Berandasehat.id – Stroke merupakan salah satu kondisi darurat medis yang membutuhkan tindakan cepat dan tepat untuk meminimalkan kerusakan otak yang lebih serius.
Sistem Code Stroke perlu diterapkan untuk menangani pasien stroke akut dengan cepat dan efektif, guna memaksimalkan peluang pemulihan pasien.
Sistem ini melibatkan koordinasi berbagai tim medis yang bekerja sama sejak pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga intervensi medis lanjutan dilakukan.
“Code Stroke adalah istilah yang digunakan di rumah sakit untuk menandai situasi darurat ketika seorang pasien diduga mengalami stroke,” ujar dr. Sigit Dewanto H., Sp. N, FINS, FINA, Dokter Spesialis Neurologi Fellow Neurologi Intervensi RS Pondok Indah – Puri Indah
Ketika tim medis mendengar “Code Stroke” mereka akan segera bertindak karena setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan otak dari kerusakan permanen.
“Code Stroke dirancang untuk memastikan penanganan segera terhadap pasien yang dicurigai mengalami stroke. Dalam sistem ini, tim medis seperti dokter spesialis neurologi, dokter emergensi, dokter umum, dokter spesialis radiologi, laboratorium, dan farmasi bekerja sama secara terkoordinasi,” ujar dr. Sigit.
Ketika pasien tiba di IGD dengan gejala stroke, sistem ini diaktifkan sehingga seluruh tim medis dapat segera bersiap untuk memberikan perawatan yang diperlukan, mulai dari pemeriksaan awal hingga intervensi medis menggunakan teknologi pencitraan seperti MRI/MRA atau CT-Scan.
Pentingnya respons cepat dalam penanganan stroke
Ada dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik yang disebabkan penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik yang disebabkan oleh adanya perdarahan.
Dalam menangani stroke iskemik, terdapat periode yang disebut sebagai golden period, yaitu periode waktu kurang dari 4,5 jam sejak awal munculnya (onset) gejala agar dapat diberikan penanganan optimal.

Apabila penanganan dilakukan dalam jangka waktu ini, sel-sel otak yang rusak akibat kekurangan oksigen dapat diminimalkan dan potensi pemulihan menjadi lebih besar.
Semakin cepat pasien mendapat penanganan, maka semakin besar peluang pemulihannya dan semakin kecil risiko kerusakan permanen pada otak.
Alur penanganan pasien dalam Code Stroke
Begitu pasien dengan gejala stroke tiba di IGD, dokter akan melakukan pemeriksaan awal dan menanyakan waktu onset gejala. Jika dicurigai stroke dan awal kejadiannya masih dalam jendela golden period, Code Stroke diaktifkan.
Selanjutnya, tim laboratorium segera mengambil sampel darah, dan tim radiologi mempersiapkan pemeriksaan pencitraan untuk memastikan diagnosis stroke dan menentukan apakah stroke disebabkan oleh sumbatan atau perdarahan di otak.
Jika stroke disebabkan oleh sumbatan, tindakan trombolisis menggunakan infus dilakukan untuk memecah sumbatan tersebut.
“Dalam beberapa kasus, terutama jika sumbatan terdapat di pembuluh darah besar ataupun sulit diatasi dengan trombolisis, tim medis dapat memutuskan untuk melakukan mechanical thrombectomy, prosedur endovaskular di mana kateter dimasukkan ke pembuluh darah untuk mengeluarkan sumbatan tersebut,” terang dr. Sigit.
Tantangan dalam implementasi Code Stroke
Penerapan Code Stroke di RS Pondok Indah Group didukung oleh teknologi pencitraan seperti MRI Brain 3 Tesla dan CT-Scan Head 512 Slice yang krusial dalam memastikan jenis stroke yang dialami pasien.
Teknologi ini amat membantu dalam menentukan apakah pasien mengalami stroke iskemik atau hemoragik, karena penanganan untuk kedua jenis stroke ini sangat berbeda. “Tanpa teknologi imaging, diagnosis yang keliru dapat berakibat fatal,” ujar dr. Sigit.
Perlu peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya mendapatkan penanganan medis secepat mungkin setelah gejala stroke muncul.
Masyarakat harus mengenali gejala awal stroke, seperti lumpuh mendadak pada satu sisi tubuh, bicara pelo, tiba- tiba sulit melakukan sesuatu hal yang sederhana, mulut miring, atau gangguan penglihatan, dan segera membawa pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke.
Menurut dr. Sigit, penanganan stroke dengan cepat melalui sistem Code Stroke terbukti mampu menurunkan angka kematian dan tingkat kecacatan yang disebabkan oleh stroke.
“Dengan penanganan yang tepat waktu, risiko kerusakan permanen pada otak dapat diminimalkan, memberikan pasien kesempatan lebih besar untuk pulih secara penuh,” bebernya.
Salah satu inovasi terbaru dalam penanganan stroke adalah mechanical thrombectomy, yang memperpanjang waktu optimal penanganan stroke hingga 24 jam pada kasus tertentu sesuai indikasi.
Prosedur ini sangat bermanfaat bagi pasien dengan sumbatan besar, yang memiliki risiko kematian atau kecacatan tinggi jika tidak ditangani dengan cepat.
Pelatihan berkala bagi tim medis dan integrasi teknologi terkini diharapkan semakin meningkatkan efektivitas Code Stroke di masa depan.
RS Pondok Indah Group telah bekerja sama dengan World Stroke Organization (WSO), khususnya melalui Angels Initiative, yang berfokus pada peningkatan perawatan stroke akut.
Kemitraan ini mencakup pelatihan staf medis mengenai protokol respons stroke seperti Code Stroke, memastikan diagnosis yang lebih cepat, dan hasil intervensi yang lebih baik melalui penggunaan pencitraan medis canggih dan pengobatan seperti trombolisis atau mechanical thrombectomy. (BS)