Berandasehat.id – Kekuatan ekonomi dan ketahanan pangan suatu negara tidak terlepas dari kekuatan industri pangannya. Pasalnya, industri pangan yang kuat diperlukan agar suatu negara mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi dalam jangka panjang.
“Tidak ada negara yang kuat tanpa adanya industri pangan yang kuat. Juga tidak ada negara bisa berkelanjutan tanpa ada industri pangan yang berkelanjutan juga,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di acara Simposium Pangan Nasional 2026 mengusung tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” dalam rangka perayaan 20 tahun Program Indofood Riset Nugraha (IRN) di Indofood Tower Jakarta, Kamis (8/10).
Dalam sambutannya, Kepala Bappenas menyampaikan apresiasi atas Simposium Pangan Nasional yang dilakukan di Kantor Indofood. “Saya sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional hadir di acara ini karena merasakan bahwa ini adalah suatu hal yang penting, yang tidak hanya dihadiri dan dibahas oleh pejabat pemerintah, tidak hanya dibahas oleh para Menko, para menteri, tapi juga dibahas oleh pemerintah daerah, termasuk perguruan tinggi, dan juga kali ini dibahas oleh industri pangan kita,” tuturnya.
Rachmat menekankan bahwa pangan bukan hanya soal nutrisi, namun juga soal harga. Dia mencontohkan, 50 tahun lalu, harga pangan mahal tapi petani langsung mendapat manfaat. Saat ini, ketika harga pangan mahal, hal itu menjadi beban bagi petani karena dia tidak bisa mencukupinya untuk keluarga.
“Inilah yang menyebabkan kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan dasar pangan kita,” ujarnya. “Saya berharap simposium seperti ini bisa turut menyelesaikan persoalan-persoalan pangan kita.”
Lebih lanjut dikatakan, tata kelola pangan tidak boleh lagi dipandang secara sempit. “Tidak boleh sekadar urusan angka produksi, luas lahan, ketersediaan stok semata. Lebih luas dari itu, pangan adalah investasi strategis juga,” bebernya.

Selanjutnya, Kepala Bappenas menyoroti perubahan iklim yang berdampak pada sistem pangan. “Yang paling menarik adalah ada persoalan global climate change. Ada persoalan panas Bumi yang meningkat, perubahan iklim yang menyebabkan pangan juga berubah, mulai dari pola produksinya sampai konsumsi dan seterusnya. Ini juga yang menyebabkan apa yang dinamakan triple planetary crisis, yang akhirnya menyebabkan di dalam sistem pangan kita, terutama adanya ketimpangan konsumsi,” cetusnya.
Dia mendorong semua pihak mencari formula agar persoalan-persoalan pangan bisa terselesaikan. “Sudah lama Indonesia mengalami double burden, di mana ada di satu sisi kekurangan pangan (stunting, underweight), tapi di sisi yang lain overweight. Nah, persoalan ini harus kita selesaikan,” lanjut Menteri PPN.
Rachmat berharap Indonesia memiliki teknologi untuk pangan dan gizi berkelanjutan, supaya dari sisi hulu bisa teratasi, dari sisi produksi bisa terselesaikan, dari sisi konsumsi bisa juga berkelanjutan.
“Dalam konteks ini maka kita berharap BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah daerah juga tidak bosan-bosannya meneliti. Tidak selalu penelitian itu mahal. Tidak selalu penelitian itu harus spektakuler. Ada penelitian-penelitian sederhana yang bisa kita gunakan sebagai bagian dari peningkatan ke depan,” ujarnya.
“Karena itu, sekali lagi saya juga sangat mengapresiasi upaya Indofood Riset Nugraha yang setiap tahun melakukan program ini. Mohon juga program ini tidak hanya seperti halnya di perguruan tinggi menjadi tesis, menjadi disertasi berhenti di situ, tapi syukur bisa jadi industri,” tandasnya.
Komitmen dukung peneliti muda dan potensi pangan Indonesia
Menginjak 20 tahun gelaran Indofood Riset Nugraha (IRN), PT Indofood Sukses Makmur Tbk menegaskan komitmennya dalam mendukung generasi peneliti muda dan pengembangan potensi pangan Indonesia.
“Dua puluh tahun perjalanan Indofood Riset Nugraha merupakan wujud konsistensi Indofood dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi, memperkuat kemampuan ilmiah, dan mengembangkan kekayaan pangan lokal menjadi gagasan inovasi yang relevan bagi masyarakat,” ujar Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
Kali ini juga digelar Simposium Pangan Nasional, sebuah ruang diskusi yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kekayaan sumber daya pangan serta kearifan lokal guna mengembangkan solusi pangan bagi masa depan.

