Berandasehat.id – Menelusuri aliran berita, unggahan media sosial yang meresahkan tanpa henti telah menjadi rutinitas harian banyak orang. Aktivitas menjelajah medsos kerap terjadi sebelum tidur, selama istirahat kerja, atau segera setelah bangun tidur.

Namun, para peneliti kesehatan mental memperingatkan bahwa paparan berulang terhadap siklus konten negatif dapat memiliki konsekuensi lebih dari sekadar menghabiskan waktu di depan layar.

Studi menunjukkan bahwa kebiasaan tanpa henti menggulir layar di media sosial atau internet untuk membaca berita dan konten yang bernuansa negatif (doomscrolling) yang berlebihan dapat berkontribusi pada tingkat kecemasan yang lebih tinggi, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan dalam cara orang mencari dan memproses informasi.

Meskipun platform media sosial dirancang untuk membuat pengguna tetap terlibat, para ahli mengatakan bahwa otak manusia sangat rentan terhadap konten yang memicu rasa takut, marah, atau ketidakpastian.

Doomscrolling mengacu pada konsumsi informasi negatif atau menyedihkan secara berulang kali secara online, sering kali untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang dimaksudkan.

Perilaku ini menjadi sangat meluas selama periode krisis, termasuk pandemi COVID-19, ketika banyak orang bergantung pada platform digital untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kesehatan, keselamatan, dan peristiwa dunia.

Para peneliti percaya bahwa sebagian alasan mengapa doomscrolling sulit dihentikan adalah kecenderungan alami otak untuk memprioritaskan ancaman.

Dari perspektif evolusi, manusia secara alami cenderung memperhatikan potensi bahaya. Informasi negatif dapat terasa lebih mendesak karena mengidentifikasi ancaman secara historis penting untuk kelangsungan hidup.

Namun, dalam lingkungan digital modern, naluri yang sama dapat menyebabkan orang berulang kali memeriksa berita utama yang mengkhawatirkan, bahkan ketika hal itu meningkatkan stres.

Sebuah studi tahun 2022 menemukan bahwa paparan yang lebih besar terhadap berita terkait COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan tekanan psikologis di antara peserta selama bulan-bulan awal pandemi.

Meskipun studi tersebut berfokus pada informasi terkait pandemi, para peneliti mengatakan temuan tersebut menyoroti bagaimana paparan berulang terhadap konten yang mengancam dapat memengaruhi kesehatan mental.

Doomscrolling, kecemasan, dan respons stres

Salah satu kekhawatiran terbesar seputar konsumsi media negatif yang berlebihan adalah hubungannya dengan kecemasan.

Ketika orang berulang kali menemukan konten yang mengkhawatirkan, otak dapat menafsirkan aliran ancaman yang terus-menerus sebagai alasan untuk tetap waspada. Hal ini dapat memicu respons stres tubuh, meningkatkan kadar hormon stres dan membuatnya lebih sulit untuk rileks.

Bagi individu yang sudah mengalami kecemasan, doomscrolling dapat memperkuat siklus kekhawatiran. Seseorang mungkin memeriksa pembaruan karena merasa tidak yakin, merasa lebih terinformasi untuk sementara waktu, kemudian menghadapi kekhawatiran baru yang meningkatkan keinginan untuk terus menggulir.

Asosiasi Psikologi Amerika telah melaporkan bahwa paparan terus-menerus terhadap berita yang menegangkan dapat berkontribusi pada perasaan cemas dan kelelahan emosional, terutama ketika orang merasa memiliki sedikit kendali atas peristiwa yang mereka ikuti.

Para profesional kesehatan mental merekomendasikan untuk menetapkan batasan seputar konsumsi digital daripada sepenuhnya menghindari berita atau media sosial.

Strategi dapat mencakup: Menetapkan waktu tertentu untuk memeriksa pembaruan berita, menghindari konten yang menyedihkan sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak perlu, mengikuti sumber yang dapat diandalkan daripada berulang kali mencari pembaruan, beristirahat secara teratur dari layar, serta mengganti aktivitas menggulir dengan kegiatan yang mengurangi stres, seperti berolahraga atau menghabiskan waktu bersama orang lain.

Para ahli mengatakan bahwa tetap terinformasi bukanlah hal yang berbahaya. Masalahnya terjadi ketika konsumsi informasi menjadi sumber tekanan yang berkelanjutan.

Karena media sosial terus membentuk cara orang mengalami dunia, para peneliti masih mempelajari efek jangka panjang dari paparan digital yang konstan. Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa cara orang mengonsumsi informasi mungkin sama pentingnya dengan informasi itu sendiri, demikian ulasan Medical Daily. (BS)