Berandasehat.id – Wanita hamil yang tertular COVID-19, infeksi tersebut – meskipun ringan – maka infeksi virus itu dapat merusak respons kekebalan plasenta terhadap infeksi lebih lanjut, menurut sebuah studi yang dipimpin oleh UW Medicine, yang dipublikasikan di American Journal of Obstetrics & Gynecology, 17 September.

“Ini adalah studi terbesar hingga saat ini tentang plasenta dari wanita yang terinfeksi COVID-19 selama kehamilan,” terang Dr. Kristina Adams Waldorf, penulis senior dan profesor kebidanan dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Washington. “Kami terkejut menemukan bahwa wanita tertular COVID-19 selama kehamilan memiliki plasenta dengan respons kekebalan yang terganggu terhadap infeksi baru.”

Temuan ini disebut Adams Waldorf sebagai puncak gunung es tentang bagaimana COVID-19 dapat mempengaruhi perkembangan janin atau plasenta.

Di awal pandemi, banyak yang mengira bahwa COVID-19 tampaknya tidak membahayakan janin yang sedang berkembang karena sangat sedikit bayi yang lahir dengan infeksi COVID-19. “Tapi apa yang kita lihat sekarang adalah bahwa plasenta rentan terhadap COVID-19, dan infeksi mengubah cara kerja plasenta, dan pada gilirannya kemungkinan akan berdampak pada perkembangan janin,” terang Adams Waldorf.

“Sampai saat ini, studi tentang bagaimana COVID-19 dapat mempengaruhi perkembangan janin atau anak sangat terbatas karena anak-anak masih sangat kecil,” imbuh rekan penulis Dr. Helen Feltovich, profesor dan direktur medis asosiasi untuk pencitraan kedokteran ibu dan janin di Intermountain Healthcare, Utah.

“Studi kami menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19 pada titik mana pun selama kehamilan perlu dipantau saat anak itu tumbuh dewasa,” saran Feltovich.

Ilustrasi kehamilan (dok. istimewa)

Plasenta memiliki peran penting, yakni memberikan nutrisi, oksigen, dan perlindungan kekebalan bagi janin sampai saat kelahiran. Studi yang dipimpin oleh Adams Waldorf menunjukkan bahwa wanita yang tertular COVID-19 memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang tidak tertular COVID-19. 

Studi lain telah menemukan bahwa wanita hamil lebih mungkin untuk berisiko rawat inap atau kelahiran prematur, berdasar data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Tidak diketahui bagaimana varian COVID-19 yang berbeda dapat mempengaruhi ibu atau janin, Adams Waldorf dan Feltovich setuju soal ini.

“Mempelajari setiap varian secara real time sangat menantang,” kata Adams Waldorf. “Karena kejadian begitu cepat, kami tidak dapat mengikutinya. Kami tahu bahwa varian Delta COVID-19 lebih buruk bagi ibu hamil, karena ada lonjakan kelahiran mati, kematian ibu dan rawat inap pada waktu itu.”

Terlepas dari variannya, Adams Waldorf menekankan penting agar perempuan tidak tertular COVID-19. Wanita yang sedang hamil pertama-tama harus divaksinasi dan dikuatkan, dan tetap berada dalam lingkaran ketat individu yang juga divaksinasi dan dikuatkan. Dia mengakui itu mungkin berarti mengasingkan diri selama kehamilan.

Jaringan plasenta diperoleh dengan persetujuan pasien baik melalui Intermountain Healthcare Research Institutional Review Board, di Salt Lake City, Utah, atau University of Washington Human Subjects Division. Jaringan plasenta dikumpulkan oleh penyedia medis pada saat melahirkan.

“Penyakit ini mungkin ringan, atau mungkin parah, tetapi kami masih melihat efek abnormal ini pada plasenta,” katanya. “Tampaknya setelah tertular COVID-19 dalam kehamilan, plasenta ‘habis’ oleh infeksi, dan tidak dapat memulihkan fungsi kekebalannya.”

Dalam penelitian ini, total 164 wanita hamil yang diteliti, terdiri dari 24 pasien sehat tidak terinfeksi sebagai kelompok kontrol dan 140 wanita yang tertular COVID-19. Kedua kelompok melahirkan pada waktu yang hampir bersamaan, 37 hingga 38 minggu. Kelahiran prematur terjadi hampir 3 kali lipat pada pasien dengan COVID-19 jika dibandingkan dengan mereka yang tidak. 

Sekitar 75% pasien dengan COVID-19 tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan, menurut penelitian tersebut, dilaporkan laman MedicalXpress. (BS)