Berandasehat.id – Kebutuhan terhadap layanan uro-nefrologi yang berkualitas semakin mendesak. Lebih dari 33,4 juta masyarakat Indonesia diperkirakan hidup dengan penyakit ginjal kronis (PGK), yang kini menjadi penyebab kematian ke-10 di Indonesia dengan lebih dari 42.000 kematian setiap tahun.

Tanpa deteksi dini dan penanganan yang optimal, sebagian pasien akan berkembang menjadi Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) yang memerlukan terapi pengganti ginjal, termasuk transplantasi ginjal.

Sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat layanan penyakit katastropik, penguatan kapabilitas layanan uro-nefrologi melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, pemanfaatan teknologi medis terkini, serta kolaborasi multidisiplin menjadi semakin penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan berstandar global di dalam negeri serta meningkatkan hasil perawatan pasien.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, Siloam Hospitals Asri terus membangun kapabilitas transplantasi ginjal dan layanan uro-nefrologi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat rujukan nasional melalui pengembangan diagnosis presisi, bedah robotik, transplantasi ginjal, serta model layanan terintegrasi yang berorientasi pada kualitas hasil perawatan pasien.

Hingga Juni 2026, Siloam Hospitals Asri telah melakukan lebih dari 533 transplantasi ginjal dengan tingkat kelangsungan hidup pasien satu tahun sebesar 98,1% dan tingkat kelangsungan hidup cangkok sebesar 96,7%, melampaui benchmark European Renal Association.

Menurut Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), Dokter Spesialis Urologi, Konsultan Urologi Transplantasi pencapaian itu karena di Indonesia belum ada cadaveric donor (donor mati).

“Jadi bisa dibilang kalau donornya itu donor hidup, hasilnya lebih baik. Di Eropa sekarang sudah mulai hampir 50:50 (donor hidup: donor mati). Jadi kalau kita mulai, saya berharap Siloam akan memulainya,” terangnya menjawab pertanyaan Berandasehat di sela ‘The 6th Symposium on Urology, Nephrology, and Transplantation Services 2026’ di Jakarta, Sabtu (8/8).

“Dengan cadaveric, Silom mempunyai jaringan untuk bisa menyediakan cadaveric donor, misalnya orang yang sudah di ICU, mati batang otak, kalau keluarganya setuju maka bisa menjadi donor.”

Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K) dan Grace Frelita (dok. Berandasehat)

Dia mengakui efikasi cangkok ginjal antara yang donor hidup dengan donor mati masih lebih baik donor hidup. “Karena semua dicocokin dari awal, segala macam persiapannya juga lebih baik,” ujar Dokter Spesialis Urologi, Konsultan Urologi Transplantasi yang berpraktik di Siloam Hospitals Asri.

Lebih lanjut Prof. Nur Rasyid menyampaikan, untuk donor jenazah lebih baik diambil secepatnya. “Kita harus ambil hari itu juga. Meskipun sekarang bisa kita 4 jam kemudian baru transplant ke orangnya. Siloam Asri sudah siap untuk move ke cadaveric donor. Tinggal nanti kita lengkapi prosesnya sehingga itu bisa terlaksana di Indonesia.,” tandasnya.

Terkait faktor kecocokan donor dan resipien (penerima) menjadi hal penting. “Kecocokan dilihat mulai dari golongan darah. Ada namanya pemeriksaan HLA Typing. Ini di Siloam sudah dikerjakan mandiri. Jadi pasien datang ke Siloam, nggak ada lagi yang barangnya dikirim-kirim ke luar. Semua proses dikerjakan di Siloam Asri sampai siap,” beber Prof. Nur Rasyid.

HLA Typing adalah tes lab untuk cek jenis protein Human Leukocyte Antigen (HLA) di permukaan sel. Protein ini membantu sistem imun bedakan sel tubuh sendiri dan sel asing. Tes ini penting untuk tahu kecocokan donor dan pasien saat cangkok organ atau sumsum tulang.

Dalam cangkok ginjal, nomor satu adalah kecocokan. “Kecocokan itu kalau di dunia yang paling cocok adalah kembaj identik, jadi satu telur membelah jadi dua. Tapi ini jumlahnya nggak banyak,” ulas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasangan suami istri bisa menjadi donor ginjal. “Nggak ada hubungan darah, tapi bisa dilakukan, bahkan meskipun golongan darahnya beda. Jadi donor bisa berasal dari keluarga yang golongan darahnya beda. Di Siloam Asri sudah pernah dikerjakan (cangkok ginjal) yang golongan darahnya beda,” bebernya.

Usia harapan hidup pasien cangkok ginjal di Indonesia bisa dibilang menggembirakan. “Kalau bicara di Indonesia, saya pernah ketemu sudah 40 tahun dia masih hidup,” ujarnya.

Prof. Nur Rasyid menekankan, masa depan layanan uro-nefrologi tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan suatu tindakan medis seorang dokter, tetapi kemampuan menghadirkan layanan yang terintegrasi mulai diagnosis deteksi dini, tata laksana penyakit, pembedahan presisi serta program pemantauan jangka panjang oleh tim dokter subspesialis berpengalaman. “Pendekatan ini memberikan pasien penanganan yang optimal sehingga diperoleh hasil yang lebih baik,” tandasnya.

Kesempatan sama, Grace Frelita, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals mengungkap, berkat dukungan diagnosis presisi, teknologi bedah robotik Da Vinci Xi, dan kolaborasi multidisiplin yang terintegrasi, Siloam Hospitals Asri menjadi rumah sakit pertama yang melakukan transplantasi ginjal berbantuan robotik serta Robotic-Assisted Living Donor Nephrectomy (RALDN) di Indonesia dan Asia Tenggara.

Sebagai salah satu pusat rujukan transplantasi ginjal dan uro-nefrologi di Indonesia, Siloam Hospitals Asri mengembangkan model layanan yang terintegrasi dengan melibatkan tim multidisiplin sejak tahap evaluasi pra-transplantasi, tindakan operasi, hingga pemantauan pasca-transplantasi.

“Pendekatan ini memungkinkan pasien memperoleh perawatan yang lebih komprehensif, terkoordinasi, dan berkesinambungan, sekaligus mendukung hasil klinis yang lebih optimal pada setiap tahap perjalanan perawatan,” tandas Grace.

Siloam Hospitals Asri akan terus memperkuat Center of Excellence di bidang transplantasi ginjal dan layanan uro-nefrologi melalui inovasi klinis, kolaborasi multidisiplin, pendidikan berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi medis terkini.

“Melalui komitmen ini Siloam Hospitals Asri ingin memastikan semakin banyak masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan berstandar global dengan hasil klinis terbaik, tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri,” pungkasnya. (BS)