Berandasehat.id – Minuman mengandung gula tampaknya sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Sekitar 65% orang dewasa di AS diperkirakan mengonsumsi satu atau lebih minuman dengan pemanis gula setiap hari yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang.
Peneliti dari Mass General Brigham Cancer Institute menemukan bahwa konsumsi harian minuman ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung, sementara minuman dengan pemanis buatan tidak menunjukkan kaitan dengan peningkatan risiko tersebut, menurut hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances.
Studi sebelumnya telah mengaitkan minuman bergula dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, payudara, dan hati, namun bukti mengenai kanker lambung masih terbatas.
Studi ini menganalisis data dari 112.284 peserta dalam Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Kedua studi tersebut mengumpulkan informasi rinci mengenai pola makan, gaya hidup, dan kesehatan orang dewasa di AS selama beberapa dekade.
Selama periode pemantauan yang berlangsung selama puluhan tahun tersebut, 278 peserta menderita kanker lambung.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman dengan pemanis gula dan kanker lambung pada populasi AS,” ujar penulis senior Andrew T. Chan, MD, MPH, ahli gastroenterologi dan epidemiologi di Mass General Brigham Cancer Institute.
“Kanker lambung merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor lima di dunia, namun kita masih sangat sedikit mengetahui bagaimana pola makan dapat berkontribusi terhadap kanker ini.”
Setelah memperhitungkan faktor risiko potensial lainnya, peserta yang mengonsumsi setidaknya satu porsi minuman dengan pemanis gula per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan. Hubungan ini teramati baik pada wanita maupun pria.
Total asupan fruktosa yang lebih tinggi (fruktosa adalah pemanis utama dalam minuman ini) juga dikaitkan dengan insiden kanker lambung yang lebih tinggi.
Di kalangan wanita peserta Nurses’ Health Study, konsumsi lebih dari satu minuman jenis ini per hari dikaitkan dengan risiko kanker lambung 3,04 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang sangat jarang mengonsumsi minuman dengan pemanis gula.
Sebaliknya, setelah mengontrol faktor-faktor lain, konsumsi minuman dengan pemanis buatan yang lebih tinggi tidak dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker lambung.
Para peneliti mendefinisikan minuman dengan pemanis gula sebagai minuman berkarbonasi, punch, limun, dan minuman olahraga, sedangkan minuman dengan pemanis buatan didefinisikan sebagai minuman berkarbonasi rendah kalori.
Mengingat infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) meningkatkan risiko kanker lambung, para peneliti juga menilai status bakteri tersebut pada sebagian kelompok yang terdiri dari 940 peserta.
Meskipun sedikit lebih dari sepertiga peserta menunjukkan tanda-tanda infeksi H. pylori, tidak ditemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman manis dengan infeksi tersebut.
Keterbatasan penelitian ini mencakup desainnya yang bersifat observasional. Ada kemungkinan bahwa tingkat kanker lambung yang lebih tinggi pada orang yang lebih banyak mengonsumsi minuman manis berkaitan dengan faktor-faktor lain.
Penelitian ini memiliki informasi yang terbatas mengenai status H. pylori dan riwayat keluarga terkait kanker lambung.
Selain itu, sebagian besar peserta berkulit putih, sehingga membatasi kemampuan peneliti untuk mengamati perbedaan antar-kelompok ras dan etnis.
Namun, besarnya populasi penelitian serta informasi rinci mengenai kesehatan dan gaya hidup yang dikumpulkan selama bertahun-tahun memungkinkan peneliti untuk mengendalikan berbagai faktor risiko potensial lainnya bagi kanker lambung.
Para peneliti menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini dan menyelidiki mengapa minuman tersebut dapat meningkatkan risiko kanker lambung, demikian ulasan MedicalXpress. (BS)