Berandasehat.id – Sebuah tim peneliti di perusahaan genomik dan bioteknologi 23andMe telah menemukan bahwa orang dengan lokus genetik tertentu 11% lebih mungkin kehilangan kemampuan untuk mencium atau menyecap rasa karena infeksi COVID-19. 

Dalam makalah terbaru, kelompok tersebut mempelajari genom 70.000 orang dewasa Amerika Serikat dan Inggris, mencari gen yang terkait dengan hilangnya rasa dan bau selama infeksi COVID-19.

Sejak awal pandemi, dokter telah melaporkan pasien yang mengalami kehilangan penciuman dan/atau rasa terkait COVID-19, tetapi menjadi jelas bahwa hanya beberapa orang yang terinfeksi yang mengalami gejala ini. 

Ilustrasi pasien Covid-19 (dok. istimewa)

Dalam studinya, para peneliti ingin mengetahui alasannya, dan untuk mencari tahu hal itu mereka mengamati data yang terakumulasi selama pandemi dari berbagai upaya penelitian. Secara keseluruhan, tim peneliti menggunakan data dari lebih dari 1 juta peserta penelitian yang menggambarkan sendiri gejala COVID-19 mereka dalam studi. 

Para peneliti memusatkan perhatian pada peserta yang melaporkan kehilangan penciuman atau rasa, yang mempersempit daftar individu menjadi 68.841.

Tim studi kemudian membandingkan bagian genom yang diketahui terkait dengan rasa dan penciuman pada mereka yang kehilangan indra ini dengan genom orang yang tidak terinfeksi. Mereka menemukan daerah di kromosom 4 yang terletak di dekat dua varian gen, UGT2A1 dan UGT2A2, keduanya sebelumnya terkait dengan bau dan juga dalam metabolisme bau. 

Ternyata, orang-orang dalam penelitian dengan gen varian 11% lebih mungkin mengalami kehilangan penciuman atau rasa. Namun, masih belum diketahui bagaimana virus SARS-CoV-2 berinteraksi dengan enzim yang terkait dengan kedua gen tersebut. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa virus menginfeksi sel sustentacular, yang berperan dalam memproses bau di udara. Dengan demikian, langkah selanjutnya para peneliti akan melihat perbedaan enzim yang dihasilkan oleh orang dengan varian genetik untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan sel tersebut, baik dalam kondisi normal maupun saat terinfeksi COVID-19, demikian menurut studi yang dipublikasikan di Nature Genetics. (BS)