Berandasehat.id – Obesitas bukan cuma soal kurang disiplin olahraga atau mengatur pola makan. Faktanya, secara medis obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang melibatkan genetik, neurobiologi, perilaku makan serta berbagai faktor biologis dan lingkungan, bukan sekadar masalah kemauan.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, menekankan bahwa pandangan lawas mengenai kegemukan sudah harus ditinggalkan.
“Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks,” tuturnya.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kian banyak bukti ilmiah menunjukkan obesitas adalah penyakit kronis yang bersifat multifaktorial.
Artinya, ada banyak faktor yang saling berinteraksi, mulai dari genetik, hormonal, gangguan fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, faktor psikologis seperti stres dan kurang tidur, hingga efek samping penggunaan obat-obatan tertentu.
“Karena penyebabnya sangat beragam, perjalanan setiap orang yang hidup dengan obesitas ini pasti berbeda-beda,” imbuhnya.
Lantas, mengapa berat badan sulit turun padahal sudah diet habis-habisan? “Kalau seseorang sudah mengurangi makan tapi berat badannya tidak turun, kita perlu mencari penyebabnya,” beber dr. Erwin.

Masalahnya bisa tersembunyi pada kebiasaan ngemil yang tidak disadari, atau tubuh orang tersebut memang tidak mampu mengolah zat gizi dengqn baik, sehingga kalori yang masuk justru lebih banyak ditimbun sebagai lemak. “Jadi, stop menghakimi atau menyimpulkan seseorang kurang disiplin hanya karena berat badannya sulit turun,” cetusnya.
Kapan harus ke dokter karena obesitas? “Kalau dalam dua sampai tiga bulan berat badan atau lingkar perut terus naik, itu sudah menjadi tanda bahaya awal,” ujar dr. Erwin.
Dia memgingatkan agar jangan tunggu sampai muncul gejala penyakit berat. “Mudah lelah, lutut sering nyeri saat naik tangga, bangun tidur badan tidak segar, dan aktivitas harian mulai terganggu, itulah saat yang tepat untuk mencari bantuan profesional,” imbuhnya.
Penanganan obesitas tak selalu sama
Karena kondisi setiap orang unik, penanganan obesitas tidak mengenal prinsip one size fits all.
Menurut dr. Erwin, penanganan obesitas akan dilakukan lewat evaluasi menyeluruh secara personal.
Dokter Spesialis Gizi Klinik tidak hanya bertugas menyusun menu makan, melainkan mengevaluasi penyebab pasti dari penumpukan lemak, menilai kondisi metabolik, komposisi tubuh, hingga mengecek ada atau tidaknya penyakit penyerta.
“Dari situ, dokter akan menyusun terapi gizi medis yang paling sesuai dengan tubuh setiap individu,” cetusnya.
Dia menekankan, fondasi utama untuk mengelola obesitas memang tetap pada perubahan gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres. “Namun pada kondisi tertentu, misalnya metabolisme sudah telanjur terganggu, seseorang mungkin akan membutuhkan obat-obatan medis,” lanjut dr. Erwin.
Nah, buat kalian yang sudah berusaha keras namun hasilnya belum sesuai harapan, jangan patah semangat. Lakukan konsultasi obesitas dengan dokter untuk menemukan penanganan yang akurat. (BS)