Berandasehat.id – Pemirsa televisi dan penonton yang berada di lokasi sama-sama menyaksikan dengan takjub ketika aktor Will Smith naik ke atas panggung dan memukul wajah presenter penghargaan dan komedian Chris Rock setelah dia mengarahkan lelucon pada istri Smith, Jada Pinkett Smith, untuk kepalanya yang gundul, di ajang Academy Awards, baru-baru ini.

Pinkett Smith tampil gundul bukan karena mode. Aktris ini secara terbuka berbagi perjuangannya dalam menghadapi Alopecia areata, merupakan gangguan yang menyebabkan sistem kekebalan menyerang folikel rambut. Bagi banyak orang, kondisi itu juga dapat membawa stigma dan memicu perasaan depresi atau penyakit mental lainnya.

Will Smith dan Jada Pinkett Smith (dok. istimewa)

‘Guyonan’ Chris Rock itu memanaskan media sosial, dan sentimen kuat terdengar dari mereka yang secara pribadi terkena alopecia.

Dampak dari Alopecia areata adalah kerontokan rambut, yang dapat bervariasi dari ‘pitak’ berukuran seperempat area kepala hingga kehilangan semua rambut kepala atau bahkan seluruh tubuh. 

Sekitar 700.000 orang di AS memiliki Alopecia areata, menurut sebuah studi tahun 2020. Dari mereka, sekira setengahnya adalah wanita, dan lebih dari 77% berkulit putih. 

Penyakit Tidak Pernah Lucu

Komentar Chris Rock dapat memicu jutaan orang yang terkena dampak kerontokan rambut, demikian pendapat Carolyn Goh, MD, dokter kulit di UCLA Health. “Sebagai orang yang memiliki masalah alopecia, saya menganggapnya sebagai mikroagresi,” kata Goh. “Saya telah mengalami banyak komentar serupa. Ini menumpuk dari waktu ke waktu dan membuat kita lelah. ”

Salah satu pengguna Instagram yang berbasis di Inggris, Kitty Dry, mengatakan ekspresi di wajah Pinkett Smith mewakili rasa sakit yang dirasakan oleh banyak orang dengan kondisi ini.

“Saya ingin mengawali posting ini dengan mengatakan bahwa saya sama sekali tidak memaafkan kekerasan apa pun, tetapi terima kasih Will Smith,” kata Dry, 23, yang didiagnosis menderita Alopecia universalis setelah kehilangan semua rambutnya dalam 12 minggu. “Tamparan itu untuk siapa saja dengan alopecia yang pernah menjadi sasaran lelucon, komentar, atau tatapan yang tidak diinginkan.”

Yang lain memposting komentar yang meningkatkan kesadaran akan kematian tragis Rio Allred, seorang gadis 12 tahun dengan alopecia yang meninggal karena bunuh diri minggu lalu.

Allred dikatakan telah mengalami intimidasi serius di sekolah, termasuk insiden teman-teman sekelasnya melepas wignya dan memukul kepalanya, menurut Canadian Alopecia Areata Foundation.

“Merupakan hal umum bagi mereka yang memiliki kondisi rambut rontok merasa tidak berdaya, dan terkadang bingung,” kata Amy McMichael, MD, seorang profesor dan ketua Departemen Dermatologi di Wake Forest School of Medicine.

Itulah mengapa sangat penting bagi orang-orang tersebut untuk menemui dokter kulit bersertifikat, sehingga mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. “Sebagai dokter kulit, kami tidak hanya dapat mendiagnosis jenis alopecia, tetapi kami juga dapat memberikan perawatan,” kata McMichael.

Dokter kulit juga dapat membantu menghubungkan pasien ke organisasi yang menangani perjuangan fisik dan emosional orang-orang yang mengalami kerontokan rambut, seperti National Alopecia Areata Foundation dan Scarring Alopecia Foundation.

Dia berharap acara tadi malam menunjukkan kepada orang-orang “banyak wajah rambut rontok” dan menunjukkan bahwa kondisi ini dapat terjadi pada orang-orang dari segala usia, etnis, dan jenis kelamin.

Yayasan Alopecia Areata Nasional menyebut apa yang terjadi di Oscar sebagai momen ‘pembelajaran’. “Kami mendorong komunitas kami dan masyarakat luas untuk mempelajari lebih lanjut tentang Alopecia areata sehingga kita dapat mengakhiri stigma seputar penyakit ini,” kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan.

Goh mengatakan bahwa siapa pun yang mengalami kerontokan rambut harus merasa bebas untuk mencari penyebab medis potensial dan, jika perlu, mencari perawatan kesehatan mental juga, demikian dikutip dari laman WebMD. (HG)