Berandasehat.id – Tidak semua alergi susu itu sama. Alergi protein susu sapi (APSS) nyatanya tidak memiliki ‘wajah’ yang sama pada setiap anak. Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa sama rata.
Secara klinis, kondisi ini memiliki tingkat gejala yang berbeda – mulai dari ringan, sedang, hingga berat – tergantung pada jenis dan intensitas gejala serta respons tubuh anak terhadap protein susu sapi.
Gejala APSS dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ruam kulit, gangguan pencernaan, hingga perubahan perilaku anak setelah mengonsumsi susu atau produk turunannya. Karena gejalanya tidak selalu khas, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa keluhan yang dialami anak berkaitan dengan alergi.
Karena itu, Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menyampaikan bahwa pendekatan penanganan alergi susu sapi harus berbasis evaluasi medis yang individual. “Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan,” ujarnya di acara World Allergy Week 2026 yang dihelat Sarihusada di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, sekitar 50 hingga 60 persen anak dengan APSS mengalami gangguan pada saluran pencernaan seperti kolik, konstipasi, muntah, dan diare. Persentase yang sama juga mengalami gejala pada kulit berupa kemerahan, bentol disertai rasa gatal, hingga pembengkakan pada bibir atau kelopak mata.
Sementara itu, sekitar 20 hingga 30 persen anak menunjukkan gejala alergi pada saluran pernapasan, seperti pilek alergi, batuk kronis, atau napas berbunyi (wheezing) yang sering kali tidak disertai demam.
Uniknya, gejala-gejala ini sering tumpang tindih. Artinya satu anak bisa mengalami satu gejala, tapi juga bisa mengalami dua atau lebih gejala sekaligus.
Alergi protein susu sapi memengaruhi kenyamanan anak secara signifikan, termasuk terganggunya asupan nutrisi dan kualitas tidur akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Karena itu, konsultasi dengan dokter anak sejak dini menjadi penting. Tujuannya bukan hanya untuk memastikan diagnosis, tetapi juga agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik anak.
Pasalnya, jika tidak terdiagnosis dan ditangani dengan tepat, dalam jangka panjang hal ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Lebih lanjut dr. Molly menyampaikan, ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun demikian ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan anak yang alergi protein susu sapi.
Untuk anak yang membutuhkan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, sebut dr. Molly, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak.
Formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan-sedang, amino acid formula (AAF) diberikan untuk kondisi alergi yang lebih berat atau apabila alergi tidak bisa ditangani dengan EHF, sedangkan formula soya sebagai alternatif pada alergi ringan-sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF.
Dia mengingatkan susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi. Pasalnya, tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga.
Self dagnosis jadi kendali tangani alergi
Salah satu tantangan yang masih sering ditemukan adalah kecenderungan orang tua melakukan diagnosis sendiri (self diagnosis) berdasarkan informasi internet atau media sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan akurasinya.
Menurut Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, diagnosis mandiri dapat membuat orang tua terjebak dalam proses trial and error yang berkepanjangan.
Dia menyampaikan sudah ada penelitian yang menunjukkan enam dari sepuluh orang tua melakukan self-diagnosis. “Padahal self-diagnosis itu berisiko salah dan akhirnya memicu trial and error yang berulang,” terang dr. Ray.
Menurutnya, proses trial and error yang dilakukan orang tua dalam menangani alergi anak, dalam hal ini mencoba berbagai jenis makanan atau susu tanpa panduan medis dapat memperpanjang paparan alergen dan meningkatkan peradangan pada saluran cerna anak. Imbasnya, kondisi ini berpotensi mengganggu penyerapan zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
“Yang paling ditakuti adalah ketika sistem pencernaan terus mengalami proses trial and error. Penyerapan zat gizi menjadi tidak optimal sehingga risiko gagal tumbuh meningkat,” ulas dr. Ray.

Dia menambahkan, tata laksana yang tidak tepat berisiko menyebabkan kekurangan asupan nutrisi dalam jangka panjang. “Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berujung pada stunting,” ujar dr. Ray seraya menambahkan studi menunjukkan risiko stunting mencapai hingga 24 persen pada kelompok anak dengan alergi protein susu sapi.
Karenanya, orang tua disarankan memanfaatkan informasi digital sebagai sarana skrining awal saja, namun bukan sebagai alat diagnosis, apalagi mencari solusi sendiri untuk mengatasi alergi susu sapi pada anak.
Kabar yang melegakan, alergi protein susu sapi dapat membaik seiring bertambahnya usia anak, bahkan sembuh. “Bisa sembuh. Namun yang perlu diawasi adalah perjalanan alergi berikutnya, dikenal sebagai allergy march, ketika alergi susu sapi membaik tetapi muncul bentuk alergi lain seperti asma atau dermatitis atopik,” jelas dr. Ray.
Atas alasan inilah penangaan alergi anak harus bekerja sama dengan dokter untuk menemukan solusi yang tepat. (HG)