Berandasehat.id – Penggunaan melatonin, suplemen tidur yang banyak digunakan dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami gagal jantung, rawat inap akibat gagal jantung, dan kematian akibat berbagai penyebab pada penderita insomnia kronis.

Hal yang cukup mengejutkan ini terungkap dalam penelitian awal yang dipresentasikan pada acara Scientific Sessions 2025 American Heart Association.

Temuan ini tidak membuktikan bahwa melatonin itu sendiri yang menyebabkan peningkatan risiko tersebut. Namun, tak ayal hal ini memunculkan pertanyaan baru mengenai keamanan jangka panjang suplemen yang oleh banyak orang dianggap sebagai cara yang aman atau bahkan diklaim alami untuk memperbaiki kualitas tidur.

Melatonin adalah hormon yang diproduksi secara alami oleh kelenjar pineal di otak. Hormon ini membantu mengatur siklus tidur dan bangun tubuh, yang juga dikenal sebagai irama sirkadian.

Kadar hormon ini biasanya meningkat saat hari mulai gelap dan menurun pada siang hari.

Melatonin sintetis memiliki struktur kimia yang sama persis dengan hormon yang diproduksi tubuh.

Suplemen ini umum digunakan untuk mengatasi insomnia (kesulitan untuk mulai tidur dan/atau mempertahankan tidur) serta jet lag.

Suplemen melatonin tersedia secara bebas (tanpa resep dokter) di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Ilustrasi suplemen melatonin

Di AS, suplemen yang dijual bebas tidak diatur secara ketat, sehingga setiap merek suplemen bisa memiliki perbedaan dalam hal dosis, kemurnian, dan sebagainya.

Dalam itu, para peneliti mengelompokkan partisipan berdasarkan catatan penggunaan melatonin mereka. Orang-orang yang memiliki catatan penggunaan melatonin setidaknya selama satu tahun dalam rekam medis elektronik dimasukkan ke dalam ‘jelompok melatonin.’

Sementara itu, mereka yang tidak memiliki catatan penggunaan melatonin sama sekali dalam rekam medisnya dimasukkan ke dalam ‘kelompok bukan melatonin.’

Suplemen melatonin mungkin tidak seaman yang selama ini diperkirakan.

“Jika penelitian kami terbukti benar, hal ini dapat memengaruhi cara dokter memberikan saran kepada pasien mengenai obat bantu tidur,” ujar Ekenedilichukwu Nnadi, M.D., penulis utama studi sekaligus dokter residen senior bidang penyakit dalam di SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn, New York.

Melatonin sering dipromosikan sebagai obat bantu tidur yang aman, namun para peneliti menyatakan bahwa bukti mengenai keamanan kardiovaskularnya saat dikonsumsi dalam jangka waktu lama masih terbatas.

Ketidakpastian tersebut mendorong tim peneliti untuk menyelidiki apakah penggunaan melatonin jangka panjang berkaitan dengan risiko gagal jantung pada orang yang telah menderita insomnia kronis.

Gagal jantung tidak berarti jantung berhenti bekerja sepenuhnya. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak mampu memompa cukup darah kaya oksigen untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Menurut data Heart Disease and Stroke Statistics tahun 2025 dari American Heart Association, kondisi ini memengaruhi sekitar 6,7 juta orang dewasa di Amerika Serikat.

Para peneliti menggunakan data dari TriNetX Global Research Network, sebuah basis data internasional berskala besar yang memuat rekam medis elektronik tanpa identitas pribadi.

Mereka meneliti rekam medis selama lima tahun milik orang dewasa penderita insomnia kronis yang tercatat menggunakan melatonin selama lebih dari satu tahun.

Para partisipan tersebut kemudian dibandingkan dengan kelompok lain yang juga menderita insomnia namun tidak memiliki catatan penggunaan melatonin.

Individu yang telah didiagnosis menderita gagal jantung atau yang pernah diresepkan obat tidur jenis lain tidak disertakan dalam penelitian ini.

Risiko gagal jantung 90% lebih tinggi

Analisis utama menemukan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok tersebut.

Di antara orang dewasa penderita insomnia, mereka yang memiliki catatan penggunaan melatonin jangka panjang (12 bulan atau lebih) memiliki risiko sekitar 90% lebih tinggi untuk mengalami gagal jantung dalam kurun waktu lima tahun berikutnya dibandingkan dengan kelompok pembanding yang tidak menggunakan melatonin.

Kasus gagal jantung terjadi pada 4,6% anggota kelompok pengguna melatonin, dibandingkan dengan 2,7% pada kelompok pembanding.

Analisis sekunder menemukan perbedaan yang bahkan lebih besar pada beberapa hasil pengamatan lainnya.

Orang-orang dalam kelompok pengguna melatonin memiliki kemungkinan hampir 3,5 kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat gagal jantung dibandingkan mereka yang berada di kelompok pembanding. Tingkat rawat inap masing-masing adalah 19,0% dan 6,6%.

Angka kematian akibat berbagai penyebab juga lebih tinggi pada kelompok dengan catatan penggunaan melatonin.

Selama periode lima tahun tersebut, 7,8% partisipan dalam kelompok pengguna melatonin meninggal dunia dibandingkan dengan 4,3% pada kelompok bukan melatonin, yang berarti risikonya hampir dua kali lebih tinggi.

“Ada peningkatan signifikan dalam dampak kesehatan yang serius, bahkan setelah memperhitungkan berbagai faktor risiko lainnya,” ujar Nnadi.

Hasil penelitian ini juga memicu kekhawatiran dari peneliti bidang tidur Marie-Pierre St-Onge, Ph.D., C.C.S.H., FAHA, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

“Saya terkejut bahwa dokter meresepkan melatonin untuk insomnia dan pasien menggunakannya selama lebih dari 365 hari, mengingat melatonin, setidaknya di AS, tidak diindikasikan untuk pengobatan insomnia,” ujarnya.

Di AS, melatonin dapat dibeli sebagai suplemen bebas (tanpa resep), dan masyarakat perlu menyadari bahwa obat ini tidak boleh dikonsumsi secara terus-menerus tanpa indikasi medis yang tepat,kata Marie-Pierre St-Onge, ketua kelompok penulis untuk pernyataan ilmiah American Heart Association tahun 2025 yang berjudul Multidimensional Sleep Health: Definitions and Implications for Cardiometabolic Health.

Pengaturan terkait melatonin berbeda-beda di setiap negara. Beberapa negara, seperti Inggris, mewajibkan resep dokter untuk melatonin, sementara negara lain, termasuk Amerika Serikat, mengizinkan pembeliannya secara bebas (tanpa resep).

Para peneliti tidak memiliki akses ke lokasi peserta karena data medis tersebut telah dihilangkan identitas pribadinya.

Penggunaan melatonin hanya terdeteksi jika tercantum dalam rekam medis elektronik. Hal ini berarti orang-orang di AS atau negara lain yang membeli melatonin secara bebas tanpa mencatatnya dalam rekam medis mereka bisa saja secara keliru diklasifikasikan sebagai bukan pengguna, demikian ulasan Science Daily. (BS)