Berandasehat.id – Selama ini, ciri-ciri kepribadian sering dianggap sebagai sesuatu yang permanen dan tidak berubah, banyak orang meyakini bahwa perubahan tersebut berhenti saat seseorang beranjak dewasa. Namun, sebuah studi terbaru menantang anggapan umum ini dengan menunjukkan bahwa kepribadian sebenarnya mengalami perubahan yang jauh lebih besar daripada yang disadari kebanyakan orang.

Pada tahap awal studi, para peneliti menyurvei 887 penduduk Amerika Serikat yang menilai lima ciri kepribadian utama—ekstroversi, keramahan/kemudahan bersepakat, kesadaran/ketelitian, neurotisisme/ketidakstabilan emosi, dan keterbukaan, sebagai karakteristik yang paling stabil dalam hidup seseorang.

Analisis lanjutan terhadap data dari delapan kumpulan data longitudinal berskala besar—yang melibatkan 166.971 individu di Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan Belanda—menunjukkan hasil yang berbeda.

Analisis tersebut mengungkap bahwa kelima ciri kepribadian utama ini berubah sama besarnya dengan faktor-faktor kehidupan lainnya, baik dari tahun ke tahun maupun sepanjang hayat. Sebagai contoh, ketelitian/conscientiousness, yaitu kecenderungan untuk bersikap cermat, tekun, dan bertanggung jawab—tidaklah sama antara saat seseorang masih remaja dan saat mereka berusia 90 tahun.

Dalam banyak kasus, perubahan ini setara atau bahkan lebih besar daripada perubahan pada aspek-aspek yang kita anggap lebih fleksibel, seperti kepuasan hidup, pendapatan, atau kesehatan.

Orang-orang cenderung meremehkan seberapa besar perubahan ciri-ciri kepribadian utama ini seiring berjalannya waktu; perkiraan mereka keliru dalam 90% kasus terkait perubahan tahunan dan 100% kasus terkait perubahan sepanjang hayat, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Psychology.

Dalam waktu lama, baik masyarakat umum maupun banyak psikolog meyakini bahwa ciri-ciri kepribadian bersifat permanen, sangat stabil, sebagian besar diwariskan secara genetik, dan kecil kemungkinannya untuk berubah secara signifikan setelah masa kanak-kanak berakhir.

Keyakinan ini begitu mengakar hingga bahasa sehari-hari pun dipenuhi ungkapan seperti tetaplah menjadi diri sendiri, yang mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki esensi batin yang tetap dan tidak berubah.

Bahkan orang-orang yang secara aktif berupaya memperbaiki diri cenderung memandang usaha mereka dengan cara pandang serupa.

Alih-alih melihat perubahan sebagai pergeseran nyata dalam jati diri mereka, mereka menggambarkannya sebagai upaya menyingkap jati diri yang sesungguhnya atau sekadar meninggalkan kebiasaan buruk, bukan benar-benar menjadi sosok yang berbeda.

Penelitian selama beberapa dekade telah mematahkan gagasan tersebut, namun dua pertanyaan masih belum terjawab: Seberapa besar sebenarnya perubahan ciri-ciri kepribadian dibandingkan dengan aspek kehidupan lainnya, dan apakah keyakinan orang mengenai perubahan tersebut sesuai dengan kenyataan?

Para peneliti menggunakan pendekatan dua tahap untuk membandingkan keyakinan masyarakat mengenai perubahan kepribadian dengan apa yang sebenarnya terjadi sepanjang hayat.

Pertama, mereka merekrut 887 orang dewasa dari seluruh Amerika Serikat dan memberikan daftar berisi 25 karakteristik berbeda, termasuk lima sifat kepribadian utama serta 20 variabel lain seperti pendapatan, kesehatan fisik, harga diri, dan frekuensi bersosialisasi.

Para peserta diminta menilai seberapa besar perubahan yang menurut mereka terjadi pada setiap karakteristik tersebut—rata-rata—antara usia 15 hingga 90 tahun. Skala penilaian berkisar dari “tidak ada perubahan sama sekali” (0) hingga “perubahan besar” (11).

Selanjutnya, mereka menganalisis data kepribadian berskala besar yang sudah ada, dengan memanfaatkan delapan studi longitudinal berskala besar dari empat negara berbeda yang memantau individu yang sama selama bertahun-tahun untuk melihat bagaimana kepribadian sebenarnya berkembang dari waktu ke waktu.

Untuk memisahkan perubahan kepribadian yang nyata dari gangguan statistik, peneliti menggunakan model matematika yang disebut Hierarchical Age-Period-Cohort Cross-Classified Random Effect Models (HAPC-CCREM).

Metode ini memungkinkan mereka mengukur perubahan melalui dua cara berbeda: perubahan bersih, mencakup pergeseran keseluruhan sifat kepribadian dari usia 15 hingga 90 tahun; dan perubahan kumulatif, yang memperhitungkan setiap naik-turunnya sifat tersebut sepanjang perjalanan waktu, bahkan bagi individu yang pada akhirnya kembali ke titik awal.

Meskipun masyarakat menilai lima sifat utama kepribadian memiliki tingkat perubahan rendah pada skala 11 poin tersebut, kenyataannya sifat-sifat ini jauh dari kata statis atau tidak berubah di masa dewasa, dan justru terus berkembang secara signifikan sepanjang hidup seseorang.

Dari 32 variabel kehidupan yang diukur, ekstraversi dan keterbukaan termasuk dalam 10 besar variabel yang mengalami penurunan keseluruhan terbesar sepanjang hayat. Adapun sifat teliti/hati-hati menempati peringkat kelima dalam hal total perubahan di antara ke-32 variabel tersebut, menjadikannya salah satu aspek paling dinamis dalam kehidupan seseorang.

Kesenjangan antara persepsi publik dan kenyataan ternyata sangat besar. Orang-orang cukup akurat dalam memprediksi perubahan pada aspek kehidupan lainnya; mereka hanya meremehkan pergeseran kesehatan mereka sendiri dalam kisaran 29% hingga 43% kasus. Namun, terkait sifat kepribadian, mereka selalu meremehkan total perubahan yang terjadi (100% kasus).

Temuan ini menantang gagasan umum bahwa “memang begini adanya diri saya” dan menawarkan pesan yang lebih realistis bahwa seseorang dapat berubah seiring waktu, meskipun biasanya perubahan tersebut terjadi secara bertahap.

Namun, para peneliti mencatat bahwa studi tersebut berfokus pada perubahan rata-rata di kalangan kelompok besar, sehingga tidak menangkap bagaimana perubahan sebenarnya terjadi pada tingkat individu.

Menggabungkan pendekatan gambaran besar dengan pendekatan tingkat individu akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perubahan yang dipersepsikan versus perubahan yang sebenarnya terjadi sepanjang hayat, demikian MedicalXpress. (BS)