Berandasehat.id – Hipertensi kerap mendapat julukan ‘pembunuh senyap’ karena kerap datang tanpa gejala. Banyak orang mungkin mengidap tekanan darah tinggi tanpa tahu memiliki kondisi tersebut karena tidak permah melalukan pengukuran.
Padahal hipertensi merupakan persoalan serius. Penyakit ini menjadi faktor risiko penyebab kematian tertinggi keempat di Indonesia dengan persentase 10,2 persen.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyebut hipertensi menjadi penyumbang utama penyakit tidak menular penyebab disabilitas, seperti gangguan pengelihatan, pendengaran atau berjalan sebesar 22,2 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas.
Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi jika hasil pengukuran tensi mencapai 130/80 mmHg atau lebih (tekanan normal sama atau di bawah 120/80 mmHg). Adapun jika angka menunjukkan di atas 180/120 mmHg, itu masuk tahapan krisis hipertensi yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
Faktanya, semua orang dapat mengukur tekanan darah mandiri di rumah, tak harus datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Dengan pengukuran tekanan mandiri secara berkala di rumah, kita akan tahu angka tekanan darah dan bisa mengambil tindakan preventif jika menunjukkan tanda angkanya meningkat.
Menjawab kebutuhan ini, Beurer, perusahaan asal Jerman yang telah lebih dari satu abad bergerak di bidang kesehatan dan wellness, memperkenalkan alat pengukur tekanan darah terbaru, Beurer BM 21 di acara Indonesia International Hospital Expo 2026 di ICE BSD City, Tangerang, yang berlangsung 7-10 Oktober 2026.

“Beurer BM 21 adalah perangkat pemantauan tekanan darah yang dirancang untuk penggunaan praktis, termasuk di lingkungan rumah tangga. Diproduksi di pabrik Beurer di Kendal (Jawa Tengah), peluncuran produk ini menandai penguatan komitmen Beurer terhadap pengembangan produksi alat kesehatan di Indonesia,” terang Managing Director Beurer Healthcare and Wellbeing Indonesia, Aria Verdin di sela acara Indonesia International Hospital Expo 2026 di ICE BSD, Rabu (7/10).
Aria menekankan, peluncuran BM 21 menjadi salah satu tonggak penting bagi perusahaan karena produk tersebut diproduksi di Indonesia dengan mengacu pada teknologi dan standar Beurer sebagai perusahaan asal Jerman. “BM 21 merupakan milestone karena menghadirkan produk yang diproduksi di Indonesia dengan standar Jerman,” tuturnya.
BM 21 diproduksi di fasilitas PT Beurer Indonesia Technology yang berlokasi di Kendal, Jawa Tengah. “Proses produksinya melibatkan tenaga kerja lokal dari tingkat operator hingga jajaran manajemen. BM 21 merupakan produk proudly made in Indonesia. Ini menjadi bukti komitmen Beurer untuk terus mengembangkan kemampuan produksi di Indonesia,” imbuh Direktur Beurer Indonesia Technology, Akhmad Darsono.
Dengan kapasitas produksi lokal lebih dari satu juta unit per tahun, Beurer melihat Indonesia sebagai pasar penting sekaligus basis pengembangan produksi. “BM 21 ditujukan untuk menjangkau rumah tangga, fasilitas kesehatan, apotek, toko alat kesehatan, sektor swasta, hingga institusi pemerintah,” terang Akhmad.
Mudah digunakan, hasil akurat
Tensimeter BM 21 dirancang sederhana, mudah digunakan orang awam dengan pengoperasian melalui satu tombol dan layar yang mudah dibaca. Perangkat ini dapat menggunakan baterai maupun sumber daya melalui USB Type-C sehingga dapat digunakan di rumah maupun saat bepergian.
BM 21 juga dilengkapi sejumlah fitur untuk membantu proses pemantauan tekanan darah. “Salah satunya adalah indikator deteksi aritmia yang memberikan tanda apabila perangkat menemukan adanya ketidakteraturan denyut jantung selama pengukuran,” ujar Head of Marketing Beurer Healthcare and Wellbeing Indonesia, Intan Wardhatun.
Perangkat tensimeter ini disematkan indikator berbasis zona warna yang membantu pengguna memahami hasil pengukuran secara lebih sederhana. Hijau berarti tekanan darah normal, kuning intensif dan merah perlu mendapat perhatian.
Untuk meminimalkan kesalahan selama penggunaan, perangkat ini juga memiliki fitur yang membantu memastikan posisi tubuh dan lengan pengguna berada dalam kondisi yang sesuai saat pengukuran. “Ini penting karena posisi tubuh, kondisi pengguna, serta teknik pengukuran dapat memengaruhi hasil tekanan darah,” beber Intan.

Tak kalah penting, Beurer juga menghadirkan dukungan digital melalui aplikasi Beurer HealthManager Pro. Hasil pengukuran dapat dicatat, dipantau perkembangannya, serta diekspor sehingga dapat menjadi informasi tambahan ketika pengguna berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Jadi ada rekam jejaknya, bukan hanya single data. Pengguna dapat melihat tren hasil pengukuran tekanan darah yang berguna saat konsultasi ke dokter,” imbuh Akhmad.
Bukan hanya memproduksi alat kesehatan, Beurer aktif melakukan edukasi mengenai hipertensi bersama tenaga medis dan komunitas. Salah satunya melalui kegiatan pemeriksaan tekanan darah gratis yang melibatkan sekitar 70 dokter dengan sekitar 1.000 pemeriksaan.
“Sejauh ini kami telah bekerja sama dengan Indonesia Society of Hypertension (InaSH). Di hari World Hypertension Day, kami lakukan kegiatan bersama InaSH, berupa pengukuran tensi gratis di daerah CFD Sudirman. Ada sekitar 70 dokter di sana yang in charge. Para pelari atau pegiat olahraga di CFD itu datang ke booth Beurer untuk melakukan pengukuran tekanan darah,” ujar Intan.
Melalui BM 21 yang praktis dan mudah digunakan diharapkan masyarakat tidak hanya melakukan pemeriksaan ketika muncul keluhan. Pasalnya, pemantauan tekanan darah secara berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi kesehatannya dan menjadi informasi awal untuk berkonsultasi dengan tenaga medis apabila hasil pengukuran menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian. (BS)