Berandasehat.id – Pepatah lama yang mengatakan bahwa orang yang memiliki kesamaan cenderung berkumpul mungkin juga berlaku saat orang dengan gangguan kejiwaan memilih pasangan.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry menyelidiki apakah pasangan orang tua cenderung memiliki kondisi kesehatan mental dan fisik yang serupa, serta bagaimana pola pemilihan pasangan ini memengaruhi risiko penyakit.

Para peneliti secara khusus mengamati assortative mating, kecenderungan untuk memilih pasangan romantis dengan karakteristik serupa, dalam kaitannya dengan gangguan kejiwaan.

Setelah memeriksa data kesehatan dan data orang tua dari lebih dari 4,2 juta orang di Denmark, mereka menemukan bahwa individu dengan gangguan kejiwaan lebih cenderung memiliki pasangan yang mengidap gangguan serupa atau kondisi terkait.

Pasangan orang tua yang sama-sama mengidap skizofrenia menunjukkan tingkat kemiripan tertinggi dibandingkan gangguan lain yang diteliti.

Orang tua dengan kondisi kejiwaan yang berbeda juga sering kali menjadi pasangan. Contoh paling nyata adalah pria dengan gangguan penggunaan zat yang berpasangan dengan wanita pengidap ADHD.

Di antara semua pola ini, kesamaan kondisi kesehatan mental antar-pasangan jauh lebih kuat dibandingkan kesamaan penyakit fisik.

Pola pemilihan pasangan ini dapat membantu menjelaskan mengapa penyakit mental bisa sangat kuat menurun dalam beberapa keluarga. Ketika individu dengan kondisi kejiwaan saling berpasangan, risiko dapat terakumulasi dalam keluarga dengan cara yang melampaui prediksi berdasarkan faktor genetik semata.

Apakah hal yang serupa cenderung saling menarik?

Untuk hal seperti tinggi badan, mudah untuk mengetahui apakah dua pasangan memiliki kemiripan; namun, terkait perilaku atau kesehatan mental, situasinya menjadi jauh lebih rumit.

Hal ini membuat fenomena assortative mating untuk karakteristik yang tidak terlihat secara fisik, seperti kondisi kesehatan mental, sulit untuk dipastikan.

Karena peneliti tidak dapat mengukur secara langsung apa yang dicari seseorang dalam diri pasangannya, mereka menggunakan kemiripan fenotipe sebagai indikator pengganti, dengan mengamati seberapa mirip pasangan tersebut dalam hal karakteristik fisik, sosial, atau medis yang dapat diamati.

Penelitian sebelumnya mengenai assortative mating pada gangguan kesehatan mental memiliki kendala terkait data.

Studi-studi tersebut mengandalkan sampel kecil dari rumah sakit atau sukarelawan yang mengajukan diri, sehingga hasilnya sering kali mengandung bias sukarelawan yang sehat dan tidak mencerminkan populasi umum.

Dalam studi berskala besar, peneliti sering kali gagal memperhitungkan komorbiditas psikiatris, yaitu kondisi ketika seseorang mengidap lebih dari satu gangguan secara bersamaan.

Akibatnya, para ilmuwan bisa saja salah menafsirkan diagnosis yang tumpang tindih pada satu individu sebagai bukti bahwa pasangan saling memilih berdasarkan gangguan yang berbeda.

Dalam studi ini, para peneliti mengatasi masalah tersebut dengan menyusun kumpulan data yang besar dan representatif, serta membandingkan keluarga nyata dengan skenario simulasi di mana pasangan dipilih secara sepenuhnya acak.

Mereka menggunakan data registri kesehatan dan populasi nasional Denmark, serta menghubungkan catatan dari Sistem Registri Sipil, Registri Pasien Nasional, dan Registri Penelitian Pusat Psikiatri.

Dari catatan tersebut, mereka mengidentifikasi 549.541 pasangan orang tua dan 822.209 anak, termasuk 513.259 trio ibu-ayah-anak yang dapat diteliti bersama.

Untuk mengukur tingkat kemiripan antar pasangan, para peneliti menghitung korelasi antara ibu dan ayah untuk setiap kondisi kesehatan. Mereka membandingkan pasangan yang memiliki kondisi sama dengan pasangan yang memiliki kondisi berbeda, sembari mengontrol faktor diagnosis yang tumpang tindih.

Tim peneliti juga mengulangi analisis tersebut dalam simulasi di mana pasangan dipasangkan secara sepenuhnya acak.

Para peneliti mempertahankan data ibu yang asli namun mengganti setiap ayah dengan ‘ayah buatan’ yakni pria sungguhan yang dipilih secara acak dari kelompok pria yang memiliki usia dan tempat kelahiran yang sama dengan ayah asli tersebut.

Setiap pasangan buatan kemudian dipasangkan dengan anak simulasi yang usianya disesuaikan dengan usia anak yang sebenarnya.

Dengan menggunakan data risiko populasi yang disebut fungsi insidensi kumulatif (CIF), mereka menghitung peluang anak mengalami suatu kondisi kesehatan berdasarkan status orang tuanya: apakah tidak ada satu pun, salah satu, atau kedua orang tua yang memiliki kondisi tersebut.

Selanjutnya, para peneliti membandingkan statistik kesehatan Denmark yang sebenarnya dengan rata-rata hasil dari 1.000 simulasi populasi dengan pemasangan pasangan secara acak.

Hasil studi mengungkap pasangan cenderung memiliki kesamaan dalam hal gangguan kejiwaan jauh melebihi kemungkinan yang terjadi secara acak, dengan korelasi keseluruhan sebesar r = 0,28.

Skizofrenia menempati urutan teratas, diikuti oleh ADHD, gangguan spektrum autisme (ASD), dan gangguan penggunaan zat (SUD).

Pemasangan pasangan dengan gangguan yang berbeda (lintas gangguan) paling sering terjadi ketika salah satu pasangan sudah memiliki gangguan yang cenderung memiliki tingkat kesamaan tinggi pada pasangan dengan kondisi serupa, seperti skizofrenia.

Data tersebut juga mengungkap bahwa, dibandingkan dengan simulasi pemasangan pasangan secara acak, pasangan di dunia nyata menunjukkan tingkat gangguan kejiwaan yang lebih tinggi dan mewariskan risiko yang lebih besar kepada anak-anak mereka.

Pemilihan pasangan yang tidak acak meningkatkan prevalensi keseluruhan gangguan kejiwaan sebesar 1,8% dan meningkatkan heritabilitas berbasis keluarga, yakni risiko yang diwariskan kepada anak, sebesar 12,5%.

Ketika pola ini terjadi pada seluruh populasi dari generasi ke generasi, dampaknya tidak lagi terbatas pada ranah pribadi.

Hal ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang secara diam-diam meningkatkan prevalensi keseluruhan gangguan jiwa.

Jika temuan ini terjadi pada populasi yang berbeda, layanan kesehatan mental dapat menggunakan informasi yang dikumpulkan dari gangguan kejiwaan dalam keluarga untuk mengidentifikasi rumah tangga yang berisiko lebih awal dan merancang program pencegahan dan dukungan yang lebih tepat sasaran, demikian ulasan Science x Network. (BS)