Diskusi dipandu salah satu tim pakar IRN, Prof. Fenny Martha Dwivany menghadirkan Dyan Garneta Paramita Sari dari Kementerian Perindustrian RI, yang mengupas kebijakan pengembangan industri pangan fungsional yang berdaya saing dan berbasis bahan baku lokal; perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI, untuk membahas peran pangan fungsional dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan penyakit tidak menular, serta perwakilan BPOM RI, mengulas persyaratan keamanan, mutu, pelabelan, dan klaim dalam pengembangan pangan fungsional.
Pembahasan turut diperkaya oleh perspektif akademisi dan praktisi, termasuk dr. Widjaja Lukito, Prof. Bustanul Arifin, Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia) Adhi S. Lukman, Prof. Purwiyatno Hariyadi, serta perwakilan Indofood, Winarti TK.
Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Purwiyatno Hariyadi menyampaikan, pengembangan pangan fungsional memerlukan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan ketentuan regulasi.
“Melalui simposium ini, kami berharap para peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai proses pengembangan inovasi, termasuk pentingnya bukti ilmiah, keamanan, mutu, dan ketepatan klaim, agar potensi pangan lokal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab,” tuturnya.
Lebih lanjut Prof. Purwiyatno mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan yang beragam, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga rempah-rempah serta pangan fermentasi tradisional seperti tempe.
“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset ini berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” bebernya.
Melalui IRN, Indofood ingin membangun generasi peneliti muda yang kritis, kreatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga hasil riset memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi solusi pangan yang bermanfaat.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Hari Pangan Sedunia 2026, yang menempatkan inovasi dan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari upaya membangun masa depan pangan. Dalam konteks Indonesia, riset pangan lokal dapat memperluas pilihan pangan yang aman, bergizi, dan beragam, sekaligus membuka peluang penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.
83 peneliti terpilih IRN 2026-2027
Sejak dirilis pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dirintis pada 1998, Program Indofood Riset Nugraha telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi, tersebar dari Aceh hingga Papua.
Dukungan IRN meliputi bantuan dana penelitian dan pendampingan oleh tim pakar lintas disiplin ilmu. Melalui proses seleksi, bimbingan, dan penilaian hasil penelitian, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan riset, mengembangkan pola pikir kritis, serta membangun jejaring dengan akademisi dan praktisi industri.

Selama dua dekade, IRN juga telah membangun jejaring alumni yang kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, profesional, dan entrepreneur. Jejaring tersebut menjadi modal untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan mendorong lahirnya kolaborasi dalam pengembangan pangan.
Selain simposium, juga digelar kegiatan penganugerahan peneliti terbaik Program IRN 2025–2026 serta seremoni penandatanganan kerja sama dan penyerahan simbolis bantuan dana riset, sebagai tanda dimulainya pelaksanaan Program IRN periode 2026–2027.
Kali ini, 83 peneliti terpilih akan melanjutkan penelitian dengan dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN selama satu tahun ke depan.
Stefanus menambahkan, keberlanjutan program ini menjadi bagian dari komitmen Indofood untuk terus membuka kesempatan bagi mahasiswa dalam menggali potensi pangan Indonesia. “Melalui IRN dan Simposium Pangan Nasional, kami berharap kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan peneliti muda dapat semakin kuat,” cetusnya.
Dia menekankan bahwa semangat ‘Innovate today. Nourish tomorrow’ mengingatkan kita bahwa riset dan pengembangan kapasitas yang dilakukan hari ini dapat menjadi fondasi bagi inovasi pangan di masa depan. “Indofood ingin terus menjadi bagian dari perjalanan tersebut, tumbuh bersama dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat,” tandas Stefanus Indrayana. (BS)