Berandasehat.id – Penyebaran varian Omicron di dalam negeri bisa dibilang masif. DKI Jakarta misalnya, per 9 Januari 2022 ada 407 kasus, terdiri dari 350 kasus impor dan 57 kasus transmisi lokal. Hal ini diiringi dengan penambahan kasus aktif Covid-19 yang hampir tembus di angka 2.000.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia menyampaikan meningkatnya kasus aktif mayoritas terdeteksi dari pelaku perjalanan luar negeri

Untuk diketahui, kasus aktif Covid-19 di Jakarta per 9 Januari 2022 berjumlah 1.874 kasus.  Jumlah ini terus bertambah dan naik hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan kasus saat libur Nataru 2021 yang hanya mencapai 377 kasus.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Munculnya varian Omicron sudah memicu gelombang baru di sejumlah negara. Kasus COVID-19 dii Indonesia bisa diblang melandai dalam beberapa pekan terakhir, namun demikian hal itu tak menutup kemungkinan akan terjadi puncak varian Omicron. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah menyampaikan puncak Omicron kemungkinan akan terjadi pada akhir Januari 2022.

Namun Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman memprediksi puncak kasus Omicron kemungkinan terjadi belakangan. Hal itu berkaca dari kasus varian Delta. Varian yang ditemukan di India itu mengalami puncaknya pada Maret–April 2021, namun di Indonesia puncak kasus Delta baru terjadi Juni–Juli 2021.

Dicky menyebut varian Omicron tak bisa dianggap enteng, bahkan bisa menelan korban jiwa. “Di Australia terjadi juga bahkan seorang atlet 23 tahun, dan tak ada komorbid, serta sudah vaksinasi 2 dosis,” kata Dicky seperti dikutip JawaPos online, 9 Januari 2022.

Epidemiolog ini menilai Indonesia selalu terlambat dalam hal puncak kasus Covid-19. Sebab hal itu dipengaruhi kondisi geografis dan demografis masyarakat. ”Indonesia ini terlambat puncak kasusnya. Menurut saya puncak bukan Januari. Kita ini beda dari sisi demografis dan geografis,” jelas Dicky.

Dicky memprediksi puncak kasus Omicron bakal terjadi pada Februari hingga Maret 2022. Alasannya, dalam kurun waktu itu imunitas masyarakat yang divaksinasi mulai turun, sementara populasi masyarakat masih berjuang menghadapi varian Delta dan Omicron. “Di situlah Delta dan Omicron bisa masuk kalau kita tak melakukan mitigasi,” ujarnya.

Menurutnya, tak ada istilah gejala ringan – bahkan untuk varian Omicron. “Sebab, semua varian tetap bisa menyebabkan 1 persen fatalitas atau kematian dan bisa menyebabkan pasien masuk ICU (ruang perawatan intensif),” ujarnya.

Memang dengan banyaknya orang yang sudah divaksinasi, kata dia, jumlah orang yang memiliki imunitas makin banyak. Akan tetapi di sisi lain, varian Omicron mampu mereinfeksi seseorang terinfeksi kembali (disebut infeksi terobosan). ”Maka ini akan sangat rawan. (Apalagi) Banyak orang abai maskernya,” tandas Dicky. (BS)