbaik bagi setiap pasien.

dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital – dok. Berandasehat

“Kemajuan ilmu dan teknologi kardiovaskular membuka semakin banyak kemungkinan dalam penanganan pasien. Namun, nilai dari setiap kemajuan tersebut ditentukan oleh bagaimana kita menggunakannya secara tepat dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, kondisi individual pasien, serta diskusi lintas disiplin,” bebernya.

CARES 2026 hadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membahas perkembangan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam pengambilan keputusan klinis.

“Melalui CARES 2026, Heartology ingin mendorong ruang belajar dan bertukar pengalaman yang membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis secara lebih terarah, sekaligus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas layanan kardiovaskular di Indonesia,” imbuh dr. Ridwan.

Dia menambahkan, program transfer ilmu dalam CARES menyasar dokter umum, residen, dan perawat agar mampu membaca kondisi awal (red flag) secara tepat di fasilitas kesehatan primer, mengingat penanganan medis yang berkelanjutan sangat krusial sebelum pasien dirujuk ke spesialis. 

Lebih lanjut dr. Ridwan menyampaikan, Heartology menargetkan pembentukan Center of Excellence baru pada 2027 di luar kardiologi – setelah sukses dengan bedah toraks – dengan rencana ekspansi yang kemungkinan besar masuk melalui jaringan Hermina untuk bersinergi.

Dalam sesi symposium, CARES 2026 membahas tiga area klinis, yaitu Valvular Heart Disease melalui tema “The Valve at the Crossroads: From Diagnosis to Definitive Intervention.” Berikutnya Chronic Venous Disease dengan tema “Uncovering Venous Disease: Recognising and Managing Chronic Venous Disease” serta Atrial Fibrillation melalui pendekatan berbasis kasus dalam “Beyond the Irregular Beat: A Case-Based Journey Through Atrial Fibrillation.”

Sementara itu, sesi lokakarya hadirkan pembahasan yang lebih aplikatif, mulai dari Lipid Masterclass, Emergency ECG for GP, Basic WSD Workshop, PFO Associated Stroke, hingga Modern PCI yang membahas penggunaan FFR dan IVUS bagi tenaga cathlab. (BS)