Berandasehat.id – Sejumlah penyintas COVID masih merasakan gejala yang menetap bahkan berbulan-bulan setelah dinyatakan negatif. Gejala menetap ini, disebut Long COVID, mengurangi kualitas hidup dan bahkan sejumlah orang tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaan lamanya.

Para dokter di UT Health Austin mencoba memecahkan teka-teki mengapa beberapa pasien COVID-19 tetap sakit selama berbulan-bulan atau bahkan lebih dari setahun. Sejak Juli lalu, orang-orang yang disebut memiliki Long COVID telah dirawat di program pasca-Covid-19 di UT Health Austin, cabang klinis University of Texas Dell Medical School.

Lantas bagaimana para penderita Long COVID ini diobati? Dr. W. Michael Brode, yang menjabat sebagai Direktur Medis Program Pasca-Covid-19, mengatakan pada awalnya, dokter mengobati setiap gejala untuk mencoba meredakannya. 

Ilustrasi Long Covid (dok. istimewa)

Saat ini mereka bersandar pada perawatan yang terbukti berhasil untuk sindrom kelelahan kronis atau disautonomia, yaitu ketika tubuh tidak dapat mengatur sistem saraf otonom. Beberapa obat antidepresan yang lebih merangsang telah terbukti membantu mengatasi kelelahan dan kecemasan. Ini juga membantu peradangan di otak.

“Dokter meresepkan terapi fisik, tetapi bukan kursus standar yang Anda jalani untuk membangun kekuatan. Protokol baru telah ditulis untuk menyediakan terapi fisik yang dirancang untuk orang-orang dengan malaise pasca-aktivitas. Itu berarti perlahan-lahan mulai bergerak lagi,” kata Brode.

“Saya belum pernah bertemu siapa pun yang berhasil menembus tembok itu,” kata Brode. “Dalam semua skenario, hal itu malah membuatnya lebih buruk.”

Dokter juga dapat meresepkan terapi kesehatan mental untuk membantu efek jangka panjang dari penyakit kronis.

Terapi untuk Mengobati Gejala Long Covid

Sebagian besar terapi lain adalah tentang mengobati gejala. Melatonin dua jam sebelum tidur disarankan untuk orang yang mengalami kesulitan tidur. Untuk orang-orang yang kehilangan indra penciuman, steroid hidung dan terapi penciuman dapat membantu mendapatkan kembali indra penciuman yang sempat menghilang. Orang dengan sakit kepala harian ditawari obat.

Diakui sejauh ini belum ada terapi yang ditargetkan khusus untuk Long COVID, tetapi Brode berharap akan ada dan program pasca-COVID di UT Health akan dapat berpartisipasi dalam uji klinis untuk itu.

Apa yang harus dilakukan jika gejala COVID-19 tetap ada? Umumnya sebagian besar gejala COVID-19 yang tersisa akan mulai membaik dalam empat hingga 12 minggu setelah infeksi awal. 

Bila kondisinya tak kunjung membaik, segera temui dokter perawatan primer, terutama jika gejala semakin parah, ada gejala baru, atau sudah empat minggu tidak ada perbaikan.

Atasi gejala yang masih ada dengan menggunakan obat batuk yang dijual bebas untuk batuk atau asetaminofen untuk sakit kepala. Jika mengalami masalah pencernaan, cobalah makanan kecil lebih sering dan tetap terhidrasi.

Jika pusing saat bangun, bangunlah perlahan agar tekanan darah bisa menyesuaikan. Brode mengatakan dia telah melihat banyak orang dirawat di rumah sakit akibat jatuh setelah infeksi COVID-19.

Jika kelelahan atau mengalami kabut otak (brain fog), jangan mencoba untuk memaksakannya dan melakukan hal terlalu banyak karena dapat memperburuk gejala. Sering-seringlah beristirahat dan perlahan bangun kembali ke tingkat aktivitas biasa.

“Saya pikir ini adalah waktu untuk benar-benar mendengarkan tubuh, memberi diri sendiri beberapa rahmat dan beristirahat ketika tubuh berkata begitu,” kata Brode.

Tetapi jika mengalami kesulitan untuk kembali ke aktivitas biasa, sebut Brode, terapi fisik dari seseorang yang tahu cara merawat orang setelah COVID-19 itu penting dilakukan.

Jika keadaan belum membaik dalam tiga bulan, mintalah rujukan ke program pasca-COVID, saran Brode seperti dikutip dari MedicalXpress. (BS)