Berandasehat.id – Obesitas merupakan masalah global yang terus menunjukkan tren naik. Mengingat ini menjadi masalah serius, obesitas dinyatakan sebagai penyakit bukan suatu gangguan atau kelainan kesehatan oleh American Medical Association (AMA) pada 2013. American Medical Association menyebut obesitas adalah penyakit kronis, yang didefinisikan sebagai penyakit yang berlangsung satu tahun atau lebih dan memerlukan perhatian medis yang berkelanjutan atau membatasi kegiatan hidup sehari-hari.

Obesitas perlu diwaspadai di kalangan anak muda dengan perubahan gaya hidup, khususnya di masa pandemi. “Masyarakat kelompok usia dewasa muda berpotensi mengalami obesitas karena terjadinya perubahan aktivitas fisik dan meningkatnya konsumsi makanan tinggi kalori dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi,” ujar Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI Elvieda Sariwati dalam temu media daring Festival Komunitas #BeatObesity 2022 Nutrifood bersama mitra strategis Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (7/3/2022).

Ilustrasi gula garam lemak (dok. istimewa)

Obesitas perlu mendapat perhatian serius karena dikaitkan dengan penyakit kronis lainnya, penyakit jantung, kanker, dan diabetes tipe 2. Laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) menyebut orang obesitas memiliki sejumlah masalah kesehatan serius, termasuk hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke, dan beragam penyakit kanker.

Data Riset Kesehatan Dasar menyebut, di Indonesia, prevalensi obesitas untuk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 14,8% di tahun 2013 menjadi 21,8% di tahun 2018. Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi makanan yang tidak sehat sejak pandemi.

Perubahan gaya hidup selama pandemi seperti konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih serta berkurangnya aktivitas fisik berpotensi meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, masyarakat yang mengalami obesitas diketahui memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi sebesar 8 kali lipat.

Selain diabetes, obesitas juga dihubungkan dengan peningkatan risiko hipertensi hingga 5 kali lipat 5 dan risiko penyakit jantung hingga 2 kali lipat. “Obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi juga merupakan faktor komorbid COVID-19, yang dapat meningkatkan risiko tingkat keparahan dan kematian saat positif terpapar COVID-19,” ujar Elvieda.

Kesempatan sama, dokter spesialis gizi klinik, Marya Haryono, menguraikan obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebih akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama. “Ditambah lagi dengan tingginya frekuensi kegiatan online selama pandemi ini, membuat anak muda memiliki kebiasaan ngemil atau mengonsumsi jenis makanan tinggi gula, garam, lemak sambil belajar atau bekerja, diikuti dengan kurangnya aktivitas fisik selama mereka di rumah, yang dapat menyebabkan lemak semakin menumpuk dan berisiko obesitas,” terangnya.

Marya menambahkan, kegemukan dapat dicegah saat masih muda dengan mengatur keseimbangan energi dalam tubuh. “Bisa dimulai dari mengatur pola tidur atau istirahat yang cukup, pola aktivitas fisik yang kontinu dengan intensitas rendah sampai sedang, pola emosi makan yang perlu diatur karena kebiasaan makan dengan jumlah berlebih dan cenderung memilih jenis makanan tidak sehat yang tinggi gula, garam, dan lemak disebabkan oleh emosi,” ujarnya. 

Selain itu, imbuh Marya, pola makan perlu diperhatikan sesuai jumlah, jenis, jadwal makan, dan pengolahan bahan makanan yang dianjurkan, yaitu jumlah sayur sebesar 2 kali lipat jumlah sumber karbohidrat dan protein, serta memperhatikan label kemasan sebelum makan guna membatasi asupan gula, garam, lemak yang ada di makanan dan minuman. 

“Hal ini penting agar kita dapat lebih sadar akan jumlah gula, garam, dan lemak yang dikonsumsi setiap harinya. Anak muda perlu melakukan pengelolaan ini sedini mungkin agar dapat melawan obesitas,” tutur Marya.

Cermat Baca Label Gizi

Guna mengetahui asupan gula, garam, dan lemak dari pangan olahan kemasan, konsumen sebaiknya lebih cermat dalam membaca label gizi kemasan pangan olahan yang dikonsumsi. Dalam hal ini, kita perlu memperhatikan empat informasi nilai gizi dalam label kemasan, yaitu jumlah sajian per kemasan, energi total per sajian, zat gizi (lemak, lemak jenuh, protein, karbohidrat (termasuk gula)) dan persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) per sajian.

Direktur Standardisasi Pangan Olahan Badan POM RI, Anisyah, mengatakan, idealnya dalam sehari masyarakat dapat mengonsumsi gula tidak lebih dari 50 gram (setara 4 sendok makan), garam tidak lebih dari 5 gram (setara 1 sendok teh), dan lemak tidak lebih dari 67 gram (setara 5 sendok makan). 

Dengan selalu cermat membaca label kemasan dan menjadikannya sebagai kebiasaan, maka masyarakat akan lebih cerdas untuk memilah zat gizi apa yang harus dipenuhi dan yang harus dibatasi agar terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya obesitas.

Dalam upaya menggaungkan hidup sehat, Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, menyampaikan selama lebih dari 43 tahun, Nutrifood berkomitmen dalam mengedukasi dan menginspirasi masyarakat Indonesia untuk selalu menjalankan gaya hidup sehat setiap saat, termasuk di masa pandemi.

“Sejak 2013, kami secara aktif berkolaborasi dan mendapatkan dukungan dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI untuk mengedukasi tenaga kesehatan, komunitas, media, dan masyarakat melalui kampanye Cermati Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (#BatasiGGL) serta Baca Label Kemasan,” ujar Susana.

Susana sepakat bahwa obesitas adalah isu serius dapat berdampak negatif bagi kesehatan, termasuk meningkatkan risiko penyakit tidak menular. “Perlu adanya kerja sama seluruh pihak dalam mengatasi isu ini,” imbuhnya.

Selain bekerja sama dengan Kemenkes dan BPOM RI, Nutrifood juga melakukan berbagai program edukasi, baik secara online maupun offline bagi para mitra lainnya seperti pemerintah, komunitas, media, sekolah, dan masyarakat umum akan pentingnya gaya hidup sehat serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak. 

“Kami juga mengadakan program #BeatObesity khusus bagi karyawan kami dengan status overweight dan obesitas serta yang memiliki sindrom metabolik, untuk menjalani program hidup sehat dan penurunan berat badan. Hal ini sejalan dengan misi Nutrifood yaitu Inspiring a Nutritious Life,” pungkas Susana. (BS